Quantcast

#sastra-pembebasan# Diduga, Sejumlah Kepsek Terima Fee Proyek DAK

classic Classic list List threaded Threaded
2 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

#sastra-pembebasan# Diduga, Sejumlah Kepsek Terima Fee Proyek DAK

sumbawanews
      Diduga, Sejumlah Kepsek Terima Fee Proyek DAK        
      Ditulis Oleh Sumbawa Post    
      Senin, 22 September 2008 20:31  
       

      TALIWANG, Sumbawanews.com.- Sejumlah oknum Kepala Sekolah (Kepsek) penerima Dana Alokasi Khusus (DAK) diduga menerima fee dari rekanan dalam proyek pengadaan buku. Dari 52 sekolah penerima DAK tersebut, konon kabarnya ada yang menerima fee berkisaan antara 20 hingga 30 persen.


      Untuk Kabupaten Sumbawa Barat ditahun 2008 ini, masing-masing sekolah mendapat bantuan sebesar Rp 90 Juta untuk pembelian buku. Sementara ancaman Kepala Dinas  Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) KSB, akan mencopot Kepsek nakal sepertinya tidak diindahkan.

      Dalam praktiknya, rekanan memberikan fee kepada sekolah bila produk yang mereka tawarkan dibeli oleh sekolah bersangkutan. Karena banyaknya perusahaan yang menawarkan buku tadi, oknum Kepsek lebih memilih rekanan yang memberikan persentase tertinggi.

        Hasil investigasi wartawan yang menyamar sebagai penjual buku menemukan, sejumlah sekolah terlihat tidak ragu-ragu meminta fee. "Kalau prodak yang anda jual fee-nya lebih bagus kami mau membelinya," ujar beberapa oknum kepala sekolah yang berhasil direkam.

      Kebanyakan Kepsek tadi meminta fee diatas  25 persen bahkan mencapai 30 persen dari harga total buku. ''Kalau anda tidak berani memberikan jumlah segitu, kami tidak akan membeli produk anda karena rekanan yang  berani memberi  sampai 30 persen, bahkan lebih,'' ujar oknum Kepsek tadi.

      Menurut salah seorang oknum guru yang minta namanya tidak disebutkan mengakui, fee yang diberikan kepada sekolah tidak hanya dinikmati oleh Kepsek tadi, ikut juga dinikmati oleh para guru juga dibagikan kepada oknum KCD  dan pejabat dilingkungan Dinas Dikpora.

      Temuan lainnya,  diwilayah-wilayah tertentu, telah diproteksi oleh rekanan tertentu pula. Rekanan  yang baru masuk, akan kesulitan mengajak  sekolah untuk bekerjasama.

      Mereka ini adalah rekanan yang pernah diajak kerjasama oleh sekolah tahun lalu. Bagi rekanan yang baru masuk, mereka tidak saja melakukan loby ke sekolah tetapi juga diarahkan ke forum komunikasi yang dibentuk para kepala sekolah.

        Dari guru tadi diketahui,  forum juga ikut andil menentukan rekanan mana akan dipakai sekolah. Tapi apakah forum menerima fee atau tidak, saya tidak tahu pasti,
      ujarnya polos. Yang lebih tragis lagi, adanya rekanan yang turun kesekolah dengan membawa-bawa nama oknum pejabat Pemda dan anggota dewan.

      Menariknya, ada rekanan  yang tahun lalu tidak kebagian jatah dan berteriak lantang dengan melaporkan berbagai dugaan pelanggaran pengadaan buku ini, justru tahun ini terlibat pengadaan.

      Sementara itu,  sekertaris Dinas Dikpora  Abdul Hamid, S.Pd. M.Pd mengakui pihaknya kekurangan data soal adanya praktek fee antara sekolah dan rekanan tadi. Menurutnya, dinas dengan tegas memberikan peringatan kepada Kepsek agar tidak menerima fee.

      Dia berjanji akan mencopot  setiap Kepsek yang ketahuan menerinma fee dari rekanan. Kepada wartawan Hamid mengatakan, pihaknya  tidak pernah mengintervensi ataupun mengarahkan sekolah  untuk membeli buku ke rekanan tertentu.

      Kata dia, dari 19 rekanan yang terdaftar hanya 16 yang memiliki kelayakan untuk mendistribusikan buku tadi setelah dilakukan seleksi.  "Sejak awal kita sudah  ingatkan agar tidak menerima fee. Untuk itu kita akan cek apakah buku yang dibelu sudah sesuai spek," ujarnya.

      Hamid meminta agar masyarakt ikut melakukan pengawasan terhadap proyek ini, bila ditemukan diminta untuk melaporkan ke dinas Dikpora.  "Kami minta agar masyarakt proaktif mengawasi proyek tersebut," pintanya. (cep)



Berita Lainnya..

      Senin, 22 September 2008 20:28  Ketua Pansus Dikpora Kecewa Maraknya Fee Proyek DAK  Sumbawa Post  
      Senin, 22 September 2008 20:24  PAC PPP Alas Bagi Bingkisan Lebaran.  Sumbawa Post  
      Senin, 22 September 2008 20:21  Pembangunan Taman kota Empang Rencana Prematur  Sumbawa Post  
      Senin, 22 September 2008 20:19  Pernik Lebaran, Warga Mulai Lakukan Persiapan Lebaran.  Sumbawa Post  
      Senin, 22 September 2008 20:17  Jasaraharja Serahkan Bantuan Sambil Sosialisasi.  Sumbawa Post  
      Senin, 22 September 2008 19:47  Jembatan Rasanggaro Rusak, Kendaraan Terpaksa Cari Jalan Alternatif  Sumbawa Post  



[Non-text portions of this message have been removed]

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

TUNTUTAN GENERASI MUDA PEDULI PENDIDIKAN (GMPP) DI POLDA JATIM Re: #sastra-pembebasan# Diduga, Sejumlah Kepsek Terima Fee Proyek DAK

Al Faqir Ilmi
TUNTUTAN GENERASI MUDA PEDULI PENDIDIKAN  (GMPP) DI POLDA JATIM
 
 
1. Dengan Melihat kronologis (terlampir) yang demikian itu, Generasi Muda Peduli Pendidikan (GMPP) mengajukan Tuntutan kepada Polda Jatim agar :
 
Usut Dugaan terjadinya Persekongkolan yang terjadi Tanggal 09 Juli 2008 di Hotel Orchid Batu, yang melibatkan Kejati Jatim, Dinas Pendidikan Jatim dan PT BI (rekanan pengada barang) dalam pelaksanaan Sosialisasi Dana DAK Pendidikan 2008 untuk proyek pengadaan barang (Jatim mendapat alokasi Rp. 713 Milyar), dengan dasar :
 

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Juknis Pelaksanaan DAK Pendidikan 2008, tugas dan kewenangan untuk mengadakan sosialisasi adalah di pihak Dinas Pendidikan, tapi berdasarkan kronologis diatas yang terjadi yang mengundang dan mengadakan sosialisasi ke seluruh kepala dinas Pendidikan Kota / kabupaten dan perwakilan Guru se Jatim adalah Kejaksaan Tinggi Jatim atau dengan kata lain mereka hadir atas undangan dari Kejati Jatim yang juga melibatkan rekanan.
Adanya hanya satu rekanan pengada barang DAK 2008 yang hadir sekaligus menjadi pembicara dalam forum tersebut dan patut diduga mempunyai kepentingan untuk memonopoli pengadaan dengan pola memberikan hal-hal yang yarus dipatuhi oleh Kepala Dinas dan Kepala sekolah
Diduga Tidak ada pos anggaran untuk sosialisasi DAK Pendidikan di Kejati Jatim
 
 
Kondisi di Lapangan :
 
Dari data yang masuk pada kami, factor Orchid Batu inilah yang dijadikan sebagai alat penekan ke Kepala Dinas Pendidikan Kota / Kabupaten Setempat dan para kepala sekolah penerima DAK Pendidikan 2008, ini yang mengakibatkan banyak produk DAK 2008 yang ditawarkan oleh pengada barang yang diduga spesifikasi tehnisnya tidak sesuai dengan Juklak Juknis yang ada di luluskan oleh Panitia pengada Barang dan atau team verifikasi barang, pada hal di beberapa daerah lain , seperti di Dinas Pendidikan Pati Jawa Tengah, begitu tim verifikasi barang DAK 2008 menyatakan bahwa barang yang ditawarkan pengadaan barang tersebut under spek, pengadaan barang tersebut dilarang menawarkan produk-produknya ke Sekolah penerima DAK 2008, sedang kondisi di Jawa Timur adalah kebanyakan berbeda dengan kondisi di Pati Jateng, artinya Tim Verifikasi Produk DAK 2008 di Jatim hanya memberikan nilai saja atas barang-barang yang ditawarkan, semakin barang tersebut under spek semakin
 rendah nilainya, tapi oleh pihak Dinas Pendidikan Setempat, mereka masih diperkenankan menawarkan produk tersebut ke sekolah, dari titik inilah menurut kami Orchid Batu berperan, begitu juga dengan dan Dekon untuk Pendidikan 2008 yang bermulanya di Hotel Purnama Batu menimbulkan hal yang sama seperti keadaan DAK, jadi begtu Dinas Pendidikan setempat didatangi mereka jawabannnya akan sama, yakni “itu semua seudah diurus oleh Disdik Jatim”, pada jelas jelas yang berhak mengeluarkan Surat Pembelian menurut Juklak Juknis adalah Sekolah Penerima Dekon
 
 
2. Usut Dugaan Penyimpangan atas pelaksanaan Dana Dekonsentrasi (Dekon) Pendidikan untuk proyek rehabilitasi Gedung Sekolah di 6 SMP di Bojonegoro dan 6 SMP di Pacitan.
 
Dasar :
 
a.     Kasus dugaan ini sudah cukup lama masuk ke Polda Jatim atas pengaduan dari Sub Kontraktor, tapi sampai dengan hari ini proses penyelidikannya belum tampak kejelasannya pada hal bukti-bukti yang sudah cukup terukur.
b.     Proyek yang dibiayai oleh Dana Dekon, pada prinsipnya sama dengan proyek pendidikan yang dibiayai oleh dana DAK, semua adalah melalui methode Block Grant atau Swakelola dari Sekolah penerima dana, tapi dalam prakteknya (mungkin ini diduga diakibatkan oleh system sosialisasi yang telah di bahas dalam point 1), biasanya rekanan itu akan mendapatkan pekerjaan setelah mendapatkan “Surat Tugas”, yang dibiasanya dikeluarkan dan ditandangani oleh Pak Harto (Staff Biasa Kepala Diknas Jatim) yang ditujukan ke Kepala dinas kota/kabupaten dan atau sekolah penerima.
 
 
3. Usut dugaan penggunaan fasilitas dan atau kegiatan di Lingkungan Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk di arahkan mendukung calon Gubernur Tertentu. Dasar :
 

Tidak pernah tuntasnya penyelidikan atas tuntutan dan atau laporan masyarakat tentang penggunakan dana APBD untuk mencetak buku panduan Unas dan SPMB yang sampulnya bergambar salah satu calon gubernur dan telah disebarkan melalui Diknas Jatim ke seluruh Diknas se-Jatim dan sudah dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK)  Polda Jawa Timur
Adanya pertemuan yang di selenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jatim, dan di hadiri oleh seluruh Kepala depag se jatim di Hotel Purnama Batu beberapa hari yang lalu yang menghadirkan salah satu calon Gubernur Jatim sebagai pembicara sela
Fasilitas Publik harus Netral
 
 
Bahwa Akibat dari dugaan persekongkolan diatas (Point 1), sudah banyak dirasakan oleh para rekanan, kepala sekolah dan atau kepala Dinas Kota Kabupaten, dan adalah benar dan sesuai dengan kenyataan apa yang telah di tulis oleh Teman-Teman di Harian Surya tanggal 3~4 September (Terlampir), dan adalah juga benar dan sesuai dengan kondisi dilapangan pernyataan Teman-teman dari Lumbung Informasi Rakyat (Lira) di Harian Duta masyarakat Tgl 3 Agustus 2008 (terlampir), untuk itu kami dari GMPP, berharap data-data ini bisa dijadikan  bukti awal oleh Polda Jatim untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
LAMPIRAN-LAMPIRAN
 
Sumber : http://n2.nabble.com/Kejaksaan-Tinggi-Jawa-Timur-Jadi-Preman---Makelar-Proyek-----td548116.html
KRONOLOGIS PERTEMUAN 9 JULI 2008 DI ORCHID HOTEL BATU:
 
1. Tanggal 9 Juli 2008, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Mengundang seluruh Kepala Dinas Pendidikan kabupaten dan Kota di propinsi JawaTimur (dengan penekanan undangan bahwa Kepala Dinas kabupaten danKota harus hadir sendiri, tidak boleh diwakilkan) dan Perwakilan Sekolah2 di kabupaten dan kota di Jawa Timur yang menerima bantuandana dari pemerintah pusat yang berupa Dana Alokasi Khusus (DAK)/Dana APBN, untuk rehabilitasi gedung SD yang rusak dan program peningkatan mutu SD (sekolah dasar) yang berupa pembelian buku, alat peraga pendidikan dan multi media, dengan thema pertemuan sebagaimana tertera dalam undangan dan, spanduk dalam ruangan pertemuan yakni: "sosialisasi program hokum dan pelaksanaan DAK tahun Anggaran 2008" Tempat acara di Hotel Royal Orchids Garden, Kota Batu, Jawa Timur
 
2. Berturut-turut berbicara didalam forum tersebut:
 
a. Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur yang meberikan kata pengantar
 
b. Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang memberi gambaran sekilas kenapa harus melakukan acara tersebut dan menyatakan bangga bahwa permintaanya dipatuhi, bahwa seluruh kepala dinas hadir tanpa diwakilkan kepada staff. Untuk itu diminta menyimak apa yang akan disampaikan oleh para asisten dari kantor kejaksaan tinggi jawa timur.
 
c. Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi JawaTimur yang memaparkan tentang bagaimana pelaksanaan program DAK pendidikan tahun anggaran 2008
 
d. Asisten Intel (Asintel) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang jugamemaparkan tentang bagaimana pelaksanaan program DAK pendidikantahun anggaran 2008. Baik Aspidsus maupun Asintel Kejaksaan TinggiJawa Timur dalam memaparkan pelaksanaan program DAK pendidikan 2008tersebut, menjelaskan berdasarkan paper/naskah yang dibagikanpanitia acara sebelum para peserta memasuki ruangan. Paper/naskahtidak ada keterangan bahwa ini penjelasan dari siapa atau dari instansi mana. Baik Adpidsus maupun asintel Kejaksaan Tinggi Jawa Timur intinya menekankan, agar perwakilan kepala sekolah yang hadir dan parakepala dinas se-jawa timur (untuk diteruskan kepada sekolah2diwilayahnya) dalam melaksanakan program DAK tahun anggaran 2008,khususnya dalam pekerjaan pengadaan barang untuk peningkatan mutu sekolah, berpedoman kepada paper/naskah tersebut.Jadi pertemuan atas undangan Kejaksaan Tinggi jawa Timur tersebut,khusus membahas pekerjaan pengadaan barang untuk peningkatan
 mutusekolah yang merupakan salah satu bagian dalam program DAKpendidikan tahun 2008.
 
e. Bagian Penerangan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Intinya menerangkan bahwa sebaiknya apa yang disampaikan Aspidsusdan Asintel dipatuhi oleh Kepala Dinas dan sekolah, dari pada nanti kena sanksi hukum. Peserta yang tadinya sedikit banyak sudah merasa tertekan, ter-intimidasi, Dalam session ini perasaan ter-intimidasi semakin kuat, karena Bagian Penerenagan Kejaksaan Tinggi Jawa Timurini sambil berceramah diselingi menyanyikan lagu2 yang dirubah liriknya, misalnya,... awas kalau tidak ikut akan terkena bahaya...awas hati hati nanti bisa saya kau kumasukkan bui (penjara)... awas jangan anggap enteng nanti kamu akan kena kerangkeng(kurungan )..hahaha... hihihi bisa masuk penjara dsb. (lagu asli untuk film cinderela versi indonesia)
 
f. Para peserta yang selain sudah merasa tertekan ini juga semakin bingung, karena sebenarnya untuk pelaksanaan program DAK ini secara keseluruhan maupun yang dibahas didalam forum tersebut (pengadaan barang untuk peningkatan mutu) sudah diatur didalam buku panduan petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan DAK tahun anggaran 2008 yang berisi peraturan menteri, Surat edaran Dirjen dsb, dimana dalamjuknis tersebut juga sudah berdasar pada beberapa peraturanperundangan yang berlaku. (sebagaimana juga disebutkan oleh parapejabat kejaksaan tinggi jawa timur pada awal acara, bahwa tidak perlu risau bahwa dengan melaksanakan program DAK, termasuk didalamnya pengadaan barang untuk peningkatan mutu, sesuai dengan juknis berarti sudah mentaati peraturan yang lain seperti Kepres tahun 1980 dsb)
 
g.Tetapi pada pembicaraan selanjutnya yang berdasar paper/naskah yang dibagikan tersebut, para peserta menjadi tertekan dan bingung. Sebab jika ini adalah acara sosialisasi pelaksanaan program DAK tahun 2008, yang berwenang adalah pihak Depdiknas sesuai dengan tingkatan wilayah masing masing. Dan harusnya dalam program sosialisasi, adalah bagaimana peserta dapat memahami juknis tersebut dengan benar dengan menerangkan secara lebih jelas dan mempelajari secara bersama buku juknis tersebut. Tapi yang disampaikan adalah paper/naskah yang tidak diketahui dari instansi mana yang membuatnya, yang dikatakan bahwa ini adalah penjabaran juknis khusus pengadaan barang untuk peningkatan mutudalam program DAK tahun anggaran 2008. Sehingga ada pertanyaan (dalam hati atau bisik-bisik tentunya, karena tidak berani) jika peserta mengikuti langkah ini, apakah benar benar benar aman secara hukum. Karena memang yang bicara adalah para petinggi Kejaksaan Tinggi Jawa Timur,
 akan tetapi dalam paper/naskah tidak tertulis, siapa penulis naskah, dan atau dari instansi mana. Jadi tetap saja jika melaksanakan sesuai isi paper tersebut, akantetapi jika suatu saat ternyata bermasalah secara hukum, atau seperti yang lazim terjadi bahwa jika aparat tidak berkenan tetap akan dapat dicari kesalahan, yang dapat membuat mereka (dinas dan kepala sekolah) menjadi bermasalah dengan hukum, dihadapan aparat hukum termasuk salah satunya adalah para jaksa. Sebab semua pihak bisa saja mengelak dengan mengatakan bahwa paper/naskah itu adalah bukan tulisannya atau bukan dari instansinya.
 
h. Keresahan ini juga muncul karena mekanisme pengadaan barang untuk peningkatan mutu dalam program DAK tahun anggaran 2008, sudah dijelaskan dengan sangat jelas didalam juknis. Tapi dalam penjelasan berdasar paper/naskah tersebut oleh para petinggi kejaksaan tinggi hal yang sebetulnya tidak terlalu rumit sebagaimana tertera dalam juknis, dibuat sedemikian rupa sehingga nampak menjadi lebih rumit/sulit dipahami. Apalagi dengan beberapa penambahan penambahan persyaratan yang sebenarnya tidak diatur dalam juknis, dan terkesan mengada-ada, tetapi menimbulkan tekanan atau perasaan terintimidasi tersendiri bagi para peserta, karena selalu ada penjelasan, bahwa jika tidak seperti paper/naskah ini bisa saja menjadi bermasalah secara hukum. Apalagi ada penjelasan sambil menyanyikan lagu-lagu yang diubah liriknya menjadi lagu-lagu ancaman untuk memenjarakan kepala dinas, staff dinas maupun kepala sekolah. Bisik-bisik antar kepala dinas bersama staff maupun kepala
 sekolah yang hadir, menyatakan benar atau salah penjelasan ini jika dibandingkan dengan juknis, tapi yang bicara adalah para petinggi kejaksaan tinggi jawa timur, yang punya wewenang untuk memeriksa atau memproses orang secara hukum dan punya wewenang tanpa batas untuk memeriksa orang semaunya. Benar atau salah, jika tidak memenuhi dan menuruti keinginan para petinggi kejaksaan tinggi ini bisa repot nantinya. Karena yang benar bisa dijadikan bersalah dan tidak selamat kalau tidak nurut. Dan jika meski melakukan hal yang tidak benar karena menuruti keinginan para petinggi itu bisa dijadikan hal yang benar. Bisik-bisik ini muncul karena, selain banyak hal-hal yang ditambah-tambahkan diluar apa yang diatur dalam juknis, sehingga menambah semakin rumit proses yang sebenarnya tidak terlalu sulit (Apalagi dengan intimidasi yang terjadi didalam forum, membuat orang menjadi bingung untuk melaksanakan, karena saking rumitnya untuk menjalankan program dan takut
 jika salah melangkah karena diberi pemahaman yang rumit dan menakutkan karena ancaman akan dimasukkan penjara). Juga kalau diteliti bahwa penjelasan yang ada didalam forum tersebut, beberapa hal sebenarnya menjadi bertentangan atau melanggar juknis. Maka muncullah bisik-bisik itu, menjalankan juknis bisa menjadi salah, menjalankan apa yang disampaikan dalam forum, itu bisa juga menjadi melanggar juknis dan artinya bias dikategorikan melanggar hukum. Wah.. wah..wah.. maju kena mundurkena... sama-sama bisa masuk penjara... Tapi karena yang punya kuasa adalah para petinggi hukum ini, ya kita nurut saja apa yang dikehendaki oleh mereka. Demikian lebih kurang saling curhat diantara para peserta.
 
