#sastra-pembebasan# Ia gagal mencari keadilan di MA karena memakai sandal jepit - KETIKA ORANG MISKIN CARI KEADILAN - Rakyat Kecil Merindukan HUKUM yang ADIL!

classic Classic list List threaded Threaded
1 message Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

#sastra-pembebasan# Ia gagal mencari keadilan di MA karena memakai sandal jepit - KETIKA ORANG MISKIN CARI KEADILAN - Rakyat Kecil Merindukan HUKUM yang ADIL!

ChanCT
FOKUSKasdi: Saya Orang Kampung, Tak Punya Baju Bagus
Ia gagal mencari keadilan di MA karena memakai sandal jepit.

Senin, 17 Desember 2012, 01:24
 

VIVAnews - Kasdi, 52 tahun, tinggal di Demak, Jawa Tengah. Mata pencahariannya cuma menangkap ikan sepat atau betik di rawa. "Dari hasil menangkap ikan itu, saya paling besar dapat Rp50 ribu," ujar Kasdi kepada wartawan VIVAnews di YLBHI, Jakarta, Kamis 13 November 2012.

Meski begitu, tekadnya mencari keadilan tak sekecil ukuran ikan betik yang biasa dia tangkap.

Anak sulung Kasdi, Sarmidi (24 tahun), saat ini dibui di LP Kedung Pane, Semarang. Kasdi hakulyakin anaknya itu sebetulnya cuma korban rekayasa seorang petugas polisi. Dia dijebak lalu dituduh jadi pengedar narkoba. Sarmidi ditangkap 12 Desember 2011 dan oleh hakim Pengadilan Negeri Semarang divonis lima tahun penjara. Di mata Kasdi hukuman ini sangat tidak adil, karena menurut dia Sarmidi tak pernah melakukan kejahatan itu.

Karena itulah, Kamis, 13 Desember lalu, setelah upayanya di Semarang kandas, dia nekat mendatangi gedung Mahkamah Agung di Jakarta. Malangnya, di lembaga hukum tertinggi ini, dia diusir petugas satuan keamanan. Alasannya, karena dia datang cuma pakai sandal jepit.

Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan nelayan lugu tapi gigih ini.

Bagaimana Sarmidi bisa terlibat kasus narkoba?

Awalnya, anak saya yang kerja di perusahaan pemotongan kayu itu kenalan sama Triyono. Mereka berkenalan di batas kota saat acara Tahun Baru Hijriah.

Di daerah saya itu (Demak) ada budaya kelurin, tumpengan kalau Tahun Baru Hijriah. Orang-orang dari kampung pada datang. Disitu lah Sarmidi kenalan sama Triyono alias Eblek.

Beberapa minggu kemudian, Sarmidi dikenalkan Triyono ke temannya yang lain yaitu AAN alias Ompong alias Kentos. Dia diajak bertemu di sebuah SPBU di Semarang.

Ternyata, AAN itu salah satu anggota polisi yang sering keluar masuk tahanan karena kasus narkoba. Waktu itu Sarmidi belum tahu bahwa AAN adalah polisi.

Setelah Sarmidi dan AAN ngobrol beberapa lama, Triyono meninggalkan mereka. Kemudian AAN menyuruh Sarmidi membeli ganja. Anak saya tidak mau. Sarmidi terus dipaksa sambil diberi uang Rp120 ribu. Akhirnya, ia mau juga dan mereka jalan ke suatu tempat untuk membeli ganja naik motor berboncengan.

Setelah ganja itu dibeli akhirnya mereka kembali ke tempat semula. Sampai di SPBU semula, Sarmidi memberikan ganja yang telah mereka beli ke AAN. Tapi, AAN tidak mau menerimanya, malah menyuruh menyimpannya berikut uang kembaliannya.

Karena takut dan melihat gelagat yang tidak baik, Sarmidi membuang ganja tersebut. Tak lama setelah ganja dia buang, tiba-tiba datang seorang polisi bernama AP. Sarmidi lalu dibawa ke kantor polisi dan langsung ditahan.

Selama penahanan dan persidangan Sarmidi, berapa uang yang sudah Anda habiskan?

Waktu itu saya bolak-balik ke kantor polisi dan pengadilan selama berbulan-bulan. Untuk ongkos dan makan saat menjalani persidangan saya menjual rumah seharga Rp9 juta ke tetangga saya. Itu juga karena tetangga saya kasihan kepada saya dan berniat membantu. Malahan, rumahnya masih saya tempati sampai sekarang.

