#sastra-pembebasan# Re: [temu_eropa] Membakar Semangat Mahasiswa

classic Classic list List threaded Threaded
1 message Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|

#sastra-pembebasan# Re: [temu_eropa] Membakar Semangat Mahasiswa

arif.harsana@t-online.de
<<  Di tempat terpisah para mahasiswa menyaksikan film The  Act of Killing (Jagal),
 yang mengisahkan para pelaku/Jagal dalam mengeksekusi
 orang-orang yang dituduh Komunis dan simpatisan Sukarno  pada 1965/66.
 Mau apa lagi? Mereka sudah mengaku. Para mantan  jenderal dan
para preman pembunuh bayaran tidak bisa memungkiri lagi.>>
 
Benar, bung Bedjo Untung, sudah diterbitkan Laporan dari hasil pengumpulan Fakta ttg. Pelanggaran HAM Berat
berdasar kesaksian para Korban dan para Pelakunya sendiri. Semakin banyak dokumen ttg masalah ini yang
dibuka dimuka publik, baik yang berupa Laporan, Buku, Film, produk elektronik Audio dan Video dsb akan semakin
memperdalam kesadaran umum dikalangan masyarakat luas tentang pentingnya perjuangan melawan lupa,
tentang pentingnya menarik pelajaran dari lembaran gelap sejarah kelam masa lalu demi Keadilan bagi para Korban,
demi masa depan yang lebih adil dan lebih manusiawi.
 
Salam perjuangan,
Arif  Harsana
 
-----------------------------
 
Von: yayasan penelitian <[hidden email]>
 An: Aat YPKP65 Kuningan <[hidden email]>, arif harsana <[hidden email]>, temu eropa <[hidden email]>, Trikoyo <[hidden email]>, heru suprapto <[hidden email]>, isa <[hidden email]>, Tom Iljas <[hidden email]>, "Y.T.Taher" <[hidden email]>, "S. Utomo" <[hidden email]>, Dian SU <[hidden email]>, HAM Nusantara <[hidden email]>, uchi <[hidden email]>, Koesalah Soebagyo Toer <[hidden email]>
 Cc: ypkp 1965 <[hidden email]>, beejew lucky <[hidden email]>
 Betreff: [temu_eropa] Membakar Semangat Mahasiswa
 Datum: Wed, 12 Dec 2012 06:06:22 +0100
 

 
 Bedjo Untung
 
 MEMBAKAR
 SEMANGAT MAHASISWA
 
 
 
 Surabaya (YPKP 65)
 
 Seminar/Diskusi
 Publik  yang diselenggarakan di UPN
 (Universitas Pembangunan Nasional ) Veteran
 Surabaya 10 Desember 2012 dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi
 Manusia se Dunia  yang berlangsung mulai
 pukul 08.00 – 12.00 berjalan lancar, aman, sesuai jadwal yang direncanakan.
 
 
 
 Seminar
 yang diikuti 300 mahasiswa dan masyarakat Korban 65  yang terselenggara berkat kerjasama  BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UPN dan YPKP
 65, dibuka oleh Wakil Rektor UPN, dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu
 Kebangsaan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta diiringi pembacaan Sajak Renungan karya Bambang Soekotjo.
 
 
 
 Pembicara pertama, Bpk Drs. Manejer
 Nasution, MA
 
 Anggota
 Komnas HAM (2012-2017) Divisi Pemantauan /Pendidikan). Sebagai Komisioner yang
 baru, berlatar belakang sebagai dosen di Universitas Muhamadyah, Universitas
 Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta  dan anggota Staff MUI (Majelis Ulama
 Indonesia) serta usia yang muda (lahir 1968), Nasution kurang faham tentang
 sejarah 1965. Sehingga, ia keluar pernyataan: “ Sebetulnya, di awal Orde Baru, Suharto memiliki komitmen bagus untuk
 membangun Indonesia ……………… “
 
 Pernyataan
 ini langsung saja mendapat reaksi  keras dari
 Budiono Korban 65 yang berasal dari Surabaya,” Suharto seorang jenderal biadab yang tega membunuhi rakyatnya sendiri,
 seorang jenderal licik, berpura-pura halus tetapi hatinya busuk, mengkhianati
 Presiden Sukarno. Suharto adalah pengkhianat bangsa ……………. “
 
 
 
 Pembicara kedua Ibu Lilik Pintauli
 Siregar
 
 Anggota
 LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban). Intinya, Negara melalui LPSK  memberi perlindungan  kepada Saksi dan Korban sesuai UU No.13 Tahun
 2006. Khusus untuk Korban Pelanggaran HAM Berat 1965/1966, LPSK memberi pelayanan
 medis dan psikososial. LPSK telah menerima sekurang-kurangnya 500 berkas
 permohonan Korban 65 yang direkomendasikan oleh YPKP 65. Lembaga ini telah
 mendatangi dan melakukan pemeriksaan kepada Korban 65 (yang telah mengajukan
 permohonan): Tanah Datar Sumatera Barat, Purbalingga (Jateng), Pekalongan
 (Jateng), serta Daerah Istimewa Yogyakarta.
 