i. Pada situasi yang demikian, ketika acara akan berakhir, di depanforum tampillah Bapak. Muchlis, yang menyatakan bahwa beliau adalah utusan resmi Direktorat/ Depdiknas Pusat. Beliau mengatakan agar para peserta tidak boleh pulang dulu, karena ada pembicara terakhir. Menurut beliau, pembicara terakhir ini adalah pembicara Kunci. Menurut beliau kenapa dikatakan kunci, karena ibarat ruangan tempat forum tersebut berlangsung jika tidak dikunci, maka semua orang bias masuk ruangan. Maka harus dikunci agar tidak ada orang lain yang bisa ikut masuk ruangan. Artinya Program DAK 2008 khususnya pengadaan barang untuk peningkatan mutu itu jangan sampai orang lain bisa ikut dalam pekerjaan ini. Maka ditampilkanlah oleh Bapak Muchlis, seorang direktur sebuah perusahaan yang merupakan suplier buku, alat peraga pendidikan dan multi media yang akan memenuhi kebutuhan dalam pekerjaan pengadaan barang untuk peningkatan mutu dalam program DAK tahun anggaran 2008. Maka
 hadirin dipersilahkan menyambut kehadiran Direktur PT. Bintang Ilmu.Maksudnya dengan mengambil istilah ruangan harus dikunci tersebut, agar seluruh dinas pendidikan dan kepala sekolah di jawa timur yang mendapatkan bantuan dana dari pemerintah yang bersumber pada APBN tersebut, memberikan pekerjaan pengadaan barang untuk peningkatan mutu dalam program DAK tahun anggaran 2008 hanya kepada PT. Bintang Ilmu sebagai distributor tunggal atau kepada agen2 pemasaran dari PT. Bintang Ilmu saja. Orang lain tidak boleh masuk.Bahkan sebagai utusan direktorat/ depdiknas pusat Bapak Muchlis menyatakan, bahwa Direktur Bintang Ilmu ini kemana-mana keseluruh Indonesia beliau ajak serta, agar dinas pendidikan dan kepala sekolah di seluruh Indonesia tahu siapa yang diperbolehkan melaksanakan pekerjaan pengadaan barang untuk peningkatan mutu dalam program DAK tahun 2008. Karena PT. Bintang Ilmu sebagai Agen Tunggal, sebagaimana disebutkan pada brosur2nya yang dibagikan
 kepada peserta disitu maupun diseluruh Indonesia, mempunyai banyak agen pemasaran. Apalagi forum ini yang turut mengundang adalah para petinggi kejaksaan tinggi jawa timur, dengan pesan agar kepala dinas tidak mewakilkan kepada staff, harus hadir sendiri secara langsung. Untuk itu harus diperhatikan oleh seluruh kepala dinas dan kepala sekolah itu, jika tidak menuruti apa yang telah disampaikan bisa berakibat fatal bagi kepala dinas dan para kepala sekolah.
 
j. Di depan forum Direktur Bintang Ilmu, menyampaikan bahwa Bapak Muchlis ini beliau bawa kemana-mana, keseluruh Indonesia. Agar seluruh Dinas pendidikan dan kepala Sekolah, menjadi patuh dan dengan patuh mereka aman. Beliau juga menyampaikan bahwa Beberapa kepala dinas di beberapa kabupaten, nyaris masuk penjara (beliau mengungkapkan dengan kata-kata: kepala dinas itu karena gak nurut pada kita.. tinggal 2cm dari pintu penjara..tinggal didorong masuk.. langsung blamm... merasakan sengsaranya hidup dibalik terali besi/ mengutip lagu2 yang dilantunkan Bagian Penerangan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sebelumnya) Karena kemudian akhirnya nurut kepada Bintang Ilmu, sebagaimana apa yang disampaikan oleh Bapak Muchlis tadi, maka beberapa kepala dinas pendidikan itu oleh Direktur Bintang Ilmu diselamatkan dan tidak jadi masuk penjara. Direktur PT. Bintang Ilmu juga menegaskan bahwa paper dan semua apa yang telah disampaikan oleh para petinggi kejaksaan tinggi jawa
 timur tersebut bersumber dari dirinya, para petinggi tersebut tinggal melaksanakan saja. Direktur Bintang Ilmu dalam forum tersebut juga menyayangkan bahwa kepala kejaksaan negeri di jawa timur yang hadir dalam forum ini hanya dua. Dia menyatakan di jawa barat, jawa tengah, banten, dan beberapa daerah yang lain, tidak berani seperti ini. Seluruh kepala kejaksaan negeri di propinsi lain pasti hadir jika dia membuat acara semacam ini. Apalagi ini Kepala kejaksaan Tinggi adalah sebagai pihak yang mengundang dan Kepala kejaksaan Tinggi dan semua asisten yang penting dan berkompeten berbicara langsung agar acara ini berlangsung dan menghasilkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan. Melihat kenyataan adanya kemungkinan ketidak-patuhan hampir semua kejaksaan negeri ini (dilihat dari yang hadir hanya 2 kepala kejaksaan negeri) mungkin perlu dipertimbangkan bahwa di Jawa Timur sebaiknya nantinya proses pemeriksaan kepada dinas pendidikan dan kepala sekolah yang
 tidak patuh pada arahan pada forum ini,dilakukan oleh kejaksaan tinggi, bukan oleh kejaksaan negeri. Dalam kesempatan itu, Direktur Bintang Ilmu juga menyesalkan bahwa beberapa kota dan kabupaten di jawa timur telah mulai melaksanakan proses tahap awal program DAK tahun 2008 baik berupa penetapan sekolah penerima bantuan, sosialisasi program kepada sekolah dan seterusnya. sebelum mendapatkan bekal dari forum ini. Ungkapan ungkapan seperti.. Ingin masuk penjara rupanya.. dan berbagaisindiran lainnya meluncur dari Direktur Bintang Ilmu. Ungkapan ini muncul karena pada beberapa kabupaten dan kota yang sudah mulai menjalankan program ini, diperkirakan pemesanan barangtidak kepada PT. Bintang Ilmu maupun agen agen pemasarannya. Sebab PT. Bintang Ilmu belum siap. Jadi terungkap dalam forum sebenarnya bahwa PT. Bintang Ilmu belum selesai mempersiapkan diri untuk menjalankan program DAK tahun 2008 ini. Maka dengan diadakannya forum ini diharapkan dinas dan
 sekolah jangan melaksanakan program ini dahulu. Maka dalam penjelasan di dalam forum ini dibuatlah sebuah proses yang cukup rumit dan proses yang panjang,lama berliku-liku (jika dicermati sebenarnya hal itu menjungkir-balikkan apa yang diatur dalam juknis dan bertentangan dengan juknis), barulah dinas dan sekolah boleh menjalankan program.(NB: padahal dalam juknis pelaksanaan DAK sudah jelas bahwa sejak juknis selesai dibuat, apalagi sebelumnya sudah ada sosialisasi-sosialisasi oleh direktorat kepada dinas pendidikan kabupaten dan kota, mereka sudah bisa mulai mengawali proses pelaksanaan program ini, yakni penetapan sekolah penerima bantuan, sosialisasi kepada sekolah penerima bantuan dan seterusnya) Dengan sindiran yang sedikit banyak berisi intimidasi tersebut beberapa kepala dinas yang nama daerahnya disebut oleh Direktur Bintang Ilmu, sebagai dinas yang tidak patuh dan tidak bisa atau disindir dengan ungkapan tidak mau mengarahkan sekolah sekolah
 penerima DAK, agar setiap programnya ada dalam kendali dan pengkondisian dari dinas itu, hanya bisa tersenyum kecut menoleh kekiri dan kekanan memandang rekan sejawat dari kabupaten dan kota yang lain. Ditambah rasa takut ibarat sampai keluar keringat sebesar
butiran jagung melihat para petinggi aparat hukum yang pandangan matanya langsung tertuju fokus kepada diri mereka.
 
k. Acarapun selesai, dan selanjutnya Direktur Bintang Ilmu beserta karyawannya yang menjadi panitia acara tersebut dan para agen pemasarannya , mendekati para kepala dinas dan kepala sekolah yang ada, dengan menekankan agar patuh pada apa yang telah disampaikan oleh para petinggi kejaksaan tinggi jawa timur, kalau kepala dinas dan kepala sekolah ingin selamat dan tidak masuk penjara. Dan diberitahukan bahwa dengan telah jelas dengan adanya forum ini, bahwa program ini adalah program dari aparat penegak hukum/kejaksaan dan dengan itu agar kepala dinas tidak terkena masalah hukum, sebaiknya mau dan bisa mengkondisikan sekolah penerima DAK di wilayahnya agar tidak menerima orang lain, sebagaimana diungkapkan dalam forum yang menampilkan direktur Bintang Ilmu dengan mengambil perumpamaan istilah kunci. maka waktu para kepala dinas dan kepala sekolah berkemas mau pulang dari acara pertemuan, sering muncul ungkapan diantara mereka..Sudahlah kita nanti harus
 beli barangnya kejaksaan ini saja biar selamat... daripada nanti dinas atau sekolah tidak beli barang dari kejaksaan ini, pasti gak selamat. benar atau salah mereka yang berhak menentukan.. . mereka berhak memanggil untuk diperiksa dengan seenaknya dan semaunya kok.. walau diperiksa tidak ditemukan kesalahan saja... pasti akan dipanggil terus menerus berkali-kali. sampai kapok, sampai ditemukan kesalahan atau sampai terpaksa mengaku salah. lha iya kalau rumahnya dekat dengan kantor kejaksaan tinggi disurabaya, kalau jauh dipucuk gunung... bisa habis rumah dijual untuk ongkos transport.. belum waktu pasti banyak hilang...kapan ngurus pendidikan.. . juga kapan guru bisa mengajar pada muridnya... belum lagi stress-nya.. . sudahlah biar aman kita beli saja barang milik kejaksaan ini... bahkan pegawai bintang ilmu yang ada disitu ada yang menimpali.. sudahlah pak dinas harus mengkondisikan sekolah agar harus membeli barang yang merupakan program kejaksaan
 ini... meski ini dana swakelola sekolah karena merupakan dana blockgrain, tapi pasti jika program dari kejaksaan ini tidak berjalan maka dinas bagimanapun ada celah bisa dipanggil dan diperiksa, dan biasanya akan merembet pada program program lain yang dilaksanakan oleh dinas diluar program DAK. Jadinya dinas tidak aman dan tentram. Karena tinggal dorong dikit sudah bisa masuk penjara. sebagai contoh dalam DAK tahun 2007 beberapa daerah yang nurut dan mau mengkondisikan sekolah harus mengikuti program kejaksaan ini pasti selamat. sedangkan yang tidak bisa atau lebih tepat dikatakan tidak mau mengkondisikan, karena ini merupakan dana blockgrain dan dana swakelola oleh sekolah, meski sudah berjalan dengan baik dan benar, akan dipanggil berkali-kali oleh kejaksaan, jadi tidak nyaman bukan... malah pasti akan dicari celahnya pak, karena dalampelaksanaan dan administrasinya sebaik apapun akan dapat dicari celahnya. Karena yang berwenang menentukan dapat
 diperiksa atau tidak, diarahkan bersalah atau tidak itu adalah kejaksaan.... tambah suara suara itu lagi
 
 
BUKTI – BUKTI YANG MEMPERKUAT ADANYA PERTEMUAN DI HOTEL ORCHID BATU TGL 09 JULI 2008
 
----- Original Message ---
From: mediacare
To: DikBud@yahoogroups. com
Sent: Tuesday, August 19, 2008 7:54 PM
Subject: [DikBud] Klarifikasi dari Bpk Alim Tualika: Sosialisasi dana alokasi khusus pendidikan
 
Sekolah bahasa Jepang http://PandanColleg e.com/ 0361-255-225/
............. ......... ......
From: Komite Peduli Pendidikan
E-mail: komitepeduli_ pendidikan@ yahoo.com
 
 
Bersama ini kami forward/ sampaikan penjelasan dari Bpk Drs. Basa Alim Tualika Msi yang disudutkan dan difitnah oleh pemberitaan media massa cetak dan elektronik (termasuk internet) mengenai kegiatan SOSIALISASI PROGRAM DANA ALOKASI KHUSUS PENDIDIKAN (DAK) TAHUN ANGGARAN 2008 yang diselenggarakan oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, di Hotel Orchids, Kota Batu, Jawa Timur.

Sebagai sebuah Komite yang Peduli pada Dunia Pendidikan, kami merasa terpanggil untuk menyebarluaskan penjelasan hal ini karena:

1. Meskipun Bpk. Drs. Basa Alim Tualika, Msi adalah Direktur Utama PT. Bintang Ilmu, tetapi pada waktu memberikan pengarahan pada acara tersebut, beliau tidaklah berbicara sebagai/atas nama Pengusaha yakni Direktur Utama Bintang Ilmu, tapi memberikan pengarahan sebagai praktisi dan pemerhati dunia pendidikan.

2. Dalam sebuah acara klarifikasi yang diselenggarakan oleh kelompok2 masyarakat yang peduli pada dunia pendidikan beserta beberapa pejabat Kejaksaan Tinggi Jawa Timur maupun Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur yang merasa dicemarkan oleh pemberitaan yang menjurus pada fitnah oleh beberapa media massa cetak dan elektronik tersebut,  telah dijelaskan bahwa meskipun Drs. Basa Alim Tualika, Msi adalah Direktur Utama PT. Bintang Ilmu, tetapi pemilik sebenarnya dari PT. Bintang Ilmu adalah Bpk. Wimpi Ibrahim. Oleh karenanya tidak tepat jika nama PT. Bintang Ilmu dikaitkan pada terselenggaranya acara sosialisasi program DAK 2008 tersebut. Apalagi Bpk. Wimpi Ibrahim tidak hadir dalam acara tersebut dan bisa dibuktikan bahwa beliau sedang ada di Singapore dan Hongkong untuk urusan pekerjaan dan keluarga, saat acara tersebut berlangsung. Maka PT. Bintang Ilmu tidak bisa dikaitkan dengan berlangsungnya acara tersebut. Apalagi PT. Bintang Ilmu memang tidak
 berkepentingan pada acara tersebut.
 
 


3. Pengarahan yang diberikan oleh Bpk. Drs Alim Tualika Msi adalah semata2 karena terpanggil kepeduliannya sebagai praktisi dan pemerhati pendidikan, untuk memberikan penjelasan, agar para kepala dinas pendidikan kabupaten/kota dan para perwakilan kepala sekolah penerima DAK 2008 di seluruh Jawa Timur yang kurang dapat memahami peraturan yang melandasi pelaksanaan program DAK 2008, akhirnya dapat lebih mengerti dan melaksanakan program tersebut dengan lebih baik.
Karena terbukti bahwa dalam program DAK 2005, 2006, 2007 sebagian besar kepala dinas pendidikan kabupaten/kota bukan hanya di Jawa Timur ternyata tidak dapat memahami dan melaksanakan program tersebut dengan benar sebagaimana maksud dan tujuan program dari Departemen Pendidikan Nasional untuk memajukan dunia pendidikan. Sehingga hasil sebagaimana yang diharapkan oleh Departemen Pendidikan nasional tidak tercapai secara maksimal.

4. Kehadiran Bpk. Drs. Basa Alim Tualika dalam acara tersebut dan terpanggil untuk memberikan pengarahan dan sosialisasi adalah semata2 memenuhi Undangan dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur. Serta terpanggil untuk ikut serta memberikan pemahaman yang baik dan benar kepada Seluruh Kepala Dinas Kabupaten/Kota di seluruh jawa Timur, juga karena permintaan pejabat dari Departemen Pendidikan Nasional, yakni Bpk. Mukhlis yang merupakan petugas yang mendapat tugas resmi dari Direktorat Pendidikan Dasar Departemen pendidikan Nasional yang berwenang untuk memberikan acara sosialisasi pada acara tersebut.

5. Untuk itu perlu diusut dengan tuntas, siapa yang merekam/ menyebarluaskan apa yang disampaikan pada  acara yang bersifat tertutup serta tidak ada ijin bagi media massa untuk meliput dan menyebarluaskannya. Karena untuk memberitakan acara yang diselenggarakan oleh aparatur negara yang tertutup perlu klarifikasi terlebih dahulu atau menunggu pernyataan resmi (apabila diperlukan dan tidak mengganggu kerahasiaan penyelenggaraan aparatur negara) setelah acara berlangsung.
Dan karena akibat membocorkan serta menyebarluaskan hal ini ternyata telah menimbulkan keresahan masyarakat, fitnah dan adanya kesalahpahaman pengertian dalam masyarakat, maka pelaku perlu mendapat sanksi hukum yang tegas. Apalagi jika acara tersebut dapat dikategorikan sebagai rahasia negara, karena menyangkut peningkatan mutu pendidikan nasional kita.

6. Patut diduga bahwa pelaku pembocoran dan penyebarluasan berita yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat ini adalah oknum undangan yang hadir dalam acara sosialisasi tersebut. Bisa saja mereka salah satu atau beberapa Kepala Dinas atau staff Dinas Pendidikan kabupaten/kota maupun kepala sekolah yang memang berniat tidak mematuhi peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.Karena pertemuan tersebut berdasarkan keterangan yang diperoleh dalam forum klarifikasi adalah tertutup dan bisa dikategorikan rahasia negara, dimana yang hadir adalah mereka yang diundang saja dan harus didata dan dicocokkan identitasnya dengan menunjukkan tanda pengenal.

7. Patut diduga pembocoran dan penyebarluasan berita yang dapat meresahkan masyarakat ini terkait dengan mental birokrasi dan pelaksana dalam dunia pendidikan yang korup.

Padahal mereka seharusnya sudah sangat berterimakasih bahwa mereka telah diberikan bantuan untuk peningkatan mutu pendidikan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Mereka tinggal mematuhi saja peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

8. Untuk itu kami selaku Komite Peduli Pendidikan bertekad memberantas korupsi dan mental yang korup, khususnya dalam program peningkatan mutu dunia pendidikan melalui program DAK tahun anggaran 2008.

Tekad ini akan kami realisasikan dengan mengawasi dan mengontrol dengan seksama dinas pendidikan kabupaten/kota maupun sekolah penerima bantuan DAK. Barang siapa yang tidak mematuhi apa yang disampaikan dalam sosialisasi program DAK pendidikan tahun 2008 tersebut, akan kami berikan laporan dan rekomendasi kepada aparat penegak hukum untuk memeriksa dan menindaknya sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu dapat juga diperiksa, karena patut diduga mereka adalah yang membocorkan dan menyebarkan berita yang meresahkan masyarakat.

Untuk itu kami salut kepada aparat hukum dimana dalam forum sosialisasi maupun klarifikasi, yang telah menyambut baik tekad kami dan berkomitmen akan menindaklanjutinya dengan segera, sebagai bentuk pengabdian kepada penegakan hukum guna memberantas korupsi dan mental yang korup.

Hal ini tidak hanya di propinsi Jawa Timur saja, akan tetapi akan kami lakukan diseluruh Indonesia.

Demikian hal ini disampaikan agar tidak terjadi kesimpang-siuran informasi dan agar tidak terjadi keresahan dalam masyarakat

Homat kami,

Komite Peduli Pendidikan



 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


alimtualeka <alimtualeka@ yahoo.com> wrote:

Tanggal: Thu, 14 Aug 2008 02:16:33 -0000
Dari: "alimtualeka" <alimtualeka@ yahoo.com>
Kepada: media_nusantara@ yahoogroups. com,jurnalisme@ yahoogroups. Com
Topik: Gonjang Ganjing DAK Pendidikan


TANTANGAN HUKUM DI INDONESIA
DARI PENYIMPANGAN MENUJU PERBAIKAN
OH… BETAPA SULITNYA ?!

 Oleh : Drs. Basa Alim Tualeka, MSi
(Praktisi & Pemerhati Pendidikan)

Sebagai Pemerhati dan Praktisi PENDIDIKAN, sebuah tantangan besar membuka mata hati saya untuk terus berpikir : "Kenapa dan kenapa sulit membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kami cintai ini agar TAAT Hukum dan terlepas dari jerat manusia-manusia rakus dan serakah yang hanya ingin berjuang menghalalkan berbagai cara untuk melakukan pembohongan dan memberikan pembodohan kepada masyarakat pendidikan yang kondisinya masih terpuruk hingga saat ini.


Sebagai pemerhati, praktisi dan usahawan, jiwa sebagai pemerhati dan praktisi di bidang pendidikan tidak mungkin hilang dalam diri saya.

Berbeda dengan jiwa usahawan yang hari ini ada, besok bisa tiada. Itu sebabnya, memperhatikan kondisi pendidikan saat ini, saya sungguhtergelitik untuk berani menyampaikan informasi kepada masyarakat umum serta pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Hal itu saya lakukan karena begitu banyaknya penyimpangan tentang pelaksanaan BOS, BOS BUKU, DAKPendidikan yang terjadi sejak tahun 2005, 2006, 2007 hingga sekarang.(Data dari masyarakat, LSM, Surat Kabar, Pengawas, dan Yudikatif ada pada saya).

Adanya persepsi yang dimunculkan oleh seseorang melalui email dan dieksploitasi oleh pers dan LSM yang saya anggap ceroboh tanpa melakukan cek dan recek dan sebagian bersifat fitnah, bohong tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tentang keterlibatan saya waktumenyampaikan KIAT MELAKSANAKAN DAK 2008 BIDANG PENDIDIKAN SESUAI JUKNIS DAN PENJABARANNYA dalam acara yang dilaksanakan oleh  pihak KEJATI Jawa Timur dan Depdiknas,

saya menduga bahwa pengirim berita tersebut dimuati oleh perilaku sebagian orang/pengusaha yang ingin tetap mendukung terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan DAK tahun 2006 dan 2007 dapat terlaksana lagi di tahun 2008. Ini merupakan suatu Tantangan bagi saya selaku pemerhati, praktisi, usahawan dan pihak Penegak Hukum khususnya.