Tapi, setelah anak saya divonis lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Semarang, saya tidak rela. Saya lalu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Saya menyewa advokat, namanya Arwani. Saya dibuatkan Memori Kasasi oleh Arwani. Saya bayar dia Rp100 ribu. Lalu, Memori Kasasi itu dikasih ke Pengadilan Tinggi tapi tidak ada tanggapan juga.

Saya merasa sangat kesal sekali, lalu saya dan keluarga mendatangi DPRD Semarang. Di sana saya ceritanya demo. Di DPRD saya bertemu wartawan, lalu saya diberitakan.

Setelah beberapa hari saya melakukan aksi itu dan diberitakan wartawan, tiba-tiba datang seorang advokat dari Universitas Gajah Mada. Namanya Joko Suwito. Dia berniat membantu saya, tanpa pamrih. Dia datang ke rumah saya dan mengobrol. Setelah itu saya dibuatkan Memori Kasasi oleh Pak Joko Suwito dan katanya mau dikirimkan ke Mahkamah Agung.

Nah, maka dari itu saya datang ke Jakarta. Saya mau tanya ke Mahkamah Agung secara langsung apakah Memori Kasasi kasus anak saya ini sudah sampai belum? Saya mau minta keadilan, eh... baru sampai gerbang saja saya sudah diusir. Kata satpamnya, pakaian saya tidak layak dan cuma pakai sandal jepit.

Saat dilarang masuk Mahkamah Agung, bagaimana reaksi Anda?

Waktu ditolak di pintu MA, saya sangat drop. Saya bingung harus ke mana lagi... Saya sangat kecewa... Masa karena masalah pakaian dan sandal jepit saja saya tidak bisa menuntut keadilan? Saya tidak punya baju bagus. Baju saya sehari-hari ya ini. Sandal saya sehari-hari ya ini. Setiap hari saya bepakaian seperti ini. Saya orang kampung, saya tidak punya baju bagus...

Pekerjaan Anda sehari-hari menangkap ikan di rawa. Bisa bawa uang berapa sehari?


Hasil menangkap ikan itu paling besar saya dapat Rp50 ribu sehari. Kadang tidak dapat ikan sama sekali. Kalau pas dapat, rata-rata 5-10 kg. Tapi, seumur hidup saya, selama 10 tahun mencari ikan, pernah dapat 40 kg. Itu hanya sekali-sekalinya seumur hidup saya.

Ikan hasil tangkapan biasanya saya jual ke pengepul di pasar. Ikan yang saya tangkap banyak jenisnya, ada ikan betik, sepat, pokoknya ikan yang ada di rawa. Ikan betik hidup biasanya dihargai Rp7.000 per kilo. Kalau yang mati cuma Rp1.000. Saya harus beli es batu, biar ikannya tidak busuk.

Sebelum jadi pencari ikan, apa pekerjaan Anda?

Saya mulai bekerja mencari ikan sekitar tahun 2002. Dulunya saya bekerja di proyek bangunan. Tapi setelah anak saya yang kedua ini lahir (Novi Arian, 10 tahun), saya tidak berani meninggalkan keluarga saya jauh-jauh. Anak saya ini kalau suhu badannya panas suka kejang-kejang. Makanya saya khawatir dan alih profesi menangkap ikan di rawa saja. Biar penghasilannya tidak tetap, tapi saya tetap optimis...

Kalau pas tidak dapat ikan, bagaimana Anda menghidupi keluarga?

Kalau tidak dapat ikan, saya utang dulu ke warung. Nanti kalau saya dapat ikan banyak, saya bayar utangnya. Kalau ikan tidak laku, paling dimakan sendiri. Tapi biasanya pasti laku karena sudah ada pengepulnya di pasar

Anda pernah sekolah?


Saya tidak sekolah, Mas. Namanya juga orang kampung... Istri saya juga sama, tidak pernah sekolah. Kalau anak saya yang pertama, Sarmidi, sekolah sampai SD saja. Setelah lulus SD, dia bantu-bantu saya bekerja. Kalau anak saya yang kedua, Novi, sekarang baru kelas enam SD.

Anda bisa membaca dan menulis?


Kalau menulis saya tidak bisa sama sekali. Kalau baca saya bisa sedikit-sedikit, tapi tidak lancar. Namanya juga tidak pernah sekolah. Saya bisa baca diajari anak saya.

