#sastra-pembebasan# "Rahina Mabasa Bali" ---------- Mencetak Penutur Baru, Menyelamatkan Bahasa Bali.

classic Classic list List threaded Threaded
1 message Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|

#sastra-pembebasan# "Rahina Mabasa Bali" ---------- Mencetak Penutur Baru, Menyelamatkan Bahasa Bali.

adidaya08-2

Bali Post.                

Kalau bahasa Bali sampai punah, tak terbayangkan apa yang akan
terjadi dengan Bali.


            Sabtu Paing, 15 Maret 2008                
                     
                                   ''Rahina Mabasa Bali''------------
-
                  Mencetak Penutur Baru, Menyelamatkan Bahasa Bali

                  BAHASA Bali makin terpinggirkan dan seolah jadi
bahasa ''asing'' bagi manusia Bali sendiri. Posisinya sebagai bahasa
linguafranca (bahasa pergaulan sehari-hari - red) makin "terjepit"
dan mulai digantikan oleh bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya.
Bahkan, terlontar ungkapan pesimistis dari sejumlah pengamat bahasa-
bahasa etnis bahwa "napas" bahasa Bali hanya tinggal satu generasi
saja. Bahasa ibu manusia Bali ini diprediksikan mengalami kematian
permanen pada tahun 2041 mendatang lantaran gagal mencetak generasi
penutur baru.

                 
=======================================================

                  Prediksi para pakar bahasa-bahasa etnis itu, tentu
saja tidak akan pernah menjelma nyata jika segenap komponen
masyarakat punya komitmen bulat untuk menyelamatkan warisan
adiluhung leluhur manusia Bali tersebut. Mulai saat ini, komitmen
pelestarian yang disertai aksi nyata itu wajib digulirkan. Jangan
ditunda-tunda lagi. Dan, lembaga pendidikan formal atau sekolah
dinilai merupakan media yang paling efektif guna menegakkan komitmen
itu.

                  Mengapa demikian? Alasannya, di lembaga pendidikan
inilah generasi muda penerus kejayaan seni-budaya dan adat-istiadat
Bali berkumpul. Makanya, program "Rahina Mabasa Bali" yang
digulirkan SMA Dwijendra, Denpasar dan SDN 6 Dalung, Badung ini
patut didukung penuh. Meskipun hanya diberlakukan selama satu hari
setiap pekannya, paling tidak kita punya setitik harapan bahwa
program yang mewajibkan seluruh siswa menggunakan bahasa Bali ini
akan menjadi ''rahim'' yang subur bagi "kelahiran" generasi-generasi
penutur bahasa Bali baru. Andai saja kesadaran yang sama juga
ditegakkan oleh sekolah-sekolah lain di seantero Bali, maka ''mimpi
buruk'' yang menyatakan bahasa Bali akan punah di tahun 2041 tidak
akan pernah terjadi.

                  Ditemui Bali Post Jumat (14/3) kemarin, Kepala SMA
Dwijendra Denpasar Drs. I Nengah Narsa, S.H., M.Si. dan Kepala SDN 6
Dalung Drs. I Nyoman Yahya mengaku sangat mencemaskan eksistensi
bahasa Bali ke depan. Kecemasan itu makin menjadi-jadi ketika salah
seorang pemakalah pada Kongres Bahasa Bali VI lalu melontarkan
prediksi para pengamat bahasa-bahasa etnis bahwa bahasa Bali
termasuk ke dalam kategori salah satu bahasa etnis yang berada dalam
wilayah emergency. Potensial untuk mati pelan-pelan lantaran jumlah
generasi penutur aktifnya terus menyusut dari tahun ke tahun.

                  "Terus terang, saya cukup tersentak mendengar
prediksi itu. Kalau bahasa Bali sampai punah, saya tidak bisa
membayangkan apa yang akan terjadi dengan Bali ini. Bali akan
kehilangan salah satu kekayaannya yang sangat berharga," ujar Narsa
yang dibenarkan oleh Yahya.