Sebagai Pemerhati dan Praktisi Pendidikan, saya ingin memberikan informasi agar masyarakat dapat mengetahui lebih jelas dan teliti tentang apa yang terdapat di dalam Juknis DAK 2008 berbeda dengan Juknis DAK tahun-tahun sebelumnya, dimana peranan Bupati & Walikota untuk melakukan verifikasi terhadap barang/buku/ sarana multimedia harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pembelian oleh pihak sekolah dilakukan. Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam Juknis DAK Pendidikan tahun 2008. Itu sebabnya, informasi yang saya lakukan adalah untuk membantu masyarakat sekolah penerima bantuan DAK 2008 dapat lebih hati-hati. Karena jika kurang memahami isi Juknis DAK tersebut, pembeli bisa terjerat hukum karena membeli barang yang down speck dan tidak sesuai spesifikasi yang ditentukan.

Adapun Kiat-Kiat yang saya buat dan sampaikan serta lampirkan dalam acara berbentuk kajian saya tersebut, tidak saya paksakan untuk diikuti walau pada akhirnya bisa membuat kecut para pelaku penyimpangan, sehingga memunculkan pemberitaan yang bersifat counter
terhadap Kiat-kiat saya tersebut dan menurut dugaan saya, bukan tidak mustahil hal itu didukung oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan pembohongan dan pembodohan kepada para stake holder (sekolah penerima bantuan). Bagi saya, ini suatu tantangan dan akan saya hadapi tantangan dari kelompok/konsorsium pembohong yang rela memasukkan kepala sekolah dan pejabat Diknas ke dalam penjara. Dari penjelasan saya diatas, mohon kepada pihak-pihak terkait untuk hati-hati terhadap banyaknya musang berbulu domba atau pencuri bekerjasama dengan pihak-pihak tertentu. Terima kasih.




Drs. Basa Alim Tualeka, MSi
(Kandidat Doktor UNTAG Surabaya)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BUKTI IMPLIKASI PERTEMUAN DI HOTEL ORCHID BATU DAN HOTEL PURNAMA BATU
 
 
HARIAN DUTA MASYARAKAT
Rabu, 03 September 2008
 
Penegak Hukum Sudah 'Dibeli', Apa yang Bisa Diharapkan?
Giliran Lira Bongkar Borok Disdik Jatim
 
Setelah Hipmi, kini giliran Wakil Gubernur Lira Jatim, Muhammad Muljanto Akbar bersuara lantang soal 'borok' di Disdik Jatim. Berikut kutipan wawancaranya.
 
Apa yang mendasari Lira (Lumbung Informasi Rakyat) Jatim turut berteriak lantang soal dugaan pat gulipat di Disdik Jatim?
 
Begini, Lira selama ini concern berupaya menciptakan good and clean government. Nah, kasus Hotel Orchid Batu (pertemuan tripartit yang melibatkan 3 institusi, Kejati Jatim, Disdik, dan PT Bintang Ilmu), maka Lira patut mengkritisi karena tercium bau persekongkolan.
 
Apa fokus Lira dalam masalah ini?
 
Fokus Lira Jatim adalah DAK, Dekon Pendidikan, dan dana-dana lainnya yang dibiayai APBN dan APBD. Untuk diketahui Lira Jatim telah melakukan investigasi masalah DAK Pendidikan dan kasus yang saya sebutkan tadi.
 
Di Sampang, ada dugaan korupsi di pengadaan barang DAK Pendidikan 2007. Di beberapa daerah lain kami masih terus melakukan investigasi, seperti Kediri kasus DAK Pendidikan yang telah terbukti bahwa spesifikasi computernya under spec, yang konon sudah masuk dalam penyidikan Kejati Jatim ternyata sampai dengan hari ini belum jelas.
 
Apa artinya?
 
Ini menjadikan preseden buruk karena pihak yang terlibat dalam penyimpangan DAK Pendidikan bisa mengulangi, dan atau melakukan hal serupa untuk pengadaan hal yang sama di proyek yang sama yakni DAK dan Dekon Pendidikan 2008.
 
Apakah aparat penegak hukum sudah bergerak?
 
Menurut saya kurang maksimal. Kasus ini kelihatannya sudah tercium oleh Polda Jatim. Konon, kabarnya Bapak Ardo dari Disdik Jatim telah dimintai keterangan Polda Jatim, karena beliau memang yang memegang proyek dekon pendidikan SMP, SMA tahun 2007.
 
Apa anda menilai penegak hukum di Jatim lembek?
 
Bukan lembek. Tetapi, ketika penegak hukum sudah dirangkul, seperti dalam kasus Hotel Orchid Batu, Apalagi yang bisa kita harapkan agar hukum bisa ditegakkan.
 
Terkait sikap Hipmi Jatim yang menyoal kasus ini, komentar anda?
 
Kami mendukung penuh. Lira Jatim sepakat dengan pendapat dari BPD Hipmi Jatim, bahwa dugaan persekongkolan tripartit itu menciptakan praktik monopoli, persaingan usaha tidak sehat, korupsi, ketakutan karena adanya pemaksaan kehendak oleh atasan dan tata kelola pemerintahan yang korup. Kami akan terjun langsung.
 
Untuk terjun, tentu Lira sudah menggenggam data penyimpangan di Disdik?
Sangat banyak. Di Nganjuk, pengadaan proyek telah di kondisikan oleh Disdik Jatim yang membuat Kadisdik dan kepala sekolah tidak bisa memilih rekanan.
 
Selain di Hotel Orchid Batu untuk DAK 2008 dan Hotel Purnama untuk Dana Dekon, ternyata mereka juga di tekan oleh kelompok lain yang mengatasnamakan grup menantu Wakajagung. Data kami cukup banyak. Kejati dan Polda harusnya sudah bergerak.
 
Soal pelibatan instansi pemerintah dalam Pilgub, apakah itu termasuk penyimpangan?
 
Jelas sekali itu penyimpangan. Kepala Disdik Jatim, Ir Rasiyo sering mengundang Kepala Disdik kota/kabupaten dan Kepala Depag untuk sebuah acara yang dikondisikan untuk mendukung Cagub Soekarwo.
 
Dengan fakta itu semua, apa yang akan dilakukan Lira?
 
Kami akan memproses ini hingga ke meja hijau. Segala praktik ilegal di Disdik Jatim akan kami bongkar sampai ke akar-akarnya. Lihat saja.
 
Bisa diberitahu langkah konkritnya?
 
Kami akan mendesak KPK, BPK, Kejagung, Mabes Polri untuk segera melakukan penyelidikan untuk permasalahan tersebut dengan batas waktu sampai 60 hari kerja.(aya)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Para Kasek Keluhkan DAK, Anggap Jadi Alat Penekan Oknum Dinas           
 Harian Surya,  Wednesday, 03 September 2008
 
 
PASURUAN - SURYA-Program dana alokasi khusus (DAK) pendidikan, yang seharusnya untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, diduga berbalik arah. Pasalnya, program DAK sebesar Rp 250 juta/ sekolah itu diduga menjadi  oknum Dinas P dan K menekan para kepala sekolah (kasek). “Banyak pihak berupaya merebut uang senilai Rp 250 juta ini,” keluh AY, seorang kasek SD di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, kepada Surya, Selasa (2/9).
 
Dia menambahkan, dana itu bersifat swakelola untuk pembangunan phisik gedung maupun pengadaan sarana prasrana  serta meubeler sekolah. “Namun dengan berbagai dalih dan menakut-nakuti, oknum dinas meminta sekolah menuruti mereka agar kami berhubungan dengan rekanan tertentu,” keluhnya.
 
Di Kota Pasuruan terdapat 68 SD/MI penerima DAK, terbagi untuk kategori I (9 sekolah) dan kategori II (58 sekolah). Di sekolah yang masuk kategori I, dana Rp 250 juta yang mereka terima digunakan untuk pembangunan gedung sekolah.  Sedangkan sekolah-sekolah dalam kategori II, dana Rp 250 juta dipakai pembangunan gedung dan pengadaan meubeler Rp 160 juta dan pengadaan sarana-prasarana Rp 90 juta.
 
Menurut para kasek, sesuai peruntukkannya DAK sebagai dana swakelola dari depdiknas diserahkan sekolah agar dikelola sesuai petunjuk teknis. Namun, imbuh mereka, pihak sekolah ternyata  terus dintervensi.
 
“Untuk pembelian sarana prasarana seperti buku, alat peraga dan multi media senilai Rp 90 juta, kami ditekan agar memesan ke rekanan yang ditunjuk. Bahkan oknum itu menyodorkan surat pesanan berlogo Pemkot Pasuruan yang diketiknya agar kami teken,” terang AY seraya menunjukkan surat pesanan dan perjanjian yang ditekennya.
AY dan kawan-kawan mengaku khawatir akan terjerat kasus hukum.  “Jika barang yang dikirim rekanan ternyata tidak sesuai juknis, waduh, kami bakal diseret oleh jaksa dan ditempatkan seperti koruptor,” kata seorang kasek di Kecamatan Bugul Kidul yang mengaku bernama Suparto.
Hingga Selasa (2/9) petang, upaya Surya meminta konfirmasi ke sejumlah pejabat di lingkungan Dinas P dan K Kota Pasuruan tak berbuah hasil. Didik Rame DW, kepala Dinas P dan K Kota Pasuruan, misalnya, ketika berkali-kali dihubungi via ponsel tidak mengangkat ponsel. Saat dikirimi SMS, tak dijawab. st13
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Soal Tekanan Terkait DAK Dinas P dan K Instruksikan Kasek tegas  
Harian Surya , Thursday, 04 September 2008
 
 
 
Pasuruan - Surya-Kepala Dinas P dan K Kota Pasuruan geram mendengar ulah oknum yang 'menekan' para kepala sekolah (kasek) penerima dana alokasi khusus (DAK) pendidikan agar menuruti kemauan oknum itu. Ia menginstruksikan kepada para kasek untuk mengabaikan tekanan tersebut sekaligus bertindak sesuai hati nuraninya. “Beberapa kepala sekolah saya panggil, dan mereka kami instruksikan untuk mengabaikan 'pengkondisian' yang dilakukan oknum tersebut.. Kami tekankan kepada para kasek untuk bertindak serta mengambil tindak yang seharusnya,  sesuai pilihan sendiri,” tegas Didik R Dwi Wibowo,  kepala Dinas P dan K Kota Pasuruan, kepada Surya, Rabu (3/9).
 
Seperti diberitakan para kasek SD/MI penerima DAK pendikan sebesar Rp 250 juta/sekolah mengeluhkan tekanan oknum dinas. Program DAK yang bertujuan meningkatkan mutu pendidikan berbalik menyulitkan sekolah karena para kasek dipaksa menandatangani surat pesanan barang yang diajukan oknum itu untuk memesan ke  rekanan tertentu. (Surya, 3/9).
 
Kini para kasek merasa lega setelah mendapat instruksi kepala dinas P dan K..  Sebab, dengan instruksi itu berarti mereka dapat berhati-hati dalam menjalankan tugas sesuai aturan.
“Kami lega dengan sikap tegas dinas sehingga dapat berhati-hati melaksanakan program DAK.
 
 Selain kami tidak ingin berurusan dengan jaksa sehingga dikatakan koruptor. Kami juga menginginkan program ini dirasakan semua insan pendidikan, terutama para siswa,” kata kasek di Kecamatan Gadingrejo berinisial AY. 
 
Selain itu, dengan adanya instruksi dari kepala dinas tersebut para kasek sepakat untuk memberikan perlawanan kepada oknum-oknum jika terus memaksa. “Kami ini kan terus diancam macam-macam, mulai dari pemberian sanksi hingga ancaman tidak bakal mendapat proyek lagi untuk tahun-tahun berikutnya,” tambah AY. st13
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
PERNYATAAN KOMITE PEDULI PENDIDIKAN (PT BI GROUP), TENTANG DUGAAN KETERLIBATAN MENANTU WAKAJAGUNG
 
 
 
[hidden email]--- Pada Kam, 11/9/08, Komite Peduli Pendidikan <komitepeduli_ pendidikan@ yahoo.com> menulis:
Dari: Komite Peduli Pendidikan <komitepeduli_ pendidikan@ yahoo.com>
Topik: Terbukti Wakil Kepala Jaksa Agung Jadi Preman (Re):LIRA Bongkar Borok DISDIK Jatim

Tanggal: Kamis, 11 September, 2008, 3:26 AM
Berdasar berita koran yang ada dibawah ini, terbukti bahwa Wakil Kepala Kejaksaan Agung (WakaJakgung) Jadi Preman.

Kami pernah melaporkan ke berbagai instansi termasuk KPK dan BPK, agar segera mem-print sms dan segera merekam telpon dari HP milik menantu WakaJagung yang bernama BROTO dengan nomor HP: 081314496666

Disana akan terekam berbagai ancaman kepada para Kepala Dinas Pendidikan agar pekerjaan peningkatan mutu pendidikan dalam program Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2008, diberikan kepadanya. Jika tidak, maka kepala dinas akan direpotkan oleh berbagai masalah hukum, atau akan dicari kesalahan dan masalah baik dalam pelaksanaan program DAK atau dalam proyek pembangunan yang lainnya, yang bisa membuat pegawai dinas pendidikan dan atau pemerintah kabupaten/kota bermasalah dengan hukum.

Jika yang disampaikan oleh LIRA adalah hanya yang di Jawa Timur, kami telah melaporkan perbuatan menantu Wakajagung itu dari berbagai propinsi.

Karena diberbagai propinsii, ternyata menantu Wakajagung ini, selain mengancam via sms dan telpon,

juga mendatangi kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota dengan diantar oleh staf kejaksaan negeri setempat. Bahkan dibeberapa tempat, Kepala Kejaksaan Negeri menelpon Kepala dinas pendidikan agar datang ke kantor kejaksaan, dan disana dipertemukan dengan menantu Wakajagung ini, dengan pesan kepala kejaksaan negeri agar pekerjaan diberikan kepada pak Broto atau Group Aneka Ilmu.

Tentu saja akhirnya banyak kepala dinas yang ngeri, otomatis mereka menyerah pada tekanan dari aparat hukum ini.padahal ini adalah ulah oknum!!!!, hanya kebetulan oknum ini menduduki posisi Wakajagung..
...
Para jaksa di Kejaksaan Negeri tentunya takut kepada Wakajagung, sehingga akhirnya mereka memenuhi arahan dan perintah dari pak Broto.

problem muncul ketika ternyata pak Broto tidak punya barang yang kualitasnya ditetapkan dalam petunjuk teknis pelaksanaan DAK...

Hal ini terungkap ketika dinas kabupaten dan kota menjalankan verifikasi/ penelitian barang dari suplier...dibeberapa kabupaten dan kota yang menjalankan verifikasi dengan benar, menemukan bahwa barangnya kualitasnya jauh dari apa yang dibutuhkan dunia pendidikan dan jumlahnya sangat kurang . Tentunya jika diloloskan verifikasi, secara hukum dinas akan terkena tuduhan hukum yakni mark-up harga.

Maka karena perusahaannya/ agennya mendapat penilaian seperti itu, pak Broto mengancam baik dengan telpon ataupun sms, mendesak agar sekolah2 di kabupaten/ kota yang bersangkutan, jika tidak membeli barang dari pak broto, maka kepala dinas atau pemerintah kota/ kabupaten yang bersangkutan bisa terancam penjara, karena pasti akan dicari kesalahannya oleh kejaksaan.

padahal dinas tidak berwenang memerintahkan kepala sekolah untuk memesan kepada suplier, karena ini adalah dana hibah dan swakelola.

Artinya sekolah bebas memilih suplier asalkan barang2nya sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang ditetapkan oleh petunjuk teknis(juknis) DAK, yang bertujuan agar sekolah memang benar2 mengalami peningkatan mutu.

misalnya ditetapkan dalam juknis dengan dana yang disediakan diharap sekolah dapat membeli komputer terbaru dengan processor pentium 4 bahkan corto-duo, ya masa dipaksa membeli komputer jangkrik dengan processor pentium 1 dengan harga sama dengan komputer baru dengan pentium 4misalnya ditetapkan dalam juknis dengan dana yang ada bisa membeli 1000 buku, masa disuruh membeli hanya 500 buku dengan harga sama dengan 1000 buku.

Tugas dinas dan pemerintah kabupaten/ kota hanya memverifikasi barang yang dibawa dan akan ditawarkan suplier ke sekolah, jadi suplier yang tidak punya barang sesuai jumlah dan mutu yang ditetapkan tentunya tidak bisa memaksa sekolah agar membeli kepada mereka...
Ya masa dinas pendidikan kota/ kabupaten atau bupati/walikota harus memaksakan bahwa perusahaan pak broto harus diloloskan verifikasi dan sekolah harus membeli barang dari pak Broto bisa bermasalah dalam hukum jika dituruti paksaan oknum Wakajagung ini.

tapi jika tidak dituruti dikuatirkan juga bisa bermasalah, karena yang memaksa orang yang punya kekuasaan super.. dimana para jaksa di kejaksaan negeri akan takut kariernya jeblok jika tidak menuruti. Maka akhirnya muncul 2 fenomena:

1. Dinas pendidikan setempat, menuruti paksaan itu dengan hanya melakukan verifikasi formalitas, jadi kelayakan perusahaan serta barang tidak usah diperiksa, dan memaksa sekolah agar memakai produk dari pak broto,

Dalam hal ini dinas maupun pemerintahan daerah yang bersangkutan tetap saja kuatir karena secara hukum jelas melanggar,

2. Dinas pendidikan setempat menjalankan verifikasi apa adanya dan membebaskan sekolah memilih suplier, asal sekolah mematuhi apa yang ditetapkan dalam juknis, karena ini dana hibah swakelola. akibatnya terjadilah teror baik via telpon maupun sms. Jadinya tidak bisa tidur karena selalu dalam situasi ketakutan.

Untuk itu HARAP SEGERA DITINDAKLANJUTI LAPORAN KAMI AGAR SEGERA MEM-PRINTOUT SMS DAN MEREKAM  HP bapak broto, karena beberapa kepala dinas di Jambi dan Sulawesi Tengah sudah menunjukkan bukti sms ancaman dari pak Broto, tapi tentunya mereka takut tampil sendiri2, atau takut jika dianggap melaporkan.Bisa jadi masalah....
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Topik: [Wiraswastagroups] Malah Jadi Hamba (centeng) Pencuri Uang
Negara (Re): Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Jadi Preman
Tanggal: Kamis, 18 September, 2008, 8:49 AM


Pengemplangan pajak oleh Group Bintang Ilmu (milik Wimpy Ibrahim) dengan direktur Bintang Ilmu Alim Tualika, yang mengaku dalam tulisannya sebagai pemerhati pendidikan dan Komite Peduli Pendidikan itu sangat besar

Karena tahun 2006 dan 2007, kalau di Jawa Timur Group Bintang Ilmu memakai perusahaan PT Tropodo dan PT Pustaka Sarana Media (milik Fredy Ibrahim/ kakak kandung Wimpi Ibrahim) beserta group dan agen2nya
temuan BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) dibeberapa kabupaten jelas tahun 2006, pajak atas pekerjaan proyek DAK pendidikan Oleh Group PT. Bintang Ilmu tersebut tidak dibayarkan, tapi masuk kantong pemilik perusahaan.
 
Di Jawa Tengah Group Bintang Ilmu memakai perusahaan CV Krida Karya dan Group (milik keponakan dan rekan2 Wimpi Ibrahim),

Di Jawa Barat Group Bintang Ilmu memakai perusahaan PT. Alabama (Aliansi Belajar Mandiri/ Milik Putra Wimpi Ibrahim)

Dibeberapa propinsi lain Group Bintang Ilmu memakai perusahaan PT. Mapan (Mitra Pinaitaan/ Milik menantu Wimpi Ibrahim)


Di semua propinsi, seperti di jawa tengah misalnya tidak dibayarkannya pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) dalam pekerjaan pengadaan barang untuk proyek pendidikan oleh Group Bintang Ilmu ini, akhirnya hanya jadi jadi gunjingan dari para kepala sekolah/ dinas pendidikan setempat yang harus rela tekor atau keluar uang dari kantong sendiri untuk melunasi pajak yang tidak dibayarkan oleh Group Bintang Ilmu.
Sedangkan yang nhgemplang pajak, karena lihanya mungkin, maka tidak tersentuh...
Mungkin dengan alasan kantornya atau orangnya sudah tidak diketahui keberadaannya,
padahal dengan memakai perusahaan lain dan atau dengan memakai karyawan yang baru mereka beroperasi lagi. padahal di belakangnya adalah orang yang sama.

Karena kalau mau sebenarnya petugas pajak bisa memeriksa hal itu, dimana proyek pendidikan sudah jelas anggarannya berapa dan berapa pajak yang harusnya disetor saat pekerjaan dilaksanakan. .. apalagi ini pekerjaannya sudah selesai lama..

Tapi mungkin karena sangat cerdik dan sudah jaga2 mau lari atau kalau ada masalah hukum tidak terkena... maka semua direkturnya bukan pemilik sebenarnya..

Tapi kalau memang diperiksa tentunya bisa diteliti, apakah memang benar direktur menentukan.. . mulai penerimaan/ pengeluaran uang, kebijakan dsb..