Buat apa sampai jauh-jauh ke Jakarta?


Niat saya ke Jakarta ini untuk meminta keadilan. Anak saya Sarmidi dijebak. Dia dituduh jadi pengedar narkoba. Sekarang dia divonis lima tahun penjara.

Ke Jakarta naik kereta?


Kami menumpang kereta ekonomi Tamang Jaya dari Semarang, turun di Stasiun Senen. Semula saya tidak tahu bagaimana caranya ke Mahkamah Agung. Mau naik apa, saya juga tidak tahu. Jadi, setelah sampai Stasiun Senen saya jalan kaki ke Mahkamah Agung. Dari Mahkamah Agung saya pergi ke kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), menumpang bajaj, dibayari wartawan.

Ongkos kereta dari mana?


Tiket kereta api ekonomi harganya Rp33.500 per orang. Jadi, untuk tiga orang Rp100 ribu lebih sekali jalan. Kebetulan, saya sudah membeli tiket untuk pulang juga. Kalau beli di Jakarta takut mahal dan takut tidak kebagian tiket.  

Buat ongkos ke Jakarta, saya menjual delapan ekor ayam betina, dapat Rp200 ribu. Ayam-ayam itu dijual ke tetangga saya. Saya juga terpaksa menjual sepeda motor Yamaha saya, keluaran tahun 1981, dan sepeda onthel. Saya jual ke tukang besi rongsokan seharga Rp380 ribu.

Sebelumnya pernah ke Jakarta?


Memang bukan pertama kali ini saya ke Jakarta. Dulu sekitar tahun 1978, waktu masih bujangan, saya sempat kerja juga di Jakarta jadi buruh proyek. Saya dulu kerja di proyek pembangunan gedung Walikota, kalau tidak salah di Jalan S. Parman. Seingat saya, nama daerahnya Grogol. Tapi saya sudah lupa di mana persisnya tempatnya.  

Terus yang kedua sebelum bulan puasa kemarin, sekitar bulan Juni 2012. Saya seminggu di Jakarta. Saya menginap di kantor YLBHI juga. (kd)


Jumat, 14 Desember 2012
[Media_Nusantara] KETIKA ORANG MISKIN CARI KEADILAN
 

KETIKA ORANG MISKIN CARI KEADILAN






Kisah Kasdi yang mencari keadilan hingga Mahkamah Agung, Jakarta, nampaknya tidak menyentuh aparat Kepolisian Semarang. Kepala Polretabes Semarang, Komisaris Besar Elan Subilan, hanya memastikan bahwa penegak hukum tidak pernah salah untuk menghukum orang.

"Polisi, jaksa dan hakim tak pernah salah menghukum orang," kata Kombes Elan Subilan, Kamis, 13 Desember 2012.

Sementara Kepala Bidang Propam Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Komisaris Besar Alex Rewos, justru tidak pernah mendapat laporan mengenai hal tersebut.

"Tidak pernah ada laporan itu, coba tanya ke Polrestabes langsung saja," kata Alex Rewos.

Kasdi terpaksa mendatangi Mahkamah Agung bersama keluarganya setelah gagal mencari keadilan di Semarang. Bapak yang bekerja sebagai pencari ikan itu memastikan anaknya merupakan korban rekayasa polisi dan dijebak menjadi pengedar narkoba.

"Anakku disiksa dan dipukuli agar mengaku barangnya itu miliknya," kata Kasdi beberapa waktu lalu.

Karena ketidaktahuan Kasdi, ia mencoba mempertanyakan nasib anaknya hingga ke Mahkamah Agung. Diakuinya anak sulungnya itu merupakan tulang punggung keluarga.

"Saya berharap di Jakarta nanti keadilan akan saya dapatkan," ujarnya sebelum berangkat Jakarta.

Setelah sampai di Jakarta, lagi-lagi nasib malang masih menimpanya. Setelah menjual sepeda ontel dan ayamnya untuk membeli tiket kereta ekonomi dari Demak ke Jakarta, ia dan keluarganya tidak diperbolehkan masuk ke gedung MA oleh petugas keamanan.

Alasannya, Kasdi tidak memakai sepatu dan kemeja. Kasdi yang berjalan kaki dari Stasiun Pasar Senen ke gedung MA itu memang hanya memakai sandal jepit.