 Bagi
 Korban/pasien yang tidak bisa jalan karena sakitnya, LPSK memberikan sarana
 penjemputan. Bagi Korban yang memerlukan tenaga pengantar, LPSK menyediakan
 tenaga khusus untuk mendampinginya. Singkatnya, LPSK menyediakan pelayanan
 istimewa bagi Korban, dan semua biaya ditanggung oleh APBN.
 
 
 
 Yang
 menjadi kendala,LPSK tidak akan memberi pelayanan medis/psikososial tanpa
 adanya rekomendasi dari Komnas HAM, sedangkan Komnas HAM akan beri rekomendasi
 kalau si Korban memiliki surat-surat bukti lengkap: KTP, kartu KK, Surat
 Pembebasan, Surat Pemecatan, Surat Kesaksian
 serta Rekomendasi dari Organisasi Korban yang menerangkan Riwayat
 Korban, di mana ditahan, disiksa, berapa lama, dsb.nya.
 
 Bagi
 Korban yang surat-suratnya hilang, dapat minta keterangan kepada instansi
 terkait. Pelayanan medis/psikososial ini berlaku juga buat keluarga Korban.
 
 
 
 Penjelasan
 dan tindakan nyata LPSK ini tentu saja mendapat sambutan positif bagi para
 Korban 65, meskipun sesungguhnya tuntutan Korban 65 bukan semata pelayanan
 medis/psikososial, tetapi adalah:
 
 pengakuan
 oleh Negara  bahwa Negara telah melakukan
 kejahatan kemanusiaan, pembunuhan massal kepada 500.000 – 3.000.000 jiwa.
 Negara harus minta maaf, Presiden harus terbitkan Keppres Rehabilitasi, berikan
 reparasi, kompensasi  bagi Korban. Serta
 perlunya digelar proses hukum untuk mengadili para pelaku/penjahat kemanusiaan (perpetrators)
 agar ada efek penjeraan, agar tidak terjadi pengulangan di masa mendatang.
 
 
 
 Pelayanan
 Medis/Psikososial  LPSK ini merupakan “penghiburan,
 setetes embun di gurun pasir” di tengah bebalnya pemerintah SBY yang tidak mau
 dengar tuntutan dan desakan para Korban.
 
 
 
 Pembicara ketiga Bedjo Untung Ketua YPKP
 65
 
 
 
 Sebagaimana
 biasa, untuk membakar semangat mahasiswa dan Korban 65, pembicara mengajak para
 peserta seminar untuk mengepalkan tinju tangan kiri, mengangkat
 tinggi-tinggi  dan meneriakkan yel-yel  BEBAS, BEBAS, BEBAS. Kontan saja semua peserta
 yang sebagian besar kaum muda itu menyambutnya dengan lantang dan gemuruh  memecah keheningan  aula yang dari tadi nuansa seminar adem-ayem
 saja.
 
 
 
 Intinya
 Bedjo Untung menguraikan sejarah Tragedi 1965/1966, seperti yang diuraikan oleh
 
 Letkol
 Heru Atmodjo, intelejen dari Perwira Angkatan Udara yang namanya tercatat dalam Daftar Susunan Dewan Revolusi menurut narasi
 Orba. Keterlibatan CIA dapat
 dibuktikan dari dokumen CIA yang sudah bisa diakses pada awal tahun 2000an.
 
 
 
 Pada
 23 Maret 1965, CIA mengadakan rapat di markas CIA Bagio City
 Manila, Filipina untuk
 membahas situasi politik dan sosial di kawasan Asia terutama Asia Tenggara.
 Topik utamanya adalah adanya  dua front yang mau tidak mau harus dihadapi
 USA, yaitu Vietnam dan Indonesia.
 
 
 
 Di
 Vietnam, jelas perjuangan dan perlawanan terus dilakukan sehingga Perancis
 tidak berhasil menginjakkan kakinya di Vietnam setelah Perang Dunia II. Seperti
 yang dikatakan Bung Karno, hasil perjanjian Versailles dan Piagam Perdamaian Atlantic Charter 14 Agustus
 1945 adalah
 bentuk kelemahan dari life line
 imperialisme (rantai hidup imperialisme).
 
 
 
 Sedangkan,
 di Indonesia, Bung Karno pada Agustus 1964 menyatakan Politik Luar Negeri
 Indonesia adalah bebas aktif tanpa intervensi dan mengecam keras tindakan
 imperialisme USA.
 
 
 
 Rapat
 puncak CIA itu dihadiri empat tokoh utama CIA, Averell Harriman (veteran Perang
 Dunia II sebagai anggota OSS-Office of
 Strategy Study, intel militer), William Bundy, Elsworth Bunker (juru
 runding dalam perdamaian RI-Belanda pada kasus Irian Barat), dan Howard P.
 Jones (Duta Besar Amerika di Indonesia
 selama tujuh tahun). Pertemuan itu menentukan sikap politik terhadap Indonesia.
 