Maka lucu kalau pemeriksa yang menerima laporan masyarakat dengan enteng mengatakan keberadaan perusahaan/ pemiliknya sulit dicari, tapi ternyata menjadi centeng/ preman dari saudara pemilik perusahaan yang dikatakan tidak diketahui keberadaannya.

Padahal dengan tidak membayar pajak atau membawa lari uang yang seharusnya digunakan untuk pembayaran pajak, dalam pengerjaan proyek apalagi yang dibiayai dari uang negara (APBN/APBD) kan sudah kriminal.

Mungkin dengan cara sering berganti perusahaan itu bisa menipu masyarakat, khususnya dinas pendidikan
maupun sekolah2 diberbagai tempat... sehingga korbannya bisa tertipu berkali-kali.

Tapi mungkin dibanyak daerah akhirnya juga bisa berpikir, setelah menjadi korban selama 2 tahun berturut-turut, bahwa selama ini ternyata yang ada dibelakang penipuan adalah Group ini, meski telah berganti perusahaan dan pegawai lapangan. Dan ini akhirnya menimbulkan ke-tidak-percayaan. nah karena sudah banyak yang tidak percaya itu, mungkin akhirnya cara preman yang dipakai...dengan mengeluarkan preman, centeng atau anjing geladaknya untuk menakut-nakuti, mengancam...

Yaahhh namanya centeng atau anjing geladak... taunya ya patuh pada majikan.... Sebagai aparat hukum harusnya menangkap pengemplang pajak atau pencuri uang negara...  tapi karena ternyata pelakunya adalah majikannya, maka ya dibiarkan... seperti jaksa urip yang rela masuk penjara membela majikannya yang sudah lari keluar negeri... Sudah begiru, malah sekarang menakut-nakuti dan memaksa orang agar si-majikan bisa  mencuri uang negara lagi...mungkin biar dapat suguhan tulang ya....
 
 
 


Topik: Rupanya masih Berlanjut: Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Jadi Preman
 
beceka@yahoogroups. com, berita_korupsi@ yahoogroups. com, "berita buana" <redaksi@beritabuan a .co.id>, "bbc indonesia" <indonesian@ bbc. co.uk>, "berita kota" <beritakota@ hotmail. com>,....(more) Tanggal: Selasa, 16 September, 2008, 4:44 AM


karena tidak ada kejelasan prosedur hukum, yang bisa membuat aparat bertindak sewenang2

Karena tidak ada tindakan tegas terhadap aparat (mungkin lebih tepat/ lebih
memperhalus, sebut saja oknum kejaksaan tinggi jawa timur) yang jadi preman dan  menakut-nakuti dinas pendidikan, proses penekanan dan pemaksaan kepada para kepala sekolah untuk memakai suplier yang merupakan Group dari Bintang Ilmu terus berlangsung.baik dengan cara kasar maupun dengan cara halus, sebagaimana yang diberitakan harian surya, sebuah koran yang terbit jawa timur dibawah ini.

Oknum Bendahara, Oknum dewan pendidikan dan beberapa oknum staff dari dinas pendidikan kota pasuruan tersebut, mungkin karena sangat takutnya kepada tekanan dari aparat hukum, jadi bertindak ngawur.

Sehingga karena ngawurnya, sampai kepala2 sekolah disodori surat pesanan berlogo pemerintah kota pasuruan, dimana kepala sekolah tinggal harus menandatangani saja. sebagai embel-embel formalitas, oleh oknum2 dinas pendidikan tersebut, sekolah diberi surat penawaran dari CV. Rizqi Ilmu Barokah dan CV Munziyah Multi Lestari (setelah di-cek ternyata salah satu perusahaan tersebut milik  putra bendahara dinas pendidikan, dan beralamat dirumah bendahara tersebut) dan 6 perusahaan lain yang merupakan agen dari PT. Bintang Ilmu, sebagaimana berita terlampir, dan yang di koran lokal menunjukkan bukti adanya surat penunjukan sebagai agen dari PT.Bintang Ilmu)

Ditakut-takuti dengan halus, bahwa akan dimutasi jika tidak nurut, dengan lebih kasar lagi, diberitahukan bahwa jika tidak nurut akan diperiksa oleh kejaksaan, karena ini adalah perintah dari kejaksaan tinggi

Bahkan karena banyak sekolah yang tidak mau menuruti tekanan itu, langkah Bendahara Dinas pendidikan dan Dewan Pendidikan Kota pasuruan semakin ngawur.... dengan memanggil kepala sekolah ke kantor dinas pendidikan atau ke kantor dewan pendidikan.. dan langsung menodong/memaksa kepala sekolah agar menandatangani surat pemesanan kepada agen PT. Bintang Ilmu..dengan alasan bahwa ini adalah untuk keamanan sekolah, kalau tidak awas bisa tidak aman secara hukum... dan akan selalu diteror..(hehehe tambah lagi premannya yakni Dinas pendidikan dan Dewan Pendidikan)

Padahal Kepala sekolah takut, jika menuruti paksaan itu, mereka malah berpeluang  melanggar hukum, karena melanggar petunjuk teknis (juknis) Dana Alokasi Khusus (DAK) yang ditetapkan oleh depdiknas. sebagaimana dikemukakan beberapa kepala sekolah dalam berita tersebut.

Kenapa sekolah berpendapat demikian?

1. karena dalam jumlah judul buku dan jumlah buku yang disediakan kurang banyak jika dibandingkan dengan ketentuan dalam juknis DAK

2. karena buku2 rata2 terbitan lama (seperti misalnya buku tentang bagaimana belajar DOS atau ITC/introduction to computer, cara belajar wordstar 4 dsb), karena sama saja belanja kertas bekas, karena pengetahuan itu sudah tidak up to date.

3. banyak kepala sekolah trauma, dengan pengalaman tahun2 sebelumnya dimana mereka juga dipaksa untuk membeli produk dari Group Bintang Ilmu, karena banyak bukunya bukan terbitan baru, ada yang terbitan 1979 dan cetakan lama (alias barang bekas yang tidak laku yang mungkin tadinya menumpuk digudang, daripada dijual sebagai kertas bekas, lalu dipaksakan agar dibeli sekolah)

4.alat peraga pendidikan yang ditawarkan group Bintang Ilmu, jika dibanding yang ada di pasar umum, sangat jelek kualitasnya. Selain tidak sesuai specifikasi yang ditentukan juga mudah rusak, karena sebenarnya barang murahan, tapi sekolah harus membayar dengan harga yang sama, seharga dengan barang yang bagus.

5. Sekolah trauma bahwa mentang2 karena ini punya preman aparat, seperti tahun2 sebelumnya soal pajak atas program itu, selalu tidak dibayar oleh group Bintang Ilmu. tapi yang diperiksa adalah sekolah. Suplier yang ngemplang pajak malah tidak diperiksa. Akhirnya daripada berurusan dengan hukum, akhirnya banyak kepala sekolah harus merogoh kantong sendiri untuk melunasi pajak.

6. Soal pajak ini pernah menghiasi media massa, dimana tahun 2006, PT. Tropodo yang merupakan agen dari PT. Bintang Ilmu, sama sekali tidak membayar pajak dalam pengadaan barang peningkatan mutu pendidikan dalam Program DAK 2006, disemua kabupaten di Jawa Timur.bahkan pemeriksaan BPKP dibeberapa kabupaten menemukan hal itu dalam laporannya. tapi tindak lanjut dari temuan itu adalah, bahwa sekolah yang harus menutupi dengan uang sendiri untuk pembayaran pajaknya...tahun 2007 Pemilik PT. Tropodo membuat Perusahaan baru lagi yakni PT. Pustaka Sarana media, juga sebagai agen PT. Bintang Ilmu. Lagi2 mensuplai barang bekas dan tidak membayar pajak.
 
 
Alasan apa yang dipakai aparat tidak memeriksa...

Alasannya pemiliknya sudah tidak diketahui keberadaannya lagi alias melarikan diri...di kantor PT Tropodo , alamat itu sudah kosong meski sudah ada laporan masyarakat bahwa pemiliknya mendirikan perusahaan baru lagi... entah apa yang  terjadi, tidak pernah ada tindakan kemudian tahun 2007 PT. pustaka

sarana Media ngemplang pajak lagi dan kemudian kantornya tutup lagi... alasan pemeriksa karena pemiliknya lari dan tidak diketahui lagi ada dimana...... mungkin sudah lari keluar negeri... mungkin sudah ada di kampung halamannya di Hongkong.. sehingga sulit mencarinya, begitu kilah aparat

meski ada laporan masyarakat dan aparat sudah tahu bahwa pemilik perusahaan yang ngemplang pajak (Pt. Tropodo dan PT. Pustaka sarana Media dengan direktur Freddy Ibrahim) itu adalah kakak kandung pemilik PT. Bintang Ilmu (sebagaimana penjelasan Komite peduli pendidikan, yang seolah lembaga netral tapi keliatan bahwa bernuansa kental sebagai LSM yang pro PT. Bintang Ilmu) yakni Bapak Wimpi Ibrahim.

Maka seharusnya aparat bertindak tegas, saya bukan karena apa sih...

tapi ngemplang pajak dari dana yang disediakan oleh APBN itu kejahatan serius dan merugikan negara puluhan milyar lho...padahal kan gampang kalau mau periksa penggelapan pajak itu...kan sebagai adik kandung dari Freddy Ibrahim, si Wimpi Ibrahim pasti tahu dimana keberadaan si pengemplang pajak yang merugikan negara puluhan milyar itu.... kan kata Komite Pendidikan, waktu acara di Hotel orchid, Kota batu, itu terjadi karena kerjasama Wimpi Ibrahim dan kejaksaan tinggi jawa timur....

Herannya kok aparat tidak berusaha untuk mencari tahu dimana si pengemplang pajak...
kok malah menjadi preman atau anjing geladak si pencuri uang Negara

wah apa republik ini memang mau hancur... karena aparat hukum malah jadi preman atau anjing geladak dari para pencuri uang negara... seperti kasus Ayin yang ternyata memang kong kalikong dengan pejabat kejaksaan agung...

Nanti kalau para pengemplang pajak... pencuri uang negara ini sudah ada diluar negeri... baru pura2 bingung... dan tegas mengeluarkan surat pencekalan dsb
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
LAMPIRAN LAIN-LAIN
 
 
Harian Duta Masyarakat  Jumat, 12 September 2008
Usut Tuntas Dugaan Korupsi Disdik Jatim
Lempar Jumroh buat 'Koruptor'
 
GMPP kian keras menyuarakan pengusutan dugaan korupsi di Disdik Jatim. Lewat teatrikal lempar jumroh, 'setan-setan' pendidikan diharapkan terusir dari Genteng Kali.

Kamis (11/9), di depan gerbang Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim, tiga pemuda dengan mata tertutup kain dan bertelanjang dada, mengusung patung tiga siswa setengah badan.

Sejurus kemudian, koordinator aksi Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan (GMPP), Taufik Hidayat dengan berdandan ubah hitam dan caping bamboo ala kadarnya ala dukun, menyiram ketiganya dengan air yang diibaratkan sebagai air darah. Sebuah simbolisasi eksploitasi siswa yang anggarannya dikorupsi.

Itu juga sebuah simbolisasi di mana siswa hanya menjadi alat yang diperas hingga darahnya mengalir demi kocek pribadi pejabatnya.

Lalu, ia berteriak, "Inilah jumrotul ula, wustho dan aqobah pendidikan. Inilah syaiton yang harus dilempari jumroh. Maka lemparilah dia," ujarnya menggeledek bak sabda halilintar.

Sejurus kemudian, puluhan pengunjuk rasa melempari tiga simbol jumroh itu dengan batu yang dirupakan dengan bongkahan kecil kertas koran. "Maka terkutuklah koruptor!! Maka terlaknatlah para koruptor!" teriak Taufik.

Fragmen adegan teatrikal tersebut merupakan lanjutan aksi GMP setelah pada Senin lalu berdemo di Polda Jatim dan Kejati Jatim, menuntut dibongkarnya kasus korupsi di Disdik Jatim.

Setelah beberapa waktu melakukan aksi di depan Disdik Jatim, lalu dua perwakilan massa GMPP masuk ke kantor Disdik Jatim untuk menyerahkan surat pengawasan sebagaimana yang direncanakan sebelumnya.

Surat itu merupakan bentuk tuntutan agar menghentikan korupsi dan menerangkan bahwa Disdik Jatim diawasi oleh GMPP bersama dengan polisi, kejaksaan dan DPRD Jatim.
 

Dalam statemennya Taufik mengatakan, pejabat Disdik Jatim harus segera mengubah perilakunya untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih. Selain itu, dia meminta agar realisasi anggaran pendidikan 20 persen segera diwujudkan.

"Mulai sekarang, hentikan perilaku korup dan realisasikan anggaran pendidikan 20 persen. Kami mendesak agar ada upaya penegakan hukum dalam program DAK dan dana Dekonsentrasi pendidikan," ujarnya.

Surat itu diterima dan ditandatangani Humas Disdik Jatim, Danurejo. Dalam statemennya, Danu mengatakan akan meneruskan surat tersebut ke atasannya.

"Pada prinsipnya kami sepakat adanya penegakan hukum dan pengawasan yang digulirkan. Dan perlu diketahui, dana dekon dan DAK itu tidak mampir ke propinsi, tetapi langsung ke kabupaten/kota. Jadi tidak ada yang bisa disimpangkan di sini (Disdik Jatim)," katanya.

Aksi itu sendiri sempat akan berlangsung anarkis ketika massa mendesak masuk ke halaman Disdik Jatim yang gerbangnya ditutup Satpol PP. Pagar besi pintu gerbang kantor Disdik sempat digoyang keras oleh massa pendemo.

Namun, puluhan petugas Unit Tangkal Polsekta Genteng yang dipimpin Kapolsekta Genteng AKP M Rasyad langsung mencegah dan menghalangi. Massa akhirnya mengalah lalu menggeser aksi mereka di depan Grahadi.

Ketua Komisi E (Bidang Kesra) DPRD Jatim, Saleh Ismail Mukadar ketika dikonfirmasi mengenai aksi tersebut mengungkapkan dukungannya. Dia menilai, masyarakat memang harus kritis terhadap gejala ketidakberesan tata kelola pemerintah.

"Asal tidak anarkis kami mendukung. Dan kami ingatkan agar Disdik Jatim segera berbenah serta tidak menjadi tim sukses Cagub. Titik!" tukasnya. (*)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Harian Memorandum Kamis, 11/09/2008 23:19 WIB
Minta Alokasi 20%, GMPP Serbu Dinas Pendidikan Jatim
 
Reporter : Ida Akbar
Surabaya - Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan berunjuk rasa di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur, Kamis (11/9).

Mereka mendesak dinas itu mengupayakan realisasi alokasi 20 persen dari APBD Jatim untuk pendidikan. Koordinator Aksi Taufik Hidayat mengatakan, alokasi itu merupakan amanat konstitusi.

Mahkamah Konstitusi juga sudah berulang kali memerintahkan hal itu. "Presiden juga sudah menegaskan itu dalam pidato kenegaraan tahun ini. Tidak ada alasan lagi menunda realisasi itu," ujarnya.

Karena itu pihaknya mendesak agar Dinas Pendidikan menyusun anggaran sebaik mungkin sebagai upaya realisasi alokasi 20 persen APBD Jatim 2008.

Pengusulan yang kurang bagus dari Dinas Pendidikan bisa mengakibatkan alokasi 20 persen gagal terwujud. "Itu bencana bagi pendidikan di Jawa Timur. Saat ini masih banyak persoalan pendidikan di Jawa Timur dan butuh dana besar untuk menyelesaikannya," ujarnya.

GMPP juga mengajak masyarakat mengawasi penggunaan dana alokasi khusus (DAK) di Dinas Pendidikan. Pasalnya, di beberapa daerah ditenggarai ada penyimpangan penggunaan DAK itu.

Sementara Wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur Syaiful Rahman menegaskan, pihaknya pasti berkomitmen mengupayakan alokasi itu. Setiap tahun, Dinas Pendidikan Jatim sudah mengusulkan anggaran sesuai amanat konstitusi.

"Tetapi, belum semua bisa disetujui karena ada keterbatasan anggaran," ujarnya.

Meskipun demikian, Jatim tetap menjadi pelopor pembiayaan pendidikan secara nasional. Jatim mempelopori BOS, rehabilitasi sekolah, pemberantasan buta huruf, dan wajib belajar 12 tahun.

"Semua dilakukan di tengah keterbatasan dana dan saat provinsi lain belum melakukannya," ujarnya. Mengenai DAK, ia menegaskan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jatim tidak berwenang Menjelaskan penggunaannya.
 
Dana itu dialirkan ke Dinas Pendidikan kabupaten/kota dan sekolah-sekolah. "Kalau diminta menjelaskan, kami kesulitan juga. Jadi kalau minta penjelasan, kami sarankan ke masing-masing sekolah atau Dinas Pendidikan di kabupaten/kota. Rekening di Dinas Pendidikan provinsi hanya dipakai untuk menampung dan secara otomatis meneruskan dana itu ke kabupaten/kota," paparnya.[eda/ted]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Duta Masyarakat  Rabu, 10 September 2008
Giliran Dewan Soroti ?Borok? Disdik Jatim
Genteng Kali Sarang Korupsi?
 
Makin kencang saja desakan untuk mengusut ?borok? di Disdik Jatim. Bahkan kalangan dewan meminta Polda dan Kejati jangan ragu lagi dalam melangkah.

Setelah Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan (GMPP) mendorong aparat penegak hukum segera mengusut dugaan penyimpangan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dana Dekonsentrasi Pendidikan 2008 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dsidik) Jatim, giliran DPRD Jatim menyuarakan hal yang sama.

Anggota Komisi E (bidang kesra) DPRD Jatim, Imam Ghazali Aro, Selasa (9/9) mengatakan, sudah semestinya Polda Jatim dan Kejati Jatim segera turun tangan untuk menyelidiki dugaan penyimpangan tersebut.

?Polda dan Kejati seharusnya merespon desakan dari elemen masyarakat untuk segera menguak dugaan-dugaan penyimpangan di tubuh Disdik Jatim. Jangan hanya kabupaten kota, tetapi langsung ke sentralnya di Genteng Kali (kantor Disdik Jatim),? tegasnya.

Desakan ini menurutnya masuk akal. Sebab, dari catatan Komisi E DPRD Jatim, pengelolaan dana di dinas itu yang setiap tahunnya mencapai triliunan rupiah, namun pengelolaannya tidak pernah transparan.

?Nilainya triliunan rupiah tiap tahun. Dan itu (pengelolaannya, red) tidak pernah transparan. Dalam posisi ini, sangat rawan terjadi penyimpangan,? tandasnya.

Selain itu, dalam catatan Komisi E, Kadisdik Jatim, Ir Rasiyo sudah berkali-kali ditegur Karena melakukan kesalahan namun tetap membandel. Di antaranya berperan sebagai tim sukses Cagub.

Itu diunjukkan dengan pengedaran kalender, buku pelajaran dan buku panduan bergambar Soekarwo. Selain itu, menggelar berbagai kegiatan atas nama Dinas pendidikan Jatim namun disusupi kampanye Cagub.

?Ini jelas penyimpangan dan masuk kategori korupsi. Sebab menggunakan anggaran pemerintah atau rakyat untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Padahal anggaran 20 persen pendidikan akan segera direalisasikan. Bisa-bisa anggaran itu tidak jelas jeluntrungannya. Untuk kampanye misalnya,? tandasnya.




Terjun Mengusut

Sementara itu, Ketua Komisi E DPRD Jatim, Saleh Ismail Mukadar mengatakan, Disdik Jatim tidak bisa dipercaya untuk mengelola 20 persen dari APBD yang dialokasikan bagi pendidikan. Saat ini saja, banyak anggaran tidak terpakai..


Politisi PDIP itu menyoroti anggaran untuk wajib belajar sembilan tahun hanya tersalur 20,33 persen. Padahal, program itu program wajib Disdik Jatim Jatim.

?Dari dana lebih dari Rp 22 miliar, hanya tersalur Rp 4,6 miliar. Pada saat yang sama terungkap ribuan anak usia sekolah tidak sekolah,? ujarnya.

Anehnya, dana untuk program pendidikan dewasa dan umum banyak tersalur. Bahkan untuk pos-pos kebudayaan tersalur lebih dari 90 persen. Menurutnya, dewan sulit untuk tidak mencurigai tujuan penggunaan itu.

Sebab, program yang tersalurkan penuh hanya untuk orang yang punya hak pilih dalam Pilgub Jatim. Sedangkan untuk anak-anak yang belum punya hak pilih, dananya tersisa banyak sekali.

?Apa karena arena kebudayaan dan pendidikan dewasa bisa ditunggangi kepentingan Pilgub? Dia itu (Kadisdik Jatim Ir Rasiyo, red) pejabat tim sukses atau pejabat abdi masyarakat?? ujarnya.

Saleh juga mendesak agar aparat penegak hukum terjun langsung mengusut dugaan?dugaan penyimpangan di Disdik Jatim. ?Kalau ada dugaan penyelewengan, sudah seharusnya aparat mengusut,? tegasnya.(*)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Harian Memorandum Senin, 08/09/2008 22:40 WIB
 
GMPP Laporkan Disdik Jatim ke Polda dan Kejati
 
 
Reporter : Arif Fajar A
Surabaya- Sekitar 100-an massa dari Generasi Muda Peduli Pendidikan (GMPP) mendatangi Markas Polda Jatim dan kantor Kejati Jatim di Jalan A Yani, Senin (8/9/2008).

