#sastra-pembebasan# Situs Sejarah yang Terlupakan

classic Classic list List threaded Threaded
1 message Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|

#sastra-pembebasan# Situs Sejarah yang Terlupakan

ChanCT
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Penjara Boven Digoel

Situs Sejarah yang Terlupakan
 

 

SP/Wolas Krenak

Salah satu bagian dari situs Penjara Boven Digoel, di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua dulu dijadikan tempat tahanan bagi para pejuang kemerdekaan. Proklamator Kemerdekaan RI Drs Mohammad Hatta, ditahan dalam penjara ini bersama Ketua Club Pendidikan Nasional Sjahrir dan ribuan pejuang lainnya. Foto diambil baru-baru ini.

itus perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia tersebar di seluruh Nusantara. Sebagian cukup mendapatkan perhatian dan pemeliharaan dari pemerintah, sementara yang lainnya merana dan memprihatinkan, tidak terurus. Salah satu yang dibiarkan telantar adalah Penjara Boven Digoel (kini disebut Digul) di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

Padahal di tempat inilah, Drs Mohammad Hatta yang kemudian bersama Bung Karno memproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, diasingkan oleh pemerintahan penjajahan Belanda. Bukan hanya Hatta, Ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia, Sjahrir juga sempat dijebloskan di penjara tersebut.

Banyak kaum nasionalis pejuang kemerdekaan merasakan pahitnya kehidupan di Boven Digoel yang ketika itu dikenal dengan sebutan negeri "neraka". Di daerah yang kala itu penuh dengan nyamuk penyebar penyakit malaria, Proklamator Hatta, Sjahrir, dan pejuang kemerdekaan Indonesia sebanyak 2.233 orang, dipenjarakan.

Tercatat pula, akibat pemberontakan melawan Belanda pada tahun 1926 dan 1927 di Jakarta, sebanyak 823 pejuang dikirim ke Tanah Merah, Boven Digoel. Sjahrir eks-Digulis seperti di- kutip Pramoedya Ananta Toer dalam buku Ceritera dari Digoel, mengungkapkan, "hampir-hampir tidak dapat dipercaya namun suatu kenyataan bahwa orang- orang dalam kamp itu teraniayai tanpa disadari oleh mereka yang menganiaya dan menyiksanya, oleh karena mereka tidak ambil pusing pada penderitaan batin para buangan, bahkan punya perhatian pun tidak.

Belanda, tulis Pramoedya, semula mengharapkan Digul menjadi permukiman yang tetap. Akan tetapi, biaya makan untuk 2.233 orang buangan, pejabat, dan narapidana, yang hampir mencapai 1.000 gulden setahun -jumlah yang luar biasa pada masa itu- membuat rencana itu tak terealisasi. Bagi para buangan sendiri, tinggal di Digul adalah malapetaka. Selain mendapat perlakuan kasar, kerja paksa membabat hutan dan membuka perladangan adalah tugas mahaberat sehari-hari. Sejak tahun pertama kedatangan mereka pada 1927, berbagai penyakit mulai menyerang: disentri, beri-beri, dan malaria. Di antara penyakit tersebut yang paling berbahaya adalah malaria. Bila air seni sudah mulai berwarna hitam, pertanda ajal sedang menjemput.

Pada Agustus 1935, nasionalis kooperator Mohammad Husni Thamrin dalam Volksraad (DPR) menyatakan bahwa "keadaan(di Digul Hulu/Tanah Merah tidak manusiawi". Ia dengan tegas menuntut supaya kamp tersebut dihapus.

Itulah Boven Digoel dengan penjaranya yang sangat menakutkan. Dulu demikian, sekarang sudah ramai dan berkembang maju. Kini situs tersebut terbengkalai, tak terurus.

Penjara ini terletak di tepi Sungai Digul. Untuk menjangkaunya, orang bisa menggunakan penerbangan pesawat Twin Otter sekitar 90 menit dari Bandara Moppa, Merauke. Namun saat musim kemarau bisa pula ditempuh melalui jalan darat sepanjang 500 kilometer dari Kota Merauke ke Tanah Merah. Selain itu dengan kapal laut dari Marauke ke laut lepas kemudian menyusuri Sungai Digul.