 
 
 Presiden
 Amerika Serikat Lyndon B Johnson
 pada waktu itu sebagai Ketua National Security Council memerintahkan agar CIA
 menjatuhkan Soekarno yang tengah berhasil menghimpun kekuatan Asia-Afrika melawan
 imperialisme Amerika.
 
 
 
 Namun,
 usaha pembunuhan terhadap Soekarno sudah dilakukan dan semuanya gagal. Juga, Angkatan Darat pernah
 melakukan usaha kudeta, 17 oktober 1952, juga gagal. Di tubuh Angkatan Darat
 sendiri sampai tahun 1965, ada 3 faksi, pertama faksi loyalis Soekarno, faksi
 loyalis Nasution, dan faksi lainnya.
 
 
 
 Solusi
 terakhir dari skenario CIA  adalah memanfaatkan situasi politik di Indonesia pada 1965  yang diwarnai oleh tajamnya sikap politik AD terhadap  PKI. Cara untuk menjatuhkan Soekarno adalah
 dengan menghancurkan
 PKI terlebih dahulu. Dengan cara menuduh PKI sebagai dalang konflik yang ingin
 mengudeta Soekarno. PKI satu-satunya partai terbesar yang memiliki gagasan sama
 dengan Soekarno yaitu  anti imperialisme, anti
 Neo-Kolonialisme.
 
 
 
 Kemudian
 Amerika Serikat memulai rancangannya dengan menyebarkan berbagai macam isu: isu Dewan Jenderal, PKI
 mau memberontak, dll. Dengan menggunakan Angkatan Darat pimpinan Soeharto, para
 perwira dibunuh pada dini hari 1 Oktober 1965.
 
 
 
 Propaganda
 hitam penuh kebohongan dilancarkan bertubi-tubi. Berita bohong di radio dan
 koran menyebutkan PKI adalah dalangnya. Berbagai media pers diberangus, kecuali Koran
 Angkatan Darat yaitu Angkatan Bersenjata
 dan Berita Yudha.
 
 Pasukan
 tentara pimpinan Soeharto dengan dukungan CIA kemudian memburu dan membunuh
 anggota dan simpatisan PKI. Jutaan orang dibunuh, ditahan, disiksa, dikerjakan
 paksa, dan banyak perempuan diperkosa hingga tahun 1979. Mereka yang bertahan hidup,
 dibebaskan karena desakan dunia internasional yang mengecam tindakan biadab
 itu.
 
 
 
 Setelah
 pembebasan, mantan Tahanan Politik, para Korban dan keluarganya  mengalami stigma turun-temurun. Tindakan
 diskriminasi yang dilakukan negara ikut menyebar di masyarakat. Akibatnya,
 hak-hak dasar, seperti ekonomi, dukungan sosial, pekerjaan, identitas, dan
 partisipasi politis dikebiri. Selama itu, korban 1965 terus menderita hingga hari ini.
 
 
 
 Bedjo Untung
 mengajak para Mahasiswa untuk bersatu bersama Kaum Buruh, Tani, Pemuda,
 Perempuan,Intelektual, Budayawan, serta massa Korban pelanggaran HAM untuk
 bangkit berjuang mengembalikan cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945
 yang sejati, yaitu Indonesia yang bebas dari penghisapan manusia oleh manusia
 dan bebas dari penindasan Negara atas Negara lain yaitu Indonesia yang
 menghormati Hak Asasi Manusia dan Demokrasi.
 
 
 
 Di tempat terpisah para mahasiswa menyaksikan film The
 Act of Killing (Jagal) yang mengisahkan para pelaku/Jagal dalam mengeksekusi
 orang-orang yang dituduh Komunis dan simpatisan Sukarno  pada 1965/66.
 
 Mau apa lagi? Mereka sudah mengaku. Para mantan
 jenderal dan para preman pembunuh bayaran tidak bisa memungkiri lagi.
 
 
 
 Di akhir Seminar/ Diskusi Publik, Bedjo Untung meneriakkan
 yel-yel yang sering diucapkan dalam Aksi Kamisan di depan Istana Merdeka
 Republik Indonesia, dan disambut secara bergemuruh oleh peserta diskusi:
 
 
 
 Hidup Korban,
 
 Jangan Diam
 
 Lawan
 
 
 
 Bedjo
 Untung
 
 Ketua YPKP 65
 
 YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966  (YPKP 65)Indonesian
 Institute for The Study of 1965/1966 Massacre SK Menkumham No.C-125.HT.01.02.TH 2007
 Tanggal 19 Januari 2007 Tambahan Berita  Negara RI Nomor 45
 tanggal 5 Juni 2007 , PENGURUS PUSAT Jalan M.H.Thamrin Gang Mulia no. 21 Kp.
 Warung Mangga,RT 01 RW 02 Panunggangan , Kecamatan Pinang, Kab/Kota
 Tangerang 15143   Banten,INDONESIA  Phone : (+62  -21)
 53121770, Fax 021-531217, E-mail [hidden email];
 [hidden email]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
 
 ------------------------------------
 
 Yahoo! Groups Links