Mereka menuntut dua institusi penegak hukum tersebut tidak loyo dan segera turun tangan mengusut dugaan korupsi di Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim.

Di depan gerbang pintu masuk Mapolda Jatim, massa yang dipimpin Taufik Hidayat ini sempat berorasi dengan membawa poster dan spanduk serta melakukan aksi teatrikal pentas wayang yang menggambarkan bagaimana modus penyimpangan di Disdik Jatim dijalankan tanpa tersentuh tangan hukum.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Taufik Hidayat dalam pernyataannya mengungkapkan, kasus dugaan penyimpangan di Disdik Jatim sudah cukup bukti untuk membuat penegak hukum turun mengusut.

"Seperti dugaan penyimpangan dana Dekonsentrasi Pendidikan 2007 untuk SMP di 6 sekolah di Bojonegoro dan 6 sekolah di Pacitan senilai Rp 1,6 miliar. Kuat dugaan proyek itu fiktif," katanya.

Ditambahkannya, di Disdik Jatim juga terindikasi melakukan praktik monopoli yang melanggar Undang-Undang. Diantaranya dalam persoalan Dana Aloksi Khusus (DAK) pengadaan buku pendidikan untuk SD dan MI senilai sekitar Rp 713 miliar. Ini terungkap dalam pertemuan di Hotel Orchid Batu pada 9 Juli 2008 antara oknum Disdik Jatim dengan salah satu rekanan proyek yang justru difasilitasi penegak hukum.

GMPP dalam aksinya kemudian mengeluarkan 4 pernyataan sikap. Yakni, meminta Polda Jatim segera mengusut dugaan penyelewengan DAK di Disdik Jatim dalam pengadaan buku SD dan MI. Kedua, meminta Polda Jatim segera mengusut tuntas dugaan proyek fiktif Rp 1,6 miliar di 6 SMP Bojonegoro dan 6 SMP di Pacitan yang melibatkan oknum pejabat Disdik Jatim.

Ketiga, meminta Polda untuk konsisten mengganyang korupsi, monopoli dan persekongkolan jahat di Disdik Jatim. Keempat, meminta pemerintah untuk mengawasi Disdik Jatim dalam pengelolaan anggaran DAK yang mencapai Rp 713 miliar agar tidak digunakan sebagai alat politik.



Di Polda Jatim, Taufik sempat menyerahkan surat tuntutan yang diserahkan ke Sekretariat Umum (Settum) Polda Jatim yang diterima Kasat C Kompol Timbul. ""Polda meminta masukan data dan berjanji akan menindaklanjuti," ujar Taufik.

GMPP lalu bergerak longmarch menuju kantor Kejati Jatim. Di Kejati, GMPP juga menyuarakan hal yang sama. Mereka juga meminta agar kejaksaan bertindak profesional dengan tidak menjadi alat dari perpanjangan kekuasaan atau istrumen penyimpangan.

Sebelum menggelar aksi, Taufik kembali menyerahkan surat tuntutan yang diterima Asintel Kejati Jatim, AF Darmawan. Kejati diangap cukup responsif dan bersedia menindak lanjuti laporan GMPP. Bahkan, AF Darmawan ikut turun dari ruangannya menemui massa GMPP dan turut menyaksikan pagelaran wayang kertas yang disuguhkan GMPP. Ia juga ikut bergabung dengan memegang spanduk yang dibawa massa aksi.
 
"Kami akan menjadikan ini sebagai masukan yang baik untuk menentukan langkah lanjutan dalam mendalami apa yang dilaporkan GMPP ini. Kami pasti akan tindaklanjuti," ujarnya. (bj2)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : Harian Duta Masyarakat, Jumat, 22 Agustus 2008
 
Proyek Sudah Disusun, Saatnya Skenario Batu Dijalankan
Menguak Tabir Dana Dekon Pendidikan (4)
 
Pertemuan tripartit berjalan mulus. Kini saatnya para 'penghamba' proyek ilegal menjalankan skenario Batu. "Saatnya skenario dijalankan". Mungkin itulah yang ada di benak rekanan yang terlibat pertemuan tripartit (Disdik Jatim, Kejati Jatim & Rekanan) di Hotel Orchid Batu, 9 Juli 2008. Sebab, dari data lapangan menunjukkan, marketing rekanan yang bersangkutan rajin menagih komitmen itu.
 
Ya, tak salah jika banyak yang curiga atas pertemuan janggal tripartit Hotel Orchid Batu. Aroma tak sedap di balik itu tampaknya terlalu sulit untuk dihapus begitu saja.Sebab, data lapangan yang dikumpulkan orang?orang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jatim yang berniat memberantas praktik ilegal di birokrasi Jatim, menunjukkan fakta yang selaras dengan kecurigaan-kecurigaan itu.
 
Ketua Hipmi Jatim, Diar Kusuma Putra SE mengungkapkan, data lapangan menunjukkan konsorsium rekanan PT BI aktif mendatangi Kepala Dinas kabupaten/kota untuk proyek DAK dan Dekonsentrasi Pendidikan 2008. ?Tujuannya jelas, menjalankan skenario merebut proyek yang sudah disusun dengan cara-cara tidak fair dan tidak transparan,? katanya.
 
Disebutkannya, dari laporan-laporan yang masuk ke Hipmi, marketing konsosorsium itu menagih komitmen pertemuan di Batu. ?Bapak/Ibu kan datang di pertemuan di Batu Malang. Komitmennya jelas,? ujarnya menirukan tekanan psikologis yang dilakukan marketing itu.
 
Sekadar mengingatkan, dalam pertemuan tripartit itu, kepala-kepala dinas yang hadir merasa terintimidasi karena aparat penegak hukum seolah menggiring agar menggunakan rekanan yang terlibat di pertemuan Hotel Orchid Batu itu dengan menakut-nakuti akan ekses hukumnya.
 
Saat itu, dalam pertemuan yang justru diprakarsai Kejati Jatim sebagai pengundang tersebut, ada kalimat-kalimat intimidatif secara psikologis. ?Dari informasi yang kami terima, kalimat-kalimat yang muncul, awas dipenjara, nanti kalau tidak dijalankan bisa dikerangkeng dan lain-lain. Maksudnya apa? Yang omong seperti itu malah penegak hukum,? kata Diar.
 
Meski demikian, Diar sedikit banyak mengaku bersyukur karena ada beberapa Kadis yang berani melawan dominasi tersebut. Mereka berani menolak marketing konsorsium itu meskipun posisinya terancam.?Ada yang bilang pokoknya nurut aturan di Juklak & Juknis. Jadi, semua suplier disilakan masuk menawarkan. Asalkan di verifikasi barang sesuai dengan regulasi. Keberanian ini patut kita dorong,? tambah Diar.
 
Apa ancaman itu, Diar mengatakan salah satunya ancaman tidak mendapat proyek lagi untuk tahun depan. Dia mengungkapkan seorang Kadisdik di Nganjuk mengatakan kalau berani melawan Genteng Kali (Kantor Kadisdik Jatim, Ir Rasiyo, red), maka tidak akan mendapat proyek lagi di tahun depan.(faisal/ bersambung)
 
 
 
Sumber : Harian Duta Masyarakat Kamis, 21 Agustus 2008
Ada Diskon Siluman yang Bisa Dimainkan
Menguak Tabir Dana Dekon Pendidikan (3)
 
Di negeri ini, korupsi memiliki 1001 cara untuk bermanifestasi. Di Disdik Jatim, salah satu modus yang diduga sering digunakan untuk memungut dana ilegal adalah permainan diskon siluman. Seperti apa modusnya??Coba anda lihat data ini. Data ini dari kolega-kolega saya yang kemarin wadul (mengadu) ke Hipmi,? ujar Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jatim, Diar Kusuma Putra SE. Sejurus kemudian, di atas meja sebuah kafe di Tunjungan Plaza, Diar menyodorkan sepuluh lembar berkas penawaran sebuah proyek di Disdik Jatim.
Di data itu terdapat beberapa penawaran dalam kisaran Rp 110 juta hingga 123 juta untuk proyek dengan pagu sekitar Rp 125 juta. Di sinilah titik tolak dari kedok memainkan diskon siluman itu dimulai. ?Yang menang justru yang menawar Rp 120 juta. Yang di bawahnya justru terpental,? jelasnya.Menurutnya, kemenangan tawaran itu bukan terletak pada kualitas pekerjaan, tetapi lebih pada keberanian untuk memberi diskon yang alirannya sama seperti fee oknum alias pungutan ilegal.Bagaimana caranya? Diar menjelaskan, si rekanan mengajukan penawaran tinggi tapi menyertakan diskon antara 20-40 persen. Namun, diskon itu tidak dicantumkan ke dalam kwitansi. ?Di kwintasi tetap seperti yang tertera nilai proyeknya. Diskonnya diatur untuk fee oknum,? tandasnya.Sehingga, negara tetap membayar nilai proyek sebesar Rp 120 juta kepada rekanan meskipun sebenarnya ada diskon 40 persen. ?Itu artinya yang 40 persen diskon itu lari kemana lagi kalau tidak ke kantong oknum
 pejabatnya? Bayangkan kalau Rp 48 juta (40 persen
diskon) itu untuk pendidikan rakyat miskin. Padahal ada berapa ratus proyek yang dimainkan seperti itu,? ujarnya.Jadi, meskipun ada rekanan yang menawarkan harga lebih murah tetapi tidak berani memberikan diskon ?siluman?, dipastikan akan kalah. Hal ini juga diamini oleh Luthfi, pengusaha rekanan Pemprop Jatim yang berani buka-bukaan sejak awal atas dugaan penyimpangan di Disdik Jatim. Menurutnya, praktik seperti ini harus segera diberangus. Menurutnya, praktik seperti itu adalah cara? cara manipulatif ala orde baru yang menjijikkan dan menyengsarakan rakyat. Saking geramnya, ia meminta agar pejabat?pejabat yang terlibat harusnya dibuang ke selokan bersama kumpulan tikus got.?Semuanya, mulai dari atas sampai bawah. Pokoknya yang terlibat, baiknya direndam ke LPA Benowo, habis itu baru di Medaengkan. Kalau tidak, mau dibawa kemana negeri ini dengan oknum pejabat seperti itu?? ujarnya dengan nada geram.Benarkah tuduhan ini? Humas Disdik Pemprop Jatim,
 Danurejo membantah keras. Menurutnya, tidak ada praktik ilegal sebagaimana yang dituduhkan. ?Semua pertanggungjawabann ya jelas dan bisa dicek,? ujarnya.Lebih lanjut, Danu menyatakan, jika institusinya dituding memainkan dana DAK Pendidikan 2008 dan Dana Dekonsentrasi pendidkan 2008 maka tudingan itu salah alamat. Sebab, dana itu langsung turun ke daerah.?Dana itu tidak mampir ke Disdik Jatim. Lha kalau tidak mampir, bagaimana cara memainkannya? Kok ada tudingan seperti itu? Tuduhan itu tidak ada bukti dan tidak mendasar,? ujarnya.(faisal/ bersambung)
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber Harian duta Masyarakat, Rabu 20 Agustus 2008
 
Fee Ilegal untuk Dana Kampanye Pilgub
Menyingkap Tabir Dana Dekonsentrasi Pendidikan (2)
 
Proyek dana dekonsentrasi (dekon) pendidikan di Disdik Jatim nilainya mencapai puluhan miliar. Sebagian dari fee ilegal itu, diduga untuk mendanai kampanye salah satu pasangan Cagub.
 
Setelah bagian pertama tulisan yang mengungkap dugaan penyimpangan proyek DAK Pendidikan dan Dana Dekonsentrasi di Disdik Jatim muncul di Duta Masyarakat, beberapa pengusaha yang pernah jadi ?korban? mulai berani buka suara.Selasa (19/8), seorang pengusaha sekaligus rekanan Pemprop Jatim menyuarakan data praktik ilegal yang sudah berlangsung cukup lama itu.Dikatakannya, disinyalir proyek-proyek di Disdik kabupaten/kota ada indikasi penyimpangan. Yakni, ada kutipan 43 persen. Dari angka itu, 20 persen disetorkan ke oknum di tingkat I dan digunakan untuk modal kampanye.?Padahal, ada 91 proyek dengan masing-masing proyek rata-rata bernilai Rp 100 juta dengan dibuat secara pemilihan (tanpa lelang). Total nilainya sekitar Rp 68,4 miliar,? ujarnya.Validkah data tersebut? Pengusaha itu menjamin akurat, ?Saya sudah ada bukti?bukti dari kepala sekolah terkait. Nanti kalau oknum-oknum pejabat nakal di Disdik itu diseret ke meja hijau, pasti saya beber,?
 tandasnya.Soal adanya aliran dana fee proyek yang mengarah ke kampanye Cagub itu, pengusaha tersebut enggan mengutarakan dengan gamblang. ?Saya yakin anda tahu sendiri siapa yang dekat dengan kadisdik Rasiyo,? jawabnya dengan senyum simpul.Sekadar informasi, Rasiyo memang dikenal sebagai orang dekat Cagub Soekarwo. Bahkan, Rasiyo beberapa kali kepergok ?menunggangi? acara Disdik Jatim untuk kepentingan sosialisasi atau kampanye terselubung Pakde Karwo. Lebih dari itu, kedekatan itu digambarkan dengan sebutan yang sengaja disematkan pada keduanya. Jika Soekarwo sering disebut Pakde Karwo, maka Rasiyo sering mempopulerkan dirinya dengan sebutan Paklik.Lalu siapa pemungut fee tersebut? Luthfi, pengusaha yang awalnya membeberkan fee ilegal itu menyebutkan bahwa yang menerima adalah orang dekat Rasiyo selevel Kasubdin yang berinisial Ard. Siapa Ard? Dari pelacakan di Disdik Jatim, yang mendekati inisial itu adalah Ardo Sahak, Kasubdin Dikmenum Disdik Jatim.
 Saat ditemui di kantornya untuk dikonfirmasi, Ardo terkesan menghindar. ?Itu tidak benar. Mana buktinya? ujarnya dengan mimik terkejut.Saat mau ditanya lebih lanjut, termasuk pertemuan tripartit dengan Kejati, Disdik dan rekanan di Batu Malang, juga pengkondisian untuk satu rekanan, Ardo lagi-lagi mengelak. ?Itu bohong. Coba panjenengan (anda) ke Humas saja,? elaknya.Saat Humas Disdik Jatim, Danurejo dikonfirmasi, dia mengatakan bahwa ini ada muatan persaingan bisnis. ?Terkadang teman-teman rekanan itu kalau tidak dapat proyek atau kalah bersaing terus begini ini. Susah,? tandasnya.Namun, saat ditanya tentang pertemuan tripartit tersebut, Danurejo mengatakan tidak tahu menahu. ?Kalau pertemuan yang kelas elit begitu, saya tidak ikut-ikut. Saya tidak tahu menahu. Kan bukan tupoksi saya,? ujarnya. Selain fee ilegal tersebut, di Disdik Jatim masih ada modus lain yang juga menebarkan berbau tak sedap. Yakni permainan diskon proyek yang lagi-lagi
 ujung-ujungnya setoran duit ke kantong pejabatnya. Seperti apa? (faisal/bersambung)
 
 
 
 
 
 
Sumber : Harian Duta Masyarakat 19 Agustus 2008
 
Setor 20 Persen, Baru Dapat Proyek
Menyingkap Tabir Dana Dekonsentrasi Pendidikan (1)
Makin banyak saja ?penyamun? di sarang Dinas Pendidikan (Disdik)
Jatim.
 
Kabar terbaru yang menyeruak ke permukaan: ramai-ramai bancakan dana dekonsentrasi (dekon) 2008.Beberapa hari lalu, seorang pengusaha rekanan Pemprop Jatim, Luthfi terlihat agak emosional saat bertemu di kantin Pemprop Jatim. Berkali-kali dia mengekspresikan kekesalannya dengan mengacung-acung tangannya saat berbicara.?Dari dulu sampai sekarang, (proyek) Disdik Jatim selalu dibuat main-main. Tidak pernah transparan dan modusnya macam-macam untuk mengeruk keuntungan pribadi oknum-oknum pejabatnya,? ujarnya gerah.Dia kemudian membeber temuannya, bahwa setelah proyek DAK Pendidikan 2008 yang diarahkan untuk satu rekanan dengan meminjam tangan penegak hukum, di Disdik kembali dilakukan modus sama. Kali ini kasus dana Dekon 2008.?Saya dapat info ini valid. Bahkan Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Jatim juga mendapat informasi sama,? tandasnya.Apa itu? Yakni pada 14-22 Juli 2008 Disdik diduga kembali melakukan pengkondisian lagi untuk Dana
 Dekonsentrasi Pendidikan 2008 di Hotel Purnama Batu. Modusnya sama, Kepala Disdik daerah yang diundang dan sekolah yang memperoleh dana tersebut digiring untuk menggandeng satu rekanan pesanan oknum pejabat Disdik Jatim.Sehingga, daerah yang menerima proyek itu tidak bebas memilih rekanan untuk pelaksanaan proyek DAK tersebut. Karena sudah dikondisikan sejak dari hulu, yakni Disdik Jatim. Fakta ini setidaknya memenuhi adaya upaya unsur KKN dalam pelaksanaan proyek tersebut.?Mereka tidak boleh menggandeng rekanan lain. Ini jelas memenuhi unsur KKN. Pasti ada dana yang mengalir untuk oknum di Disdik dengan  adanya agenda pengkondisian ini,? ujarnya.Padahal, dana dekon tersebut mencapai puluhan miliar. ?Per kabupaten/Kota akan menerima sekitar Rp 2,5 miliar. Padahal, ada 38 kabupaten/kota di Jatim,? tandasnya.Luthfi bahkan terang-terangan menuding salah satu orang dekat Kepala Disdik Jatim, Ir Rasiyo yang berinisial Ard, memainkan peran penting dalam
 menerima setoran dana siluman.?Jadi, kalau mau dapat kucuran atau proyek ini, harus setor 20 persen dari nilai proyek ke tangan kanannya Kadisdik. Baru nanti dapat kucuran. Ini apa kalau tidak disebut korupsi?? tegasnya.Terpisah, Ketua Hipmi Jatim, Diar Kusuma Putra SE mengungkapkan, pihaknya memang sudah mencium banyak praktik ilegal dalam penggarapan proyek di Disdik Jatim. ?Itu sudah jadi rahasia umum. Anehnya, baik kejaksaan maupun kepolisian kok diam saja. Padahal, nilai proyek di dinas itu mencapai triliunan per tahun. Dan pelaksanaannya kacau serta banyak yang berbau tidak busuk,? tandasnya.Untuk itu, Hipmi akan membuat gerakan agar modus-modus pat gulipat di Disdik Jatim segera diberangus. Sebab, praktik itu dinilainya sudah terlalu lama berlangsung dan justru semakin menjadi-jadi.(faisal/bersambung)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : Harian Duta Masyarakat, Tanggal 14, 15 Agustus 2008
Kolom Rubrik Utama Surabaya (http://dutamasyarat @com/) 14 Agustus 2008
 
Aroma Pat Gulipat di Dinas Pendidikan Jatim (1) Ada Apa di Balik DAK Pendidikan 2008?
 