Di penjara tersebut, Hatta yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902, bertemu dengan sejumlah pejuang Papua. Pendidikan politik pun terjadi di sana yang akhirnya bermuara pada pembebasan Irian Barat, 19 Desember 1961 melalui Trikora. Tentunya didahului melalui perjuangan diplomasi yang sangat panjang hingga Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Papua) tahun 1969. Rakyat Papua menyatakan tetap bergabung dengan NKRI dan menjadi bagian yang tak terpisahkan.


Kursi Tua Hatta

Dalam penjara itu terlihat kursi tua bertuliskan Drs Mohammad Hatta. Menurut Sumber di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Boven Digoel, konon kursi itu dijadikan tempat duduk Hatta untuk membaca dan menulis buku Alam Pikiran Junani, sebagai sumbangan bagi pustaka pengetahuan masyarakat Indonesia. Sementara itu papan tempat tidur dan gambar lengannya masih dalam keadaan utuh pada ruangan berukuran panjang 1 meter dan lebar 50 cm.

Di penjara tersebut terdapat pula tempat tahanan bawah tanah yang dalamnya 10 meter, lebar 50 cm, dan panjang 1 meter. Tempat ini diperuntukkan bagi tahanan yang dianggap sangat membahayakan Pemerintah Belanda. Untuk turun ke tempat tahanan bawah tanah harus meluncur melalui papan bukan tangga. Siang hari tempat tahanan itu ditutup papan dan seng sehingga sangat panas. Malam hari sangat dingin apalagi saat membaringkan badan di dasar beton yang dingin. Akibatnya banyak tahanan yang menderita berbagai penyakit dalam.

Seluruh areal penjara yang luasnya 2 hektare itu dipagari kawat berduri dengan tembok setinggi sekitar 10 meter. Semuanya menjadi saksi sejarah yang masih berdiri kokoh dan tegak.


Benang Merah Sejarah

Gubernur Papua Barnabas Suebu SH yang pernah mengunjungi situs itu mengatakan, penjara Boven Digoel merupakan benang merah sejarah perjuangan bangsa Indonesia. "Di sinilah putera-putera terbaik bangsa Indonesia, Hatta, Sjahrir, dan yang lainnya diasingkan penjajah Belanda. Kita harus menjadikan situs tersebut dan Tanah Merah sebagai Kota Perjuangan seperti halnya Kota Pahlawan Surabaya, Bandung Lautan Api, dan sebagainya," ujar Suebu.

Selain penjara di Tanah Merah, dibangun pula tempat tahanan khusus bagi pejuang yang dinilai kurang kooperatif di Tanah Tinggi. Situs tersebut juga tak tersisa bekas bangunannya. Sudah ditumbuhi rerumputan dan pohon.

Menurut informasi dari Benedikus, seorang warga setempat, ketika Presiden Megawati Soekarnoputri berencana ke Tanah Merah, situs di Tanah Tinggi itu dibersihkan. Namun, karena Megawati batal berkunjung ke sana, situs tersebut dan Penjara Boven Digoel kembali ditumbuhi rumput dan pepohonan liar.

Kondisi penjara sekarang kurang terawat, hanya ada papan nama bertuliskan Situs Sejarah Perjuangan Bangsa" dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua. Selain itu, sebagian situs dengan rumahnya dihuni pegawai pemerintah maupun aparat keamanan yang bertugas di sana.

Bupati Boven Digoel, Yusak Yaluwo menyatakan, pihaknya mengharapkan adanya dukungan dana dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Papua melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APB), untuk perawatan situs tersebut. "Memang, Pemerintah Kabupaten Boven Digoel telah merawatnya namun dana sangat terbatas.

Dalam rangkaian perayaan HUT ke-62, Kemerdekaan Republik Indonesia, tentu pemeliharaan situs ini harus mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat dan Pemprov Papua, terutama membangun talud agar mencegah abrasi yang terjadi akibat derasnya Sungai Digoel. Tebing di bagian belakang penjara dekat sungai terus longsor akibat abrasi. Itulah menjadi alasan perlunya bantuan dana melalui APBN dan APBD Provinsi.

"Sebab Penjara Boven Digoel merupakan situs perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang membuktikan Papua adalah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan benteng terakhir Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila," tandasnya. [SP/Wolas Krenak]



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 10/8/07

[Non-text portions of this message have been removed]