                  Sangat "Berjarak"

                  Menurut Narsa dan Yahya, prediksi yang menyatakan
bahasa Bali tinggal satu generasi saja itu wajib disikapi secara
serius. Dikatakan, prediksi itu sejatinya lebih banyak bertujuan
untuk membuat manusia Bali jengah sehingga tergugah untuk melakukan
upaya-upaya penyelamatan secara terstruktur dan tersistematisasi.
Kendati mengaku tidak yakin seratus persen bahasa Bali
akan "terkubur" begitu cepat atau hanya dalam hitungan puluhan
tahun, namun argumentasi itu jelas bukan hal yang mengada-ada.

                  Realitanya, generasi muda Bali kini memang sudah
sangat "berjarak" dengan bahasa ibunya. Mereka tidak lagi jadi
penutur aktif dan cenderung lebih memilih menggunakan bahasa di luar
bahasa Bali dalam pergaulan kesehariannya. Jika sebuah bahasa mulai
ditinggalkan para penuturnya, itu sama artinya bahasa itu tengah
bergerak menuju gerbang kematian.

                  "Sebelum bahasa Bali benar-benar tinggal nama,
segenap komponen masyarakat Bali wajib melakukan aksi nyata untuk
melestarikannya. Sekecil dan sesederhana apa pun wujud aksi itu,
tentu saja jauh lebih baik ketimbang tidak melakukan aksi sama
sekali. Dan, kami memilih program Rahina Mabasa Bali ini sebagai
langkah awal dari upaya penyelamatan bahasa Bali tersebut," tegas
Narsa dan Yahya.

                  Narsa menambahkan, pihaknya memutuskan memilih
hari Rabu dan hari-hari suci keagamaan seperti Purnama dan Tilem
sebagai momen pelaksanaan Rahina Mabasa Bali tersebut. Kewajiban
berbahasa Bali ini tidak hanya mengikat para siswa, tetapi seluruh
guru dan pegawai SMA Dwijendra juga wajib taat dan tunduk dengan
program tersebut. Kewajiban berbahasa Bali setiap Rabu itu tidak
hanya diberlakukan pada saat jam istirahat semata, namun bahasa Bali
juga dipergunakan sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar-
mengajar. Dikatakan, melalui kegiatan ini pihaknya juga ingin
menepis anggapan bahwa bahasa Bali tidak layak dipergunakan sebagai
bahasa pengantar dalam kegiatan transfer ilmu pengetahuan.

                  "Kalau memang ada niat, saya yakin bahasa Bali
juga bisa dimanfaatkan sebagai ilmu pengetahuan. Misalnya, dalam
menyampaikan materi pelajaran matematika, fisika, kimia dan
sebagainya. Tentu saja, tidak semua istilah bisa serta merta
diterjemahkan ke dalam bahasa Bali karena memang belum ada
padanaannya dalam bahasa Bali," ujarnya sambiln menambahkan, Rabu
ditetapkan sebagai Rahina Mabasa Bali karena Rabu merupakan hari
payogan Hyang Pramesti Guru beserta para Dewata Nawasanga dalam
mewujudkan keselamatan alam beserta isinya.

                  Selama ini, katanya, Perguruan Dwijendra memang
sangat kental dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansakan seni budaya
dan adat-istiadat Bali. Ditegaskan, hal ini tidak terlepas dengan
visi-misi yang diusung Dwijendra yang bertekad mencerdaskan generasi
muda Bali tanpa harus tercerabut dari jati diri dan akar budaya
Balinya. Dalam konteks ini, pihaknya juga senantiasa mencoba
berperan aktif dalam mengajegkan adat dan budaya Bali nan adiluhung
berdasarkan sastra agama Hindu.

                  "Penguatan di bidang adat dan seni budaya Bali
serta agama Hindu itu memang telah jadi branding Perguruan Dwijendra
yang akan tetap dipertahankan sampai kapan pun. Khusus untuk SMA
Dwijendra yang saat ini berstatus Sekolah Mandiri, jati diri ke-Bali-
an itu tidak akan dihilangkan meskipun suatu saat nanti sekolah
mungkin saja dinaikkan statusnya jadi Sekolah Berstandar
Internasional," katanya lagi.