Tak ada yang salah jika Dinas Pendidikan Jatim, Kejati Jatim dan rekanan bertemu dalam suatu forum. Tapi jika dilandasi motivasi yang 'abu-abu', jelas patut dicurigai.JARUM jam menunjuk waktu hampir tengah malam. Namun Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim, H Diar Kusuma Putra SE terlihat masih serius memelototi layar laptop di depannya. Beberapa situs berita dan blogspot di internet menunjukkan data-data tidak lazim tentang berbagai proyek di Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim, termasuk adanya pertemuan tiga instansi tersebut."Sama persis seperti data yang kita terima. Disdik seperti tidak gentar dengan genderang perang anti koruspi yang ditabuh KPK," ujarnya. Ya, beberapa waktu lalu, Sekretariat BPD Hipmi Jawa Timur mendapat data-data tentang dugaan penyimpangan yang berkaitan dengan berbagai proyek-proyek di Disdik Jatim. Salah satunya proyek yang dibiayai dana APBN, khususnya Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk Pendidikan tahun 2008 dan
 dana Dekon Pendidikan tahun 2008. Data itu menunjukkan bahwa ada dugaan cukup kuat terjadinya persekongkolan alias pat gulipat antara Disdik Jatim, Kejaksaan dan PT Bintang Ilmu selaku rekanan proyek. Ironisnya, kapasitas kejaksaan yang turut terlibat dalam pertemuan tripartit (Kejaksaan Tinggi Jatim, Disdik Jatim dan PT Bintang Ilmu) patut dipertanyakan.Sebab, berdasar informasi yang diterima pada 9 Juli 2008, ada pertemuan di Hotel Orchid Batu tentang program sosialisasi juknis DAK pendidikan tahun 2008 yang melibatkan tiga unsur tersebut.
Seharusnya, sosialisasi itu hanya melibatkan intern dari Departemen Pendidikan atau Dinas Pendidikan. Tapi data yang diperoleh HIPMI menunjukkan yang mengundang justru Kejati Jatim dan melibatkan sebuah Perusahaan Penyedia Barang DAK 2008."Peserta (Kadisdik kabupaten/kota se Jatim) resah. Karena di acara itu informasinya ada intimidasi psikologis, di mana arahnya meminta agar proyek DAK itu diserahkan ke pada salah satu perusahaan. Proyek
digiring ke satu muara," tandas Diar.Intimidatif seperti apa? "Dari informasi yang kami terima, ada kalimat-kalimat, awas dipenjara, nanti kalau tidak dijalankan bisa dikerangkeng dan lain-lain. Maksudnya apa? Yang omong seperti itu malah penegak hukum," katanya.
Disebutkan, dalam forum tersebut hadir Kadisdik Jatim Rasiyo, Kejati Jatim, Asintel Kejati, perwakilan perusahaan rekanan. "Banyak kalimat intimidatif yang arahnya seperti itu tadi. Dan yang patut dipertanyakan, dalam kapasitas apa Kejati kok ikut-ikut ngundang? Ini aneh," ujarnya.Hal itu menunjukkan ada praktik tidak sehat yang sangat rentan terjadi KKN. Sebab, kemungkinan ada praktik monopolistik dalam proyek itu sangat besar karena hanya ada satu perusahaan yang terlibat dan terkesan di back up dari Disdik."Ironis. Saat pemerintah berusaha menciptakan iklim berusaha yang baik dan sehat, ternyata di Disdik Jatim justru menerapkan sistim monopolistik. Siapa yang menjamin tidak terjadi KKN? Siapa yang menjamin tidak ada pengkondisian? Itu semua beraroma tidak sedap," ujarnya.
Publik tentu bertanya, jika penegak hukum sudah `diredam', tentu tidak harapan lagi akan adanya pengungkapan dugaan-dugaan penyimpangan ini. Asa yang tersisa tinggal di KPK dan kepolisian. Bagaimana sikap KPK? (Faisal/Bersambung)
 
 
 
 
 
Sumber : Harian Duta Masyarakat 15 Agustus 2008
Aroma Pat Gulipat di Dinas Pendidikan Jatim (2-Habis)
 
Harus Ada yang Bernyali Lapor KPKBukan kali ini saja Disdik Jatim disorot. Bahkan dalam kasus BOS Kadisdik Rasiyo sempat tersandung meski akhirnya selamat. Kini harapan tinggal di pundak KPK.Belum selesai masalah pertemuan tripartit (Disdik Jatim, Kejati Jatim dan rekanan) yang disoal banyak pihak terkait proyek DAK Pendidikan 2008, Disdik Jatim kembali melakukan aksi serupa. DPD Hipmi Jatim kembali mengungkapkan, seminggu setelah pengkondisian tripartit di Hotel Orchid Batu, tepatnya 14-22 Juli 2008 ada informasi tentang adanya dugaan pengkondisian lagi untuk Dana Dekonsentrasi Pendidikan 2008. "Kabarnya dilakukan di Hotel Purnama Batu, dengan kondisi hampir seperti ksus DAK Pendidikan," tandas Ketua DPD Hipmi Jatim, Diar Kusuma Putra SE.Diungkapkan, dari data yang diperoleh HIPMI, di kota/kabupaten yang memperoleh Dana Dekonsentrasi Pendidikan, (kebanyakan kepala Disdik dan kepala sekolah) setempat mengaku tidak nyaman membelanjakan anggarannya.
"Bagaimana tidak? Sebab tidak ada kebebasan memilih perusahaan pemasok. Artinya, sudah dikondisikan dari hulu untuk mengarah pada satu perusahaan. Ada apa di belakang ini semua? Masak seperti itu (pengkondisian perusahaan) gratis? Logikanya tentu tidak kan," tegasnya.Melihat fakta ini, HIPMI tidak bisa tinggal diam. Menurutnya, perlu segera dilakukan penyelidikan atau pemeriksaan lebih lanjut oleh kepolisian ataupun kejaksaan. Bahkan, bila perlu KPK dan BPK dilibatkan untuk memeriksa proyek-proyek yang dibiayai dana APBN di lingkungan Disdik. Sebab, melihat sistem yang diterapkan dalam penggunaan dana-dana dari sumber APBN tersebut, tidak menutup kemungkinan praktik serupa sering dilakukan pada proyek-proyek lain. "Contohnya pengadaan kain seragam guru tahun 2008 yang sangat tidak
transparan. Kami berharap, penegak hukum segera turun untuk membongkar dugaan pat gulipat ini," pungkasnya.Pakar Hukum Unair yang dikenal vokal, I Wayan Titib Sulaksana Sh mengungkapkan, jika dugaan dan tengara itu benar, aparat penegak hukum harus bertindak karena sudah memenuhi unsur KKN. "Kalau benar, ya tidak ada alasan untuk tidak turun," tandasnya.Akan tetapi saat diberitahu bahwa Kejati justru menjadi bagian dalam pertemuan tripartit itu, I Wayan menyatakan agar semuanya bisa terungkap, KPK harus turun tangan. "Laporkan saja ke KPK. Biar KPK yang urus. Di negeri ini kok harapan kita tinggal di institusi itu (KPK)," ujarnya.Juru Bicara KPK, Johan Budi ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya
siap turun menyelidiki dugaan penyimpangan di Disdik Jatim. Apalagi, lannjutnya, Jatim menjadi salah satu propinsi yang dimonitor dalam penanganan tindak pidana korupsi. "Dua bulan lalu kami kan ke Jatim. Itu bukan piknik, tapi kami mengumpulkan data. Banyak laporan yang
kami terima," ujarnya.Adakah dari Disdik Jatim? Johan menjawab dengan senyum, "Ya pokoknya banyak lah," tandasnya.Terkait kasus DAK pendidikan 2008, Johan mengungkapkan agar ada pihak yang melaporkan ke KPK. Setelah itu, KPK akan memverifikasi dan menjamin akan mengungkap. "Kami akan pelajari laporannya dan tentu akan kami tindaklanjuti, " tegasnya.(faisal)
 
 
 
 
 
 
 
 
TUNTUTAN UNTUK DISDIK JATIM DARI LIRA JATIM
 
1.     Tunda Pelaksanaan DAK Pendidikan 2008, sampai ada  kejelasan sehubungan dengan pertemuan Tanggal 9 Juli 2008 di Orchid Hotel Batu yang sangat patut diduga ada upaya pengkondisian pensupply barang dan jasa untuk DAK Pendidikan 2008 di Jawa Timur, yang di lakukan oleh Kejati Jatim, Disdik Jatim dan PT BI dan atau Disdik Jatim membuat pengakuan dan atau pernyataan secara tertulis yang di umumkan melalui Media Massa yang isinya menjelaskan masalah DAK Pendidikan 2008 dan pertemuan di Orchid Hotel Batu atas Undangan Kejaksaan Tinggi Jatim dan yang melibatkan satu rekanan
 
2.     Tunda Pelaksanaan Dekon Pendidikan 2008 untuk SD dan MI di Jawa Timur, sampai ada kejelasan. Sehubungan dengan pertemuan di Hotel Purnama Tanggal 14 ~ 22 Juli 2008, juga karena patut diduga telah terjadi pengkondisian pensupply barang Dekon 2008 dan atau Disdik Jatim membuat pengakuan dan atau pernyataan secara tertulis yang di umumkan melalui Media Massa yang isinya menjelaskan masalah Dekon untuk Pendidikan 2008  dan pertemuan di Purnama Hotel Batu
 
3.     Ulang Lelang dan Usut dugaan KKN: Dalam Rangka Sosialisasi Bos 2008 terdapat lelang : cetakan, Brosure dan Leaflet senilai Rp. 100.000.000,-, Patut diduga telah terjadi akal-akalan secara administrative dan atau patut diduga juga telah terjadi Pereskongkolan antara CV pemenang lelang dengan Pimpro Lelang, dan diduga CV tersebut sama sekali tidak pernah mengerjakan secara langsung proyek tersebut, dan anehnya lagi Panitia Lelang Tidak Pernah melaksanakan pembuatan Administrasi Lelang
 
4.     Ulang Lelang :  Dalam Rangka Peringatan Hardiknas 2008, Disdik Jatim mengadakan Lelang Penyewaan Tenda, Sound system, Kursi dll senilai Rp. 340.000.000,- Patut diduga juga telah terjadi akal-akalan secara administrative dan atau patut diduga juga telah terjadi Pereskongkolan antara CV pemenang lelang dengan Pimpro Lelang, dan diduga CV tersebut sama sekali tidak pernah mengerjakan secara langsung proyek tersebut, dan anehnya lagi Panitia Lelang Tidak Pernah melaksanakan pembuatan Administrasi Lelang (sama dengan point 3)
 
5.     Ulang Lelang Pengadaan Kain 3 Paket @ Rp. 500.000.000,-
Yang proses lelangnya diduga sangat tidak transparan alias tanpa melalui pengumuman secara terbuka terbuka dan transparant, karena: tidak Pernah diumumkan di Papan Pengumuman untuk Jangka waktu tertentu dan hanya diumumkan secara “terbatas” di Harian Jatim Mandiri
 
6.     Disdik Jatim Harus Jamin Netralitas dalam dalam pemilihan Calon Gubernur Jatim, untuk itu kami menuntut Disdik Jatim membuat pernyataan tentang kenetralitasannya sebagai Lembaga Publik, dan tidak akan lagi menjadikan Institusi di Lingkungan Disdik dan atau yang terkait dengan disdik Jatim dijadikan lagi sebagai tempat baik langsung maupun tidak langsung sosialisasi dan atau kampanye Calon Gubernur Jatim, dan tidak akan lagi menjadi Fasilitator bagi Calon Gubernur Jatim baik langsung maupun tidak langsung, bilamana nantinya terjadi hal yang beberda dengan pernyataan Disdik Jatim, kami akan mempersoalkan dihadapan hukum yang berlaku, hal ini kami lakukan karena ada dugaan telah terjadi kampanye dan atau sosialisasi secara terselubung oleh salah satu Cagub Jatim dalam event pertemuan seluruh kepala Disdik dan Kepala Depag Kota Kabupaten se Jawa Timur beberapa hari yang Lalu di Hotel Purnama Batu
 
7.     Kami Menuntut Plt Gubernur Jatim , Bpk Setya Purwaka, untuk secara konsisten menjaga kenetralitasannya dan mengamankan seluruh instansi dibawahnya tetap sebagai lembaga public service yang netral alias tidak memihak siapapun, parpol manapun dan Cagub siapapun, dengan membuat pernyataan secara tertulis dan diumumkan di media massa
 
 
 
 
 
 
 
 
 
               
ISLAM DALAM FILSAFAT MISTIK JAWA: ANALISIS DEWA RUCI 'SERAT CABOLEK'
 
Khazanah kepustakaan Jawa kaya dengan karangan-karangan tentang filsafat mistik yang lazim disebut suluk.
Pada umumnya suluk disampaikan melalui kisah perumpamaan atau alegori, dan ditulis dalam bentuk puisi atau tembang macapat gaya Mataram (Koentjaraningrat 1984:316), tetapi tidak jarang ditulis dalam bentuk gancaran atau prosa (Edi Sedyawati 2001:300). Sebagai alegori, suluk-suluk itu kaya dengan ungkapan-ungkapan simbolik dan simbol atau image-image simbolik. Karena itu untuk memahaminya diperlukan metode penafsiran atau pemahaman yang sesuai.

Kisah Dewa Ruci adalah salah suluk yang popular di Jawa dan sering dipergelarkan sebagai lakon wayang kulit. Keragaman versinya menunjukkan luasnya penyebaran kisah ini, begitu pula dengan banyaknya naskah yang memuat teks kisah ini di berbagai museum dalam dan luar negeri (PigeAUD 1967:83-7; Behrend 1990:499-544). Sejak lama cukup banyak sarjana sastra Jawa telah menelitinya, berdasar pertimbangan bahwa suluk ini merupakan representasi terbaik dari wacana mistisisme Jawa. Di dalamnya filsafat hidup Jawa yang didasarkan pada bentuk-bentuk spiritualitas atau mistisisme yang sinkretik tergambar dengan jelasnya.

Versi yang terkenal gubahan Raden Ngabehi Yasadipura I, pujangga Surakarta yang hidup pada masa pemerintahan Pakububuwana II (1726-1749 M) dan Pakubuwana III (1749-1788 M). Ketika karangannya itu ditulis kraton Surakarta baru saja pulih dari krisis akibat pemberontakan internal, namun campur tangan VOC yang semakin jauh dalam politik di pusat kekuasaan Jawa membayangi gelapnya kehidupan social, ekonomi dan budaya. Ancaman disintegrasi sudah lama tampak. Ini diperparah lagi dengan ketegangan di pesisir sebagai akibat dari pertikaian teologis antara pembela ortodoksi Islam dan kaum heterodoks. Ketegangan ini berpengaruh dalam kehidupan politik dan keagamaan di pedaman, tempat pusat kekuasaan berad (Ricklefs 1993:203-12).

Krisis politik ini tentu saja sangat berpengaruh bagi perkembangan kebudayaan. Masyarakat Jawa mulai merasakan kehilangan orientasi dan krisis identitas mulai tampak dalam pola hidup dan perkembangan kesenian. Untuk memulihkan kondisi budaya yang parah itu, sebuah gerakan semacam renaissance (kebangkitan kembali) budaya diperlukan. Ini mulai dirasakan pada zaman pemerintahan Pakubuwono II. Renaissance itu dimulai dengan menyadur dan menggubah kembali karya-karya Jawa Kuna, dan juga teks-teks Melayu Islam. Teks-teks Jawa Kuna dan Melayu Islam yang telah digubah kembali itu berperan penting sebagai landasan untuk merumuskan kembali filsafat hidup dan kebudayaan Jawa. Yasadipura I menulis suluknya dalam rangka renaissance kebudayaan dan kesusastraan Jawa (Pigeaud I 1967:160-171; Edi Sedyawati 2001:321). Dalam periode inilah sinthesa kebudayaan Jawa dan Islam, yang diwakili tasawuf atau sufisme, mendapat bentuknya yang definitif. Sinthesa itu tercermin
 sepenuhnya dalam kisah Dewa Ruci.


Karena itu tidak mengherankan jika suluk ini termasuk teks mistik Jawa yang paling banyak mendapat perhatian dari para sarjana untuk diteliti dan dikaji. Di antara kajian yang pernah dilakukan dan dianggap penting ialah kajian Zoetmulder (1935), Poerbatjaraka (1940), Wediondiningrat (1940), Siswoharsojo (1953), Seno Sastromidjojo (1962), Anne Wind (1956), Johns (1957), dan Soebardi (1975). Selama tiga dasawarsa setelah kajian Soebardi, dapat dikatakan tidak ada kajian yang mendalam, bahkan hanya mengulang kajian terdahulu. Padahal masih banyak yang belum diteliti dari suluk ini, terutama yang berkenaan dengan tasawuf atau mistisisme Islam, yang merupakan aspek dan unsur penting dari suluk sinthesis ini. Dalam kajian yang telah disebutkan unsure ini hanya dibicarakan sambil lalu dan dianggap seakan hanya merupakan unsure atau aspek sampingan belaka.

Berdasarkan kenyataan inilah, penelitian ini ditumpukan pada unsur-unsur tasawuf yang terdapat dalam suluk ini. Khususnya pengaruh paham monisme dari ontologi atau filsafat wujud Ibn `Arabi yang disebut sebagai paham kesatuan transenden wujud (wahdat al-wujud). Unsur lain dalam DR yang berkaitan dengan tasawuf ialah uraian tentang hawa nafsu (nafs) dan hati (qalb) serta keadaan-keadaan yang dialaminya pada saat seseorang menempuh jalan mistik (suluk). Unsur ini termasuk ke dalam bidang psikologi sufi, yang terutama sekali dibahas oleh Imam al-Ghazali yang pemikiran tasawufnya sangat berpengaruh di Indonesia. Sebagaimana dalam alegori-alegori mistik yang lain, konsep-konsep tasawuf yang dibahas dalam teks itu dikemas dalam symbol-simbol lokal. Ini juga akan mendapat perhatian dalam penelitian ini.
 

2. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini ialah: Pertama, menerangkan bagian-bagian dari teks Dewa Ruci yang bersesuaian dengan ajaran Ibn `Arabi tentang wujud, khususnya seperti terlihat pada penggunaan konsep-konsep kunci dan simbol-simbol estetik sastranya; Kedua, menerangkan hubungan DR dengan psikologi sufi yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali; Ketiga, menjelaskan keberhasilan penulisnya dalam memadukan filsafat mistik Jawa dan Islam dalam sebuah karangan sastra.

3. Data Teks Yang Diteliti

Teks-teks yang dijadikan bahan penelitian ialah teks-teks Serat Cabolek yang tidak jauh berbeda salinannya.

a. Teks dalam naskah Perpustakaan Museum Leiden, nomor Cod. Or. 1795. Didaftar dalam katalog Vreede CCXXVII (Vol. II, hal. 314 ? 5). Tembang macapat yang digunakan dalam awal suluk ialah Dandanggula.

b. Teks Serat Cebolek cetakan Van Dorp, 1887. Dalam katalog Vreede (II, hal.. 30) dikemukakan bahwa teks salinan dalam tulisan Latin ini disalin dari teks tulisan Jawa dan diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan edisi 1887, yaitu Van Dorp & Co, Semarang. Edisi ini dimulai dengan tembang Dandanggula seperti berikut, ?Serat Cabolek, anyariosaken ing nalika keraton Kartasura, panjengenganipun Kanjeng Susuhunan Sumare Nglaweyan. Ing waktu mas Ketib Anem Kudus paben kaliyan Haji Ahmad Mutamakin dusun Cabolek bawah nagari Tuban, bab prakawis ngelmu Taukid??.

c. Teks Serat Cabolek suntingan Soebardi (1975) dari beberapa naskah Koleksi Museum Nasional Jakarta (sekarang Perpustakaan Nasional Jakarta) yang juga diawali dengan tembang Dandanggula, berbunyi: ?Wuryaning sarkara manulad sri, pinanduk ing reh angkara cipta, karti sampeka panjro jujur tyaas katelanjur. Pangajarin pakarti kontit, tan tatal tinatula, jataling kalbu, kombul Kabul ing istijrat?? (Soebardi 1975:66).

d. Syair-syair Hamzah Fansuri yang dijadikan bahan perbandingan dalam penelitian ini didasarkan atas teks dalam naskah Melayu abad ke-18 yang terdapat dalam koleksi Perpustakaan Museum Jakarta (MS Jak. Mal. No. 83). Transliterasinya lihat Abdul Hadi W. M. (2002:351-412).
 
 

4. Teori


Teori yang digunakan adalah perpaduan Teori Arketipal Jung dan Teori `Alam al-Mithal Ibn `Arabi. Menurut Jung, sejak dulu hingga kini manusia terdiri dari tipe-tipe tertentu dan tipe-tipe itu terbentuk disebabkan pengalaman bersama di masa lampau. Tipe-tipe itu muncul dari sumbernya yang disebut collective consciousness atau ketaksadaran bersama (Jung 1957:100-123); Steven 1982; Budi Darma 2004:46-9). Ia hadir dalam sastra dalam bentuk archetypal images, termasuk di dalamnya image-image simbolik, mitos dan motif-motif tertentudalam cerita (Jung 1957:112; Jacobi 1968). Di antaranya berupa bayangan, anima, animus, orang bijak, ibu agung, pahlawan, ayah, anak, dan diri (self).

Tetapi Jung tidak menjelaskan bagaimana proses hadirnya image-image purbani itu dalam sastra. Ibn `Arabi menjelaskan bahwa proses itu terjadi karena pengarang menggunakan imaginasi kreatif dalam melahirkan karangannya. Imaginasi kreatif mengolah pengalaman dan gagasan-gagasan keruhanian pengarang, dan memberinya wadah berupa image-image purbani yang besifat simbolik. Image-image itu tampaknya diambil dunia empiris, tetapi sebenarnya berasal dari alam imaginal (`alam al-mithal) yang berada jauh di lubuk jiwa pengarang. Karya sastra dilihat sebagai representasi alam imaginal yang pembacaannya bisa utuh bilamana kita memahami makna batin yang dikandung simbol-simbolnya. Simbol-imbol itu lebih jauh berfungsi sebagai penghubung pengetahuan empiris dengan pengalaman intuitif mistikal (Corbin 1977:188).
 

5. Metode

Metode yang digunakan adalah gabungan Gadamer dan hermeneutika sufi (ta?wil). Keduanya saling melengkapi dan relevan dalam meneliti karya-karya bercorak mistikal dan simbolik. Dalam metode hermeneutika karya sastra dipandang sebagai wacana simbolik karena unsur fiksionalitas dan perumpamaa (metaphor) yang ada di dalamnya sangat menonjol. Dalam metode ini teks dikaji sebagai bentuk ?pelambangan? atas sesuatu yang lain (Corbin 1981:13 ? 19). Sesuatu yang lain itu memiliki ?cakrawala? yang luas dibandingkan dengan cakrawala harafiah teks.

Menurut Gadamer ada empat cakrawala tersembunyi dalam suatu teks filsafat atau sastra. Empat cakrawala itu ialah (1) Bildung atau pandangan keruhanian yang membentuk jalan pikiran seseorang, termasuk di dalamnya pandangan hidup (way of life), system nilai Weltanschauung; (2) Sensus communis, yaitu pertimbangan praktis, yang dalam sastra bisa terwujud dalam pemilihan tema atau permasalahan dengan mempertimbangkan perasaan komunitas di mana pengarang hidup; (3) Judgment atau pertimbangan, berhubungan dengan apa yang harus disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat dengan mempertimbangkan baik buruknya; (4)Taste atau selera, cara-cara menyajikan sesuatu yang sesuai dengan selera masyarakat sezaman (Salleh Yaapar 2002:70-80; Sumaryono 1993:78-9).