Saat ini Kasdi bersama keluarganya yang terkatung-katung di Jakarta diarahkan oleh para wartawan untuk menemui Ketua YLBHI, Alfon Kurnia Palma, dengan harapan YLBHI bisa membantu proses hukum anak Kasdi, Sarmidi. Kasdi pun dicarikan bajaj oleh wartawan untuk menuju ke kantor YLBHI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat


Kasdi jual beras untuk cari keadilan ke MA

Tekad Kasdi (51), warga asal Desa Dukuh Babadan, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah, untuk mencari keadilan ke Mahkamah Agung sudah bulat. Saking nekatnya, untuk berangkat ke Jakarta, Kasdi menjual beras untuk membeli tiket kereta api sebesar Rp 103.000.

"Saya membeli tiket Kereta Api Tawang Jaya. Keretanya ekonomi. Harga tiketnya untuk tiga orang sebesar Rp 103.000. Uang untuk membeli tiket dari hasil jual beras, jual sepeda motor," kata Kasdi yang sehari-hari bekerja mencari ikan ini kepada merdeka.com, Kamis (13/12).

Kedatangan Kasdi ke MA hanya ingin menuntut keadilan. Dia bersama istrinya bernama Jumila (66) dan anaknya Nova Afriani (10) ingin mengajukan kasasi bagi anaknya bernama Sarmidi (24) yang telah divonis lima tahun penjara atas dakwaan kepemilikan narkoba.

Kasdi menilai, anaknya telah dijebak oleh seorang anggota polisi beranam Afianto. Sarmidi kini dihukum lima tahun penjara di LP Kelas I Kedung Pane, Mijen, Semarang, Jawa Tengah.

Sebelum berangkat ke Jakarta, dia sudah meminta izin ke kelurahan dan kecamatan tempat ia tinggal. Saat ingin pamit untuk mencari keadilan ke Ibu Kota, Kasdi malah mendapatkan sumbangan dari camat Sayung.

"Saya dikasih uang Rp 200.000 untuk uang makan selama di Jakarta. Saya tidak tahu siapa nama camatnya. Pesan Pak Camat, teruslah mencari keadilan dan jangan pernah menyerah," katanya.

Kasdi justru menyayangkan lurah Babadan, Ramadi. Lurah di desanya itu malah tidak memberikan dukungan dalam bentuk apapun.

Selama mencari proses keadilan dari tahun 2011, ia sudah menghabiskan banyak uang. Dia mengaku menjual sepeda motor tuanya. "Dijual laku Rp 400 ribu. Uang habis untuk kesana-kemari," ujarnya.

Sayangnya, sesampainya di MA ia ditolak masuk karena hanya menggunakan sandal jepit dan memakai pakaian lusuh. Padahal, ia hanya ingin mengajukan kasasi atas kasus anaknya.

Karena tidak mempunyai uang banyak, malam ini, Kasdi bersama istri dan anaknya hanya menginap di Gedung YLBHI Jakarta.


Pakai sandal jepit, pencari keadilan ditolak masuk Gedung MA

Keinginan seorang warga asal Desa Dukuh Babadan, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah, Kasdi (51) untuk mendapat keadilan bagi anaknya terpaksa kandas. Pasalnya, Kasdi tidak diperbolehkan masuk ke dalam area Gedung Mahkamah Agung (MA) oleh petugas keamanan hanya karena menggunakan sandal jepit.

Kasdi mendatangi MA dengan maksud mendaftarkan Kasasi perkara narkoba yang menjerat putranya, Sarmidi (24). Dia meyakini, sang putra telah menjadi korban lantaran dijebak oleh temannya bernama Afianto yang diduga seorang anggota polisi.

Sarmidi sendiri telah divonis lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Semarang. Dan di tingkat banding, majelis hakim malah menguatkan putusan PN Semarang.

"Anak saya disuruh beli ganja oleh temannya, Afianto. Anak saya tidak mau, tapi temannya Afianto pinjam ponsel anak saya untuk menelepon penjual ganja. Tidak lama kemudian, anak saya malah ditangkap oleh polisi dan langsung ditahan. Saya datang ke Jakarta ini untuk menuntut keadilan," ujar Kasdi di depan Gedung MA, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (13/12).

Kasdi mengungkapkan, upayanya menempuh perjalanan jauh dari Demak menuju Jakarta gagal. Padahal, untuk dapat sampai Jakarta saja, Kasdi harus menjual ayam, beras, dan sepeda demi tiket kereta ekonomi.