                  Narsa menambahkan, strategi, arah dan sasaran
pendidikan bahasa Bali di SMA Dwijendra sangat jelas. Seluruh siswa
diproyeksikan untuk mengenal secara baik aksara Bali legena
(Anacaraka), memahami pemakaian pengangge aksara, pasang pageh
aksara dalam konteks kruna (kata) dan kertha basa serta mampu
menerapkan lengkara lumaksana lan linaksana secara lisan dan
tertulis serta mampu menerapkan unda-usuk atau anggah-ungguhing basa.

                  "Yang lebih penting lagi, semua siswa di sini juga
harus mampu berkomunikasi dengan bahasa Bali termasuk memahami
gending, satua dan paribasa Bali," ujarnya sambil menambahkan,
Rahina Mabasa Bali yang saat ini masih dalam proses uji coba makin
diefektifkan pelaksanaan pada tahun ajaran 2008/2009 mendatang.

                  "Branding" Bali

                  Guna mengokohkan branding ke-Bali-an itu, kata
dia, kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di SMA Dwijendra pun
diprioritaskan untuk mendukung komitmen pelestarian seni budaya
Bali. Ragam ekstrakurikuler itu di antaranya nyurat aksara Bali,
seni prasi (menulis aksara/lukisan Bali di atas daun lontar-red),
pesantian, membuat peralatan/sarana upacara keagamaan dan
sebagainya. Komitmen pelestarian seni budaya Bali juga tercermin
dalam kegiatan lomba-lomba yang digelar serangkaian peringatan HUT
Perguruan Dwijendra.

                  "Jika sekolah lain cenderung lebih memilih lomba-
lomba yang trend kekinian seperti pentas musik, dance dan
sebagainya, kami merasa lebih sreg menggelar lomba pesantian,
majejahitan, pidato berbahasa Bali, dharma wacana dan sejenisnya.
Saya tidak khawatir SMA Dwijendra dicap kampungan lantaran menggelar
kegiatan-kegiatan yang kental nuansa ke-Bali-annya itu," paparnya
panjang lebar.

                  Komitmen untuk melestarikan bahasa Bali juga
dilontarkan Kepala SDN 6 Dalung Drs. I Nyoman Yahya. Pihaknya tidak
ingin komitmen itu hanya berhenti di tataran wacana semata. "Harus
ada aksi nyata untuk melestarikan bahasa Bali. Generasi muda Bali
wajib diperkenalkan dengan bahasa Bali sejak usia dini," katanya
sambil menambahkan, SDN 6 Dalung memilih Jumat untuk melaksanakan
program Rahina Mabasa Bali sejak 19 Agustus 2007 lalu.

                  Menurut Yahya, pihaknya belum mampu
mengimplementasikan Rahina Mabasa Bali secara utuh. Artinya,
kewajiban berbahasa Bali itu hanya dilaksanakan siswa saat
berkomunikasi dengan guru-guru dan teman-temannya pada jam istirahat
maupun saat proses belajar-mengajar tidak sedang berlangsung.
Sedangkan proses belajar-mengajar di ruang kelas tetap menggunakan
bahasa pengantar bahasa Indonesia.

                  "Pada hari Jumat, seluruh siswa termasuk kepala
sekolah, para guru, tukang kebun hingga orangtua siswa yang
kebetulan berkunjung ke sekolah diwajibkan berkomunikasi dengan
bahasa Bali. Kewajiban itu merupakan harga mati bagi siswa saat jam
istirahat, bermain di halaman sekolah, di kantin maupun saat berada
di ruang guru dan kepala sekolah," katanya dan menambahkan, tidak
tertutup kemungkinan kewajiban berbahasa Bali ini juga dikembangkan
pada hari-hari lainnya. * w. sumatika