Dalam hermeneutika sufi, bildung dihubungkan dengan ontologi (falsafah wujud) dan psikologi sufi. Dalam ontology sufi, alam semesta terdiri dari empat tatanan wujud, secara berturut-turut dari atas ke bawah ialah alam ketuhanan (alam lahut), alam keruhanian (alam jabarut), alam kejiwaan (alam malakut), dan alam jasmani (alam nasut). Simbol perjalanan dalam sebuah karya mistikal seperti Dewa Ruci adalah perjalanan mendaki dari tatanan wujud terdendah menuju tatanan wujud tertinggi. Dalam wilayah pengalaman tentang wujud tertinggi itulah makna sebenarnya sebuah karya harus dicari (Salleh Yaapar 2002:81-94)
 

6. Deskripsi Kisah Dewa Ruci

Kisah Dewa Ruci mulai digubah pada abad ke-18 M berdasarkan teks abad ke-16 M Serat Syekh Malaya karangan Sunan Kalijaga. Ada dua versi dari teks abad ke-16 ini. Versi I menceritakan pertemuan Iskandar Zulkarnanin dengan Nabi Khaidir di sebuah pantai. Iskandar disuruh menyelam ke dalam lautan untuk mencari air hayat (ma` al-hayat) agar bisa hidup kekal. Versi II, peran Iskandar diganti oleh Syekh Malaya alias Sunan Kalijaga (Abdul Hadi W. M. 2002:322). Dalam Serat Dewa Ruci peran Syekh Malaya diganti oleh Bima, sedangkan Nabi Khaidir oleh Dewa Ruci.

Cerita dimulai dengan peristiwa pertemuan Bima dan Drona menjelang perang Kurawa Pandawa meletus. Drona memerintahkan Bima mencari air hayat di puncak gunung Candradimuka agar bisa hidup kekal dan berjaya di medan perang. Setelah gagal menjumpai di puncak gunung, Bima disuruh mencarinya di dalam lautan. Dalam Serat Cabolek, bagian awal kisah tidak diceritakan. Kisah langsung dimulai dengan penyelaman Bima ke dalam lautan untuk mencari air hayat, suatu episode yang memang paling penting dalam kerangka suluk Dewa Ruci. Sinopsis ceritanya yang lengkap ialah sebagai berikut: Menjelang meletusnya perang Kurawa dan Pandawa (Bharatayudha) Drona memanggil muridnya Bima, putra kedua Pandu (Pandawa). Drona yang memihak Kurawa, mempunyai rencana jitu. Agar Bima yang sakti tidak ikut dalam perang Pandawa melawan Kurawa, ia harus disingkirkan. Drona menyuruhnya mencari air hayat ke puncak gunung Candradimuka.

Sebagai murid yang patuh Bima menjalankan perintah gurunya. Drona gembira, karena yakin Bima akan mampus diterkam binatang buas dan raksasa. Tetapi di luar dugaan Bima dapat mengalahkan dua raksasa sakti dan ganas yang dijumpai di hutan dan merintangi perjalanannya. Namun alangkah kecewanya, setibanya di kawah Candradimuka putra Pandu dia tidak menemukan air hayat seperti dituturkan gurunya. Bima kembali menemui Drona. Drona mengeluarkan lagi tipu dayanya. Dia menyuruh Bima mengarungi samudra, karena air hayat itu terdapat di sana. Dengan tegap Bima pun berjalan menuju menuju laut, lantas berenang dan menyelam.

Di dalam lautan dia berjumpa ular naga besar dan ganas menghalangi perjalanannya. Melalui pertarungan yang dahsyat, Bima dapat mengalahkan ular naga itu. Kemudian dia berjumpa dengan Dewa Ruci, manusia bertubuh kecil, yang rupanya mirip dengan dirinya, bermain-main seperti boneka bergerak-gerak. Dima mendapat pelajaran bahwa air hayat itu tidak lain ialah persatuan mistis dengan Yang Maha Tunggal (manunggaling kawula Gusti). Cara mencapainya dengan menjalani disiplin keruhanian yang keras, termasuk menundukkan hawa nafsu dan menycui dirinya. Bila itu dicapai ia akan mendapatkan hidup yang kekal di dalam Yang Maha Esa (baqa?). Dalam teks SC pencapaian ruhani (maqam) ini disebut ?Weruh sangkan paraning dumadi? (mengetahui asal-usul dan tujuan segala kejadian).

Dalam Serat Cabolek episode ini dituturkan oleh Ketib Anom di hadapan peserta musyawarah di kraton Kartasura, yang diadakan untuk mengadili Haji Mutamakin, seorang pembangkang dan penganut paham heterodoks seperti Syeh Siti Jenar. Dalam bagian inilah uraian tentang filsafat mistik Jawa diuraikan Episode ini dimulai pada pupuh VIII:12:

Lajeng kinen nutugake
Inggih pamahosipun
Mardikani Serat Bima Suci
Puniki kan pinurwa
Ing nalikanipun
Bima kinonumanjina
Nengih maring talingane Dewa Ruci
Sinawung ing sarkara


(Lantas dia -- Ketib Anom ? meminta/Agar diperkenankan melanjutkan pembicaraan/Dan uraian tentang Serat Bima Suci/Dan mulai dengan kisah/Ketika Bima dititah/Masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci)

Wuwusira Dewa Suksma Ruci:
Payo Wrekudara dipun-enggal
Manjinga garbengnyong kene!?
Wrekudara gumuyu
Pun angguguk turira aris:
?Dene paduka bajang
kawula geng luhur
inggih panyawak parbata
Saking pundi margina kawula manjing
Jentik mangsa sedena?
(Pupuh VIII:14)


(Kata Dewa Ruci ?Ayo Werkudara, cepat/Masuk ke dalam perutku!/Werkudara tertawa/Lantas bertanya perlahan,/?Tubuh paduka kecil,/Sedang saya tinggi besar/ Seperti gunung/Dari mana saya harus masuk, /Sedangkan jari saya saja sukar masuk!?)

Angandika malih Dewa Ruci:
?Gede endi sira lawan jagad
kabeh iki saisine
kalawan gunungipun
samodrane alase sami
tan sesak lumebuwa
guwa garbaningsun?
Wrekudara duk miyarsa
Esmu ajrih kumel sandika turneki:
Mengleng sang Ruci Dewa:
(Pupuh VIII:15)


(Dewa Ruci berkata lagi,/Mana yang lebih luas, kau atau alam raya?/Seluruh jagat seisinya/Dengan semua gunung/Lautan dan rimba rayanya/Semua dapat masuk tanpa kesulitan/Ke dalam tubuhku!?/Mendengar itu Werkudara merasa putus asa?.


Dewa Ruci lantas menyuruh Bima masuk melalui telinga. Sesampainya dalam perut Dewa Ruci ia menyaksikan lautan luas tak terhingga bentangan ufuknya. Dia merasa berjalan di awang-awang, dalam ruang kosong yang tidak terhingga luasnya. Sesudah itu tiba-tiba telah berada di hadapan Dewa Ruci. Kembarannya itu tampak berkilauan. Hatinya merasa tentram. Setelah itu Bima diminta agar memusatkan perhatian ke arah depan. Ia lantas menyaksikan empat warna, tetapi dengan cepat lenyap dari pandangan. Empat warna itu ialah hitam, merah, kuning, putih. Tiga yang pertama merupakan bagian dari badan jasmani dan penyebab rusaknya kalbu atau hati. Yang satu lagi (putih) mendatangkan kebaikan. Agar mencapai persatuan dengan Yang Gaib, seseorang harus membebaskan diri dari yang tiga. Sebab ketiganya merintangi pikiran dan kemauan orang yang ingin fana? atau hapus dalam Suksma Sejati (Pupuh VIII:16-20)

Dalam pupuh VIII:27-28 dikemukakan bahwa hati yang bersih yang dapat membuat orang memperoleh hidayah. Setelah warna yang empat lenyap, lantas muncul Cahaya Tunggal delapan warna. Werkudara bertanya: ?Apa nama cahaya delapan warna ini/Merupakan hakekat sejati?/ Tampak seolah permata gemerlapan/ Kadang seperti bayangan, mempesona/Kadang pancaran sinarnya bagaikan zamrud?. Dewa Ruci menjawab: ?Inilah intipati kesatuan/Artinya segala hal yang ada di alam dunia/Ada pula dalam dirimu/Pun semua yang ada di alam dunia/Memiliki padanan dalam dirimu/Antara jagad besar/Dan jagad kecil tidak berbeda..//Seperti warna yang empat/Kepada dunia memberi hayat/ Jagad besar dan jagad kecil/ Setiap yang ada sama dalam keduanya/Jika rupa di alam dunia/Ini lenyap seisinya/Maka semua wujud akan tiada/Dan menyatu dalam wujud tunggal/Tiada lelaki atau wanita? (Pupuh VIII:29)

Bima bertanya kepada Dewa Ruci, apakah yang tampak itu merupakan dhat hakiki yang dicarinya selama ini? (Punapa inggih punika/warnaning dhat kan pinrih dipun ulati/kang sayektining rupa?). Dewa Ruci menjawab, bukan itu yang harus dicari. Inti pati dari semua ini tidak dapat dilihat dengan mata, tidak dijumpai di mana-mana, kecuali dalam hati dan jiwa manusia. Apa yang tampak di alam dunia dan kehidupan manusia itu hanyalah isyarat, tanda-tanda atau ayat-ayat-Nya, yang memberi petunjuk kehadiran Yang Maha Gaib dalam kehidupan (Pupuh VIII:31-2)

Sang Guru kemudian menerangkan tentang cahaya gemerlapan yang disebut pramana. Pramana adalah pemberi hidup kepada tubuh jasman. Jika ia meninggalkan badan, maka badan tidak berdaya lagi. Pramana memperoleh hidup dari Sang Suksma atau Ruh Tertinggi, yaitu Dia Yang Maha Hidup dan pemberi hidup. Kemudian Dewa Ruci menjelaskan bahwa pramana merupakan tajalli (pancaran) dari Yang Satu. Ia tidak menyerupai apa pun dan sukar digambarkan. Pada awalnya pramana itu satu dengan Sang Pencipta, tetapi setelah diberi rupa cahaya maka ia menjadi terpisah dari asal-usulnya Pupuh VIII:33-36)

Mendengar hal itu Bima semakin ingin mengetahui rahasianya. Ia malahan berkeinginan tinggal di tempat sunyi itu selamanya. Tetapi Dewa Ruci tak mengizinkan. Bima harus menjalani kehidupan di dunia karena tugasnya belum selesai sebagai seorang kesatria. Sebagai gantinya Dewa Ruci memberi pelajaran tentang rahasia Yang Hakiki, dan cara mencapai persatuan dengan-Nya.

Setelah kita mengetahui isi cerita Dewa Ruci, kita akan mengerti mengapa para sarjana sependapat mengatakan bahwa suluk ini merupakan lakon yang tidak hanya membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan dirinya. Tetapi juga membicarakan tujuan hidup manusia yang sebenarnya, dan cara mencapai tujuan itu. Tujuan yang ingin dicapai manusia Jawa ialah pamoring kawula gusti, karena Tuhan itu merupakan sangkan paraning dumadi. Dengan itu manusia itu akan mencapai kebahagiaan.

Jalan yang harus ditempuh ialah dengan menundukkan hawa nafsu (mujahadah) dan menyucikan diri (tadzkiya al-nafs). Pada akhir perjalanannya ia akan menyaksikan bahwa tiada yang maujud selain Tuhan. Penulis Serat Cabolek menggunakan ungkapan ?Weruh sangkan paraning dumadi?, yang dapat dirujuk pada pendapat Imam al-Ghazali. Dalam Kimiya-i Sa`adah (Kimia Kebahagiaan) ia mengatakan bahwa tujuan hidup ialah untuk mengenal hakikat diri, sehinga dengan demikian seseorang dapat merealisasikan dirinya. Ghazali berpedoman pada sebuah hadis qudsi yang menyatakan, ?Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya?. Maksudnya barang siapa mengenal hakikat dirinya, ia akan mengenal asal-usulnya. Makna ungkapan ?weruh sangkan paraning dumadi? lebih kurang seperti itu.

Dalam suluk ini terdapat beberapa symbol konseptual atau image-image yang berfungsi sebagai simbol dari konsep-konsep filsafat mistik Jawa dan tasawuf.. (1) Pencitraan Dewa Ruci sebagai kembaran Bima, namun tubuhnya lebih kecil); (2) Lautan tempat air hayat; (3) Air Hayat; (4) Sinar pancamaya, pencitraan tentang hati atau kalbu; (6) Empat warna, yang merepresentasikan empat hawa nafsu dalam jiwa badani manusia; (7) Cahaya tunggal yang disebut pramana.

Simbol-simbol ini secara berurutan berkaitan dengan psikologi, kosmologi, dan ontologi sufi. Juga dengan peringkat-peringkat keruhanian (maqam) dan keadaan ruhani (ahwal) yang dialami seorang ahli suluk dalam upayanya mencapai Yang Satu. Image-image atau citraan-citraan itu selain purbani juga universal.
7. Analisis Simbol Laut dan Air Hayat

Pencitraan Dewa Ruci sebagai kembaran Bima memperlihatkan bahwa dalam psikologi sufi dan mistik Jawa dikenal dua jenis ?diri? (self), yaitu ?diri jasmani? yang direpresentasikan oleh Bima dan ?diri ruhani? (higher self) yang direpresentasikan oleh Dewa Ruci. Dalam tasawuf, ?diri jasmani? disebut nafs atau hawa nafsu. Karena menempati alam bawah (alam nasut) ia disebut lower self dalam bahasa Inggeris. Perjalanan ruhani seorang penuntut ilmu suluk, dilukiskan oleh Rumi sebagai ?perjalanan dari ?diri? ke Diri?, yaitu dari ?diri palsu? ke ?Diri Hakiki?. (Happold 1981:58-61). ?Diri ruhani? disebut juga sebagai badan halus, tempatnya dalam tatanan wujud ialah di alam keruhanian (alam jabarut). Sedangkan ?diri jasmani? disebut badan kasar.

Perjalanan mencapai ?diri ruhani? hanya bisa dilakukan oleh Bima dengan menyelam ke dalam lautan untuk mendapatkan air hayat. Dalam wacana sastra sufi, khususnya dalam filsafat mistik Ibn `Arabi, simbol lautan digunakan untuk menggambarkan ketakterhinggaan dan keluasan wujud Tuhan. Sastrawan sufi Melayu yang banyak menggunakan simbol ini ialah Hamzah Fansuri. Misalnya seperti dalam syairnya Bahr al-`Ulya atau Lautan Wujud Yang Maha Tinggi. Dalam syair itu Wujud Mutlak dikiaskan sebagai Bahr al-`ulya (Lautan Maha Tinggi).. Ia merupakan asal-usul segala kejadian, sebab salah satu dari tujuh sifat-Nya yang utama ialah Maha Hidup (al-hayy) yang memberikan hidup kepada segala sesuatu. Sifatnya yang lain ialah maha memiliki ilmu (`ilm) dan karenanya Maha Tahu (`alim) (Abdul Hadi W. M. 2001:395). Tema serupa diuraikan dalam Dewa Ruci ketika Bima berjumpa Dewa Ruci, guru spiritualnya itu.

?Air Hayat? adalah simbol bawahan dari Lautan. Simbol ini dikenal di Nusantara sejak masuknya agama Islam bersama tasawufnya. Dalam teks-teks Jawa Kuna, yang mewakili teks-teks paling tua di Nusantara, pemakaian simbol seperti itu tidak dijumpai. Tamsil air hayat dalam sastra Nusantara dijumpai untuk pertama kali dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain yang teks Melayunya telah ditulis pada abad ke-15 M (Braginsky 1998); kemudian dalam teks Jawa dan Melayu abad ke-16 M seperti Serat Syekh Malaya Sunan Kalijaga dan Syair Tauhid dan Makrifat Hamzah Fansuri.

Kata ?air hayat? adalah terjemahan dari kata Arab ma` al-hayat. Simbol atau tamsil ini digunakan untuk menyebut pengetahuan mistikal (ma`rifa) yang mengantarkan seseorang mencapai persatuan mistis dengan Tuhan (pamoring kawula gusti). Dengan bekal pengetahuan itu seseorang akan fana`(luluh dalam sifat ketuhanan) dan baqa? (kekal dalam Yang Maha Abadi). Judul risalah tasawuf Nuruddin al-Raniri, ulama Aceh abad ke-17 M, memakai kata-kata itu untuk menerangkan pentingnya ilmu haqiqat atau makrifat.

Dalam syair Hamzah Fansuri, makrifat ditamsilkan sebagai air hayat, sebab pengetahuan inilah yang dapat menghidupkan jiwa yang mati dan yang dengan itu menyebabkan seseorang mengenal kebenaran hakiki dan mencapai persatuan mistikal dengan Tuhannya. Dengan demikian ia merasakan hidup kekal (baqa) bersama Tuhan. Dalam syairnya Hamzah Fansuri antara lain menyatakan:


Aho segala yang berhati
Jangan lupa akan ma`al hayati
Barang siapa tahu akan laut yang jati
Dunia akhirat tiada akan mati
(IX:1 AH. 364)


Disiyaratkan dalam bait ini bahwa untuk mendapat ma` al-hayat atau air hayat (makrifat) seseorang harus menggunakan sarana yang terdapat dalam kalbu atau hati. Selanjutnya dikatakan bahwa lautan itu bernama ahad (lautan wujud yang esa) yang sifat-sifat-Nya meliputi segala sesuatu. Salah satu sifat-Nya yang lain ialah jamal (maha indah). Keindahannya itu cahayanya terang. Kata Hamzah, ?Jamal itulah cahayanya terang/ Pada kedua `alam adanya senang/ Barangsiapa sampai pada laut yang tenang/ Dunia akhirat terlalu menang? (IX:13 AH p.367). Pokok yang sama dibahas dalam Dewa Ruci (pupuh VIII).


Dikatakan juga bahwa kedua alam itu diliputi oleh Dzat-Nya sepanjang zaman, yaitu oleh sifat-sifat-Nya sebagai pemberi hayat, ilmu, maha berkehendak, dan lain sebagainya. Hamzah Fansuri menghubungkan simbol ?air hayat? dengan pengetahuan tentang ?diri?, kehampiran manusia dengan Sang Pencipta, persatuan mistik dan cahaya-Nya yang maha indah. Untuk mendapat air hayat itu seorang penuntut ilmu suluk harus menyelam ke dalam lautan wujud alam semesta.. Lukisan tentang lautan wujud dalam syair Hamzah Fansuri, tidak jauh berbeda dengan lukisan dalam Dewa Ruci. Kata Hamzah:


Laut itulah yang bernama sedia
Tempatnya gaib terlalu sunya
Sungguh pun Tuhan yang maha mulia
Hampir-Nya sangat kepada yang mengenal Dia


Adalah juga menarik bahwa persoalan ?kesatuan transenden wujud? yang dalam Dewa Ruci dan ditafsirkan sebagai ajaran ?kebhinnekaan dalam keekaan? dan serta dilambangkan sebagai ?cahaya tunggal? yang memiliki delapan warna dikaitkan hanya dengan pandangan Imam al-Ghazali (Soebardi 1975:50). Padahal yang membahas masalah ini sebenarnya adalah Ibn `Arabi dan para pengikutnya seperti Maghribi. Misalnya seperti terlihat dalam terjemahan Inggeris dari sebuah syairnya:

Know that Named is one and the Names a hundred thousand
The being is one, but its aspects are a hundred thousand?
Without His Being all the world is non-existent
Of His Being and Bounty the world is a sign
The world arises from diffusion of His Unversal Being
Whatever thou seest is from His Universal Bounty
(Browne III 1976:472)


Ketahuilah yang diberi Nama hanya satu, namun nama seratus ribu
Wujud itu satu, tetapi pancarannya seratus ribu ?
Tanpa Wujud-Nya seluruh alam tidak maujud
Dari Wujud dan Rahmah-Nya dunia menjadi sebuah ayat
Dunia memancar dari perpaduan Wujud-Nya yang Sejagat
Apa pun yang kau saksikan di alam semesta itu berasal dari Rahmat-Nya


Dalam Dewa Ruci, Cahaya Tunggal sang Wujud itu digambarkan memiliki delapan warna. Ungkapan ini dapat dirujuk ayat al-Qur?an (52:4) yang menyatakan bahwa `Arasy merupakan singgsana Tuhan yang dijaga oleh delapan malaikat.
 

8. Analisis Simbol Cahaya dan Kalbu

Pencitraan sinar warna-warni yang berkilau-kilauan, serta memberikan kekuatan hidup kepada kalbu, dapat dirujuk kepada psikologi Imam al-Ghazali. Khususnya dalam Ihya `Ulumuddin III, bab tentang keajaiban hati. Dalam kitabnya itu Imam al-Ghazali menyatakan bahwa dalam bentuk dan susunannya tubuh manusia itu mengandung empat campuran dan karenanya di dalamnya ada empat macam sifat, yaitu nafsu serigala (nafsu amarah), nafsu binatang (nafsu syahwat), nafsu setani (nafsu lawamah) dan nafsu malaikat (nafsu sufiyah) dan nafsu mutmainah (ketenangan) yang memancar dari sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia (Abdul Mudjieb 1986:39).