Sementara itu, Kasdi juga telah kehilangan harta bendanya demi membiayai perkara Samidi hingga tingkat banding dengan menjual rumahnya seharga Rp 9 juta. Namun, tetap saja, upaya itu tidak signifikan untuk meringankan beban anaknya.

Dia pun pernah mendatangi DPRD Semarang untuk meminta bantuan. "Saya sudah datang ke DPRD Semarang tanggal 27 Juli 2012. Semua bilang kasusnya masih diproses terus dan saya disuruh tunggu di rumah," ucap Kasdi.

Akibat pelarangan itu, Kasdi sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia berharap ada setitik keadilan agar anaknya terbebas dari tuduhan pelaku pidana narkoba.


FOKUS
Rakyat Kecil Merindukan HUKUM yang ADIL!
Pakai Sandal Jepit ke MA, Sarmidi Larang Ayahnya Cari Keadilan
Kasus itu telah membuat keluarganya kian miskin.
Jum'at, 14 Desember 2012, 06:33 Desy Afrianti, Puspita Dewi (Semarang)
 
Kasdi dan keluarganya mencari keadilan (VIVAnews/Puspita)
BERITA TERKAIT
 
Polisi: Tak Ada Kekerasan Terhadap Anak Kasdi
  a.. Kasdi: Saya Orang Kampung, Tak Punya Baju Bagus
  b.. Kisah Malang Kasdi Cari Keadilan, Ini Kata Polisi Semarang
  c.. Pakai Sandal Jepit, Kasdi Gagal Minta Keadilan di MA
  d.. Anak Dijebak Polisi, Kasdi Datangi MA Cari Keadilan
VIVAnews - Sarmidi (24) pemuda asal Desa Dukuh Babadan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dituduh sebagai bandar dan pengedar narkoba. Kini ia mendekam di LP Kedungpane Semarang.

Di blok C LP Kedungpane Semarang, Sarmidi dijadikan satu dengan tiga terpidana lainnya. Vonis lima tahun penjara itu cukup berat baginya, apalagi dia merasa tidak pernah melakukan kejahatan peredaran narkoba seperti yang dituduhkan. Upaya ayah, ibu dan adik-adiknya mencari keadilan bagi dirinya justru pernah ditolak Sarmidi.

"Dia melarang kami, dia kasihan pada kami, nanti duitnya habis buat mencari keadilan," ujar Kasdi, ayah Sarmidi.

Sebagai tulang punggung keluarga Sarmidi tahu benar kondisi keuangan ayahnya. Apalagi sudah beberapa tahun terakhir ibunya terkena penyakit yang mengakibatkan buta, membuat keluarganya makin menderita.

Sarmidi tidak tahu jika rumah yang merupakan satu-satunya harta keluarganya sudah dijual untuk membiayai proses hukum yang tengah menimpanya. Adik-adik Sarmidi kini terpaksa tidak melanjutkan sekolah lagi karena tak ada lagi biaya.

Luka di tubuh Sarmidi yang diduga akibat disiksa polisi sudah tidak berbekas lagi. Namun luka di batinnya tak akan pernah sembuh, sebelum dia bebas dan dapat kembali bekerja membantu ayah, ibu dan adik-adiknya.

"Dia hanya ingin segera bebas, dan bekerja lagi untuk membiayai kehidupan kami sekeluarga," tambah Kasdi menirukan perkataan Sarmidi. Sebelum ditangkap polisi, Sarmidi bekerja di sebuah pabrik Kayu di Demak.

Sarmidi mengaku dijebak atas kepemilikan narkoba oleh seorang temannya yang bernama Afianto, seorang polisi di Semarang. Sarmidi ditangkap tanggal 12 Desember 2011 dan divonis oleh Pengadilan Negeri Semarang atas narkoba yang, menurut Kasdi, bukan milik anaknya.

Kasdi mendatangi gedung Mahkamah Agung untuk mengajukan kasasi bagi Sarmidi atas dakwaan kepemilikan narkoba. Malang nasib Kasdi. Setelah menjual sepeda ontel dan ayamnya untuk membeli tiket kereta ekonomi dari Demak ke Jakarta, ia dan keluarganya tidak diperbolehkan masuk ke gedung MA oleh petugas keamanan.

Alasannya, Kasdi tidak memakai sepatu dan kemeja. Kasdi yang berjalan kaki dari Stasiun Pasar Senen ke gedung MA itu memang hanya memakai sandal jepit. Lihat selengkapnya di sini.


[Non-text portions of this message have been removed]

Loading...