Ketika manusia dikuasai oleh nafsu amarah yang dilambangkan dengan warna hitam, ia akan melakukan perbuatan serigala seperti senang akan permusuhan, penuh kebencian dan sangat agresif kepada manusia lain. Ketika seseorang dikuasai oleh syahwatnya, yang dilambangkan dengan warna merah, ia akan melakukan perbuatan binatang seperti lahap, rakus, brutal dan senang melampiskan nafsu berahinya. Selanjutnya begitu urusan ketuhanan meresap ke dalam hawa nafsunya, maka ia akan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Ia mulai menyukai kekuasaan, keluhuran dan kebebasan, serta berkeinginan untuk menguasai dunia demi dirinya sendiri. Inilah nafsu setani yang dilambangkan dengan warna kuning. Nafsu sufiyah dan mutmainah dilambangkan dengan warna putih. Jika manusia dikuasai oleh sifat-sifat ketuhanan (rabbaniyah), kata Imam al-Ghazali, maka hidupnya akan dibimbing oleh ilmu, hikmah dan keyakinan dan mampu memahami hakikat segala sesuatu. Ia akan mengenal segala sesuatu
 dengan kekuatan ilmu dan mata hati. Akan memancar pula darinya sifat-sifat yang mulia seperti kesucian diri, suka menerima apa yang dianugerahkan kepadanya, tenang, zuhud, wara?, taqwa, selalu riang hatinya., gemar menolong, punya rasa malu dan rasa bersalah.


Hati orang yang telah diresapi sifat-sifat ketuhanan itulah, kata Imam al-Ghazali, dapat disebut sebagai cermin cerlang yang memancarkan cahaya berkilauan. Di sini Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis dari Abu Mansur al-Dailani, ?Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mencapai kebaikan, akan didijadikan kalbu baginya sebagai penasehat bagi dirinya.? Dewa Ruci sebagai guru dan penasehat Bima dalam Serat Cebolek, adalah representasi dari kalbu yang dijadikan penasehat bagi seseorang yang telah mampu menundukkan hawa nafsunya.

Penggunaan tamsil-tamsil berkenaan dengan cahaya, kekosongan dan lain dalam kisah Dewa Ruci ini juga dapat dirujuk pada hadis Nabi yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya `Ulumuddin. Di antara hadis Nabi yang dikemukakan itu ialah seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Thabrani, ?Hati seorang mukmin itu kosong, di dalamnya ada lampu yang bersinar-sinar, sedangkan hati orang yang sesat itu hitam dan terbalik?.

Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Khudiri ialah seperti berikut, ? Hati itu ada empat macam, yaitu: (1) Hati yang kosong atau bersih yang di dalamnya ada lampu yang bersinar, hati yang demikian itulah hati orang mukmin; (2) Hati yang hitam dan terbalik, hati yang demikian itulah hati orang yang ingkar; (3) Hati yang terbungkus dan terbelenggu oleh bungkusnya, hati yang demikian itulah hati orang munafik; dan (4) Hati yang bercampur aduk, di dalamnya ada iman dan nifaq?. Selanjutnya dijelaskan bahwa hati menjadi jernih dan penglihatan batin menjadi terang disebabkan iangat kepada Allah dan taqwa. Ingat akan Allah merupakan pintu kasyf (tersingkapnya hakikat segala sesuatu) dan kasyf itu merupakan pintu keberuntungsn, yaitu keberuntungan berjumpa dengan-Nya (Abdul Mudjieb 1986 46-8).

Dalam uraian selanjutnya, dengan merujuk kepada pendapat Imam al-Ghazali itu, Yasadipura I menulis bahwa hati yang bersih dan kosong itu saja yang dapat membawa seseorang mencapai hidayah (petunjuk) ilahi (pupuh VIII:15-18): ?Jika kau berhasil mengatasi/Tiga bentuk nafsu ini/Persatuanmu akan sempurna/Kau tak perlu lagi pembimbing/Mencapai persatuan hamba dan Gusti (pamoring kawula Gusti)/Setelah Werkudara mendengar ini/Kerinduan hatinya membara/Berahinya (`isyq) kian berkobar/Hatinya dirasuki/Keinginan manunggal//Warna yang empat sirna pula dari pandangan /Tinggal cahaya tunggal delapan warna/Kata Werkudara:/?Apa nama cahaya delapan warna ini/Merupakan hakekat sejati?/Tampak seolah permata gemerlapan/Kadang seperti bayangan, mempesona/Kadang pancaran sinarnya bagaikan zamrud?.

Selanjutnya, ?Dewa Ruci, Sang Nur seantero jagad/Lantas menjawab:/?Inilah intipati kesatuan/Artinya segala hal yang ada di alam dunia/Ada pula dalam dirimu/Pun semua yang ada di alam dunia/Memiliki padanan dalam dirimu/Antara jagat besar/Dan jagat kecil tidak berbeda/Ia adalah asal-usul utara, selatan, timur/Barat, zenith dan nadir//Seperti warna yang empat/Kepada dunia memberi hayat/Jagad besar dan jagad kecil/Setiap yang ada sama dalam keduanya/Jika rupa di alam dunia/Ini lenyap seisinya/Maka semua wujud akan tiada/Dan menyatu dalam wujud tunggal/Tiada lelaki atau wanita?.


Kemudian dijelaskan bahwa tahap awal yang harus ditempuh ahli suluk untuk mencapai ?Pamoring Kawula Gusti? dan memahami makna ?Sangkan Paraning Dumadi? secara mendalam ialah melalui pengendalian diri atau kecenderungan-kecenderungan buruk dari hawa nafsu.

Dalam ilmu tasawuf, tahapan awal ini disebut mujahadah, perjuangan batin melawan kecenderungan buruk dalam diri. Mujahadah mencakup tiga hal: (1) Penyucian diri (thadkiya al-nafs); (2) Pemurnian hati (tashfiyat al-qalb); (3) Pengosongan jiwa terdalam (takhliyat al-sirr). Pengosongan jiwa terdalam atau sirr dilakukan dengan memusatkan diri kepada Yang Satu dan mengosongkan diri dari yang selain-Nya (Mir Valiuddin 1980:1-3).

Demikianlah setelah Bima menempuh tahap awal dari perjalanan keruhaniannya itu, ia berjumpa dengan Dewa Ruci yang digambarkan seperti mutiara dengan sinar warna-warni gemerlapan. Ia tidak lain adalah gambaran tentang hati terdalam manusia dan merupakan manifestasi (tajalli). kebesaran dan keindahan Tuhan. Dewa Ruci adalah lambang dari hakikat diri dan perjumpaan dengannya disebut musyahadah, penyaksian atas tanda-tanda dari kehadiran Yang Satu.

Uraian tentang hati dan lambang-lambangnya dalam suluk itu merujuk pada uraian Imam al-Ghzali tentang hati dalam Ihya `Ulumuddin III. Menurut Imam al-Ghazali, hati adalah substansi lembut yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah, dan mempunyai hubungan dengan hati jasmani ? segumpal daging bulat panjang di dada kiri manusia. Substansi lembut ini merupakan hakikat manusia yang dapat memahami dan mengenal Tuhan, sebab ia memiliki ilmu untuk itu (Abdul Mujieb 1986:11-2).

Dikatakan pula bahwa hati mempunyai ilmu dan merupakan sasaran perintah dan larangan Tuhan. Ia mempunyai hubungan erat dengan mukasyafah (tersingkapnya penglihatan batin). Ruh manusia yang tidak tampak dan tidak dikenal dengan mata jasmani, hanya dapat diterangkan sebagai badan halus dan substansi halus. Ia memiliki ilmu untuk menangkap segala pengertian dan obyek-obyek. Badan halus bersumber dari rongga hati manusia, yang melalui perantaraan otot-otot dan urat-urat yang beraneka ragam tersebar ke seluruh tubuh. Ia memancarkan sinar kehidupan, menyebabkan munculnya perasaan, pengliihatan, pendengaran dan penciuman. Ia dapat diumpamakan sebagai berkas-berkas sinar memancar dari sebuah lampu yang tersebar ke seluruh sudut ruang dalam rumah.

Hidup ini, kata al-Ghazali, adalah laksana sinar yang tersebar di dinding-dinding rumah jasmani kita, sedangkan ruh merupakan lampunya. Perjalanan ruh dan geraknya dalam batin seseorang, seperti gerak lampu yang memancarkan sinar ke seluruh ruangan dalam rumah dan ada penggeraknya. Adapun yang kedua, yaitu substansi halus dalam diri manusia yang memiliki ilmu, merujuk kepada hati (Ibid 13-4).

Marilah kita bandingkan dengan uraian yang dikemukakan pengarang Serat Cabolek. Sinar gemerlapan yang disebut pramana dan memberikan kehidupan pada tubuh adalah manifestasi (tajalli) Hyang Suksma dalam diri manusia. Hyang Suksma adalah sumber kehidupan dalam arti sebenarnya. Pramana berada dalam tubuh manusia, tetapi tidak nampak dan tidak terpengaruh oleh suka dan duka, sedih dan bahagia, haus dan lapar. Ia merupakan individuasi dari hakikat ketuhanan (Soebardi 1975:50). .

Sangat menarik bahwa substansi halus yang memancarkan sinar gemerlapan itu disebut pramana. Dalam falsafah India, kata-kata pramana digunakan secara intensif oleh para filosof Nyaya dan Vaiseshika dan lazim diartikan sebagai metode, kaedah, pedoman atau cara-cara mencapai ilmu pengetahuan, bukan seseorang atau sesuatu yang memiliki metode atau ilmu. Istilah Sanskrit lain yang mirip dengan kata-kata pramana, ialah prana, yang lazim digunakan oleh para filosof Yoga seperti Patanjali untuk menyebut energi atau daya hidup dalam tubuh manusia yang memiliki sifat ilahiyah.

Sangat mungkin istilah pramana yang digunakan filosof Nyaya dan Vaishesika berubah arti di tangan para mistikus Jawa, atau sangat mungkin pula bahwa kata-kata itu memiliki kaitan dengan istilah prana. Atau mungkin pula para pengarang Jawa termasuk Yasadipura I sengaja menggabungkan pengertian dari dua istilah ini dalam upayanya menarjemahkan gagasan Imam al-Ghazali tentang kalbu sebagai substansi halus dalam tubuh yang bersifat ilahiyah dan memancarkan sinar gemerlapan.

Simbol pramana juga dapat dikaitkan dengan konsep Nur Muhammad dalam tasawuf, yang digambarkan sebagai cahaya berkilauan (Tanoyo 1979). Dalam Dewa Ruci substansi halus ini juga dilukiskan sebagai cahaya gemerlapan. Yasadipura I kemudian menghubungkan pula simbol cahaya ini dengan konsep mukasyifat, yaitu sang pemberi kehidupan. Arti mukasyifat ialah dia yang memberikan kasyf (penglihatan batin yang terang, illuminasi) yang tidak lain adalah Tuhan.. Wakilnya dalam tubuh manusia ialah pramana, yang juga diartikan sebagai substansi yang memberi kehidupan pada tubuh.

Konsep Nur Muhmmad itu dikemukakan mula-mula pada abad ke-8 M oleh Ibn `Ishaq, penulis riwayat hidup Nabi paling awal. Berdasarkan hadis qudsi dikatakan bahwa sebelum alam semesta dicipta, yang dicipta lebih dahulu adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini dicipta dari nur-Nya (Ismail Hamid 1983:29-31; Ali Ahmad dan Si Hajar Che Man 1996:4-10). Tetapi yang pertama kali memperkenalkan symbol ini sebagai symbol konseptual sufi ialah Sahl al-Tustari (w. 896 M). Menurut Tustari, asal-usul Nur Muhammad sebagai esensi penciptaan ialah sekumpulan dzat yang berkilauan di dalam bentuk amud, dan amud ini kemudian berdiri di hadapan Tuhan setelah diciptakan. Pada permulaan kejadiannya itu Nur Muhammad berdiri tegak di hadapan Tuhan selama berjuta-juta tahun sebelum makhluq-makhluq lain dijadikan. Pada waktu alam semesta telah dicipta, kemudian Adam dijadikan dari segumpal tanah sebagai badan jasmaninya dan ke dalamnya dimasukkanlah ruh atau nur, yang disebut Nur
 Muhammad (Bowering 1979:125).

Konsep Nur Muhammad disempurnakan pada abad ke-12 oleh Ibn `Arabi.` Menurutnya Nur Muhammad adalah Cahaya pertama yang keluar dari Hijab Yang Gaib dan muncul dari pengetahuan (`ilm) menuju alam kewujudan yang nyata. Penjelasan yang lebih filosofis dijumpai dalam kitab Misykat al-Anwar (Misykat Cahaya-cahaya). Dengan menggunakan metode hermeneutika atau ta?wil, yaitu bentuk tafsir simbolik sufi, Ibn `Arabi berpendapat bahwa yang dimaksud ?cahaya? (nur) dalam al-Qur?an (ayat atau surat al-Nur) adalah esensi tunggal yang mendasari semua bentuk keberadaan atau wujud di alam semesta ini. Sedangkan kegelapan adalah ketiadaan atau ketakwujudan paling nyata. Jagat raya atau alam semesta dicipta dari kegelapan yang di atasnya Tuhan menaburkan Cahaya-Nya sendiri, dan membuat bagian-bagian dari cahaya itu berbeda sesuai peringkatnya.

Berkaitan dengan ini, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa mata jasmani kita hanya dapat melihat perwujudan lahir dari Cahaya Mutlak itu, sedangkan wujud ruhaninya tidak dapat dilihat. Untuk melihatnya diperlukan bantuan pengetahuan khusus, yaitu makrifat. Dengan makrifat maka penglihatan batin (basha`ir) seseorang akan tersingkap dan hijab yang selama ini merintanginya akan enyah. Pengetahuan khusus ini bersemayam dalam ?kalbu?, sehingga dikatakan bahwa ?dalam kalbu ada jendela untuk melihat Tuhan? (Abdul Hadi W. M. 2001:56-8). Mengenai ini dalam syairnya Hamzah Fansuri menyatakan seperti berikut:

Unggas nuri asalnya cahaya
Diamnya da?im di Kursi Raja
Dari nur-nya lahir fakir dan kaya
Menjadi insan, tuan dan saya

Yang dimaksud ?unggas nuri? dalam syair tersebut ialah ruh manusia, dan asal-usul ruh ialah cahaya. Cahaya ciptaan yang tertinggi ialah Nur Muhammad. Dalam Hikayat Kejadian Nur Muhammad, cahaya terpuji yang disebut Nur Muhammad itu juga digambarkan sebagai ?burung yang cahayanya berkilauan?. Kadang disebut burung pingai, burung nuri, dan unggas nuri. Selanjutnya dinyatakan oleh Hamzah Fansuri dalam syairnya itu bahwa keindahan burung itu memancar dari keindahan Tuhan. Bulunya adalah ?akal semesta? (`aql al-kulliy), kukunya ?kalam kemuliaan? , gurunya Allah Ta`ala, kakinya jalal (kuasa) dan jamal (indah), jari-jarinya nur al-awwal (cahaya pertama), hatinya bernama Law al-mahfudz (lembaran terpelihara), dan setelah tersucikan kalbunya maka ia menjadi jawhar (substansi) dengan safi (suci)-nya.
Penggambaran tentang pramana dalam Dewa Ruci, tidak jauh berbeda dengan penggambaran Imam al-Ghazali dan Hamzah Fansuri. Ini menunjukkan eratnya hubungan teks-teks filsafat mistik Jawa dengan teks-teks filsafat mistik Islam.
 

9. Akhir Kalam

Dari penelitian ini bisa diambil beberapa kesimpulan seperti berikut: Pertama, bahwa empat cakrawala estetik yang melapisi kisah Dewa Ruci dalam Serat Cebolek mencerminkan pandangan hidup, system nilai dan Weltanschauung (gambaran dunia) orang Jawa terepresentasikan dengan baik dalam karya Yasadipura I ini. Pandangan hidup dan gambaran dunia itu didasarkan atas ajaran tasawuf Imam al-Ghazali berkenaan dengan etika dan psikologi sufi, Ibn `Arabi tentang falsafah wujud atau ontologi, yang disinthesakan dengan dasar-dasar mistisisme Jawa sebelum Islam. Inilah aspek bildung dari suluk ini.

Kedua, pemilihan tokoh Bima dan Dewa Ruci sebagai pelaku utama memperlihatkan sensibilitas pengarang dalam membuat pertimbangan praktis, yaitu dengan bertolak dari alasan-alasan kultural. Meskipun agama Islam diterima oleh orang Jawa, namun pada saat yang sama pengarang mengingatkan agar jatidiri dan budaya Jawa lama jangan dibuang. Caranya dengan menghidupkannya seraya memberikan wadah terhadap ajaran agama yang baru dipeluk. Kecuali itu pengarang juga mengenal dengan baik kegemaran orang Jawa pada lakon wayang, sebagai pembentuk ketaksadaran dan kesadaran kolektif mereka.

Ketiga, aspek yang bertalian dengan pertimbangan praktis lain ialah penyampaian kisah Dewa Ruci dalam bingkai cerita sejarah, sedangkan kisah inti tentang perjalanan Bima diambil dari wiracarita atau cerita kepahlawanan (epos). Orang Jawa menyukai peristiwa-peristiwa sejarah yang terkait dengan timbul tenggelamnya kerajaan-kerajaan feudal mereka, konflik-konflik internal yang terjadi. Di samping itu mereka menyukai mistik, dan cerita kepahlawanan.. Penggabungan semua ini dalam Serat Cebolek memperlihatkan kepiawaian Yasadipura I.

Keempat, secara bersama-sama pula semua itu memperlihatkan pengarang Serat Cabolek tahu selera (taste) masyarakatnya. Ketahuannya yang lain diperlihatkan melalui usahanya untuk menyerasikan filsafat mistik Jawa dengan tasawuf Islam, dalam upaya meredakan ketegangan teologis yang mengancam keutuhan budaya Jawa.

Kelima, suatu hal yang tidak pernah dibahas secara mendalam ialah peranan teks-teks Melayu Islam dari Sumatra dalam ikut membentuk pandangan hidup dan etika Jawa yang berdasarkan Islam. Melalui teks-teks Melayu inilah kaum terpelajar Jawa mengenal filsafat mistik dan kebudayaan Islam. Kemiripan tematik karya Yasadipura I dan syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri memperlihatkan hubungan erat kebudayaan Jawa dengan Melayu pada dataran spiritualitas.


Keenam, teks Dewa Ruci sebagai teks sinthesis kebudayaan Jawa dan Islam ditulis bukan tanpa motif politik, apalagi dimasukkan menjadi bagian dari Serat Cabolek, sebuah suluk yang diawali dengan pemaparan perisiwa-peristiwa politik penting di lingkungan kraton Kartasura pada masa pemerintahan Amangkurat IV dan penggantinya Pakubuwana II. Khususnya peristiwa-peristiwa politik yang mau tidak mau melibatkan peranan para ulama pesisir dan pembangkangan para mistikus ortodoks. Bahwa kemudian ternyata kalangan istana digambarkan mampu mengakhiri pertentangan teologis antara dua pihak yang saling bertentangan itu, menunjukkan bahwa teks Dewa Ruci Yasadipura I ditulis bukannya tanpa motif politik tertentu.

Mengenai motif politik penulisan Serat Cabolek, yang di dalamnya kisah Dewa Ruci dijadikan sentral pembahasan, Simuh (1988:33) mengatakan bahwa perkembangan sastra Jawa sejak lama didukung terutama oleh golongan istana. Mereka menganggap politik mempunyai nilai yang lebih tinggi dari agama. Karena itu semua kegiatan sastra dan keagamaan selalu diarahkan untuk mendukung kepentingan politik penguasa. Penerapan masalah agama diselaraskan dengan kepentingan keagamaan. Tasawuf diutamakan karena ia lebih mudah dicerna dan disesuaikan dengan tradisi mistik Jawa. Sedangkan penyelarasan antara tasawuf dan mistisisme Jawa dilakukan untuk meredakan dan mendamaikan konflik antara pendukung syariah dan pemuka ajaran heterodoks, karena sumber-sumber pembangkangan dan krisis politik di Jawa tidak jarang bersumber dari dua kelompok ini.







--- On Tue, 9/23/08, Redaksi Sumbawanews.com <[hidden email]> wrote:

From: Redaksi Sumbawanews.com <[hidden email]>
Subject: #sastra-pembebasan# Diduga, Sejumlah Kepsek Terima Fee Proyek DAK
To: "sastra-pembebasan" <[hidden email]>, "Reformasi Birokrasi" <[hidden email]>, Pembebasan_Papua@yahoogroups..com, "nasionalist" <[hidden email]>, "Mediacare" <[hidden email]>, "kkn watch" <[hidden email]>, [hidden email], [hidden email], [hidden email]
Date: Tuesday, September 23, 2008, 3:35 AM






Diduga, Sejumlah Kepsek Terima Fee Proyek DAK
Ditulis Oleh Sumbawa Post
Senin, 22 September 2008 20:31


TALIWANG, Sumbawanews. com.- Sejumlah oknum Kepala Sekolah (Kepsek) penerima Dana Alokasi Khusus (DAK) diduga menerima fee dari rekanan dalam proyek pengadaan buku. Dari 52 sekolah penerima DAK tersebut, konon kabarnya ada yang menerima fee berkisaan antara 20 hingga 30 persen.

Untuk Kabupaten Sumbawa Barat ditahun 2008 ini, masing-masing sekolah mendapat bantuan sebesar Rp 90 Juta untuk pembelian buku. Sementara ancaman Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikpora) KSB, akan mencopot Kepsek nakal sepertinya tidak diindahkan.

Dalam praktiknya, rekanan memberikan fee kepada sekolah bila produk yang mereka tawarkan dibeli oleh sekolah bersangkutan. Karena banyaknya perusahaan yang menawarkan buku tadi, oknum Kepsek lebih memilih rekanan yang memberikan persentase tertinggi.

Hasil investigasi wartawan yang menyamar sebagai penjual buku menemukan, sejumlah sekolah terlihat tidak ragu-ragu meminta fee. "Kalau prodak yang anda jual fee-nya lebih bagus kami mau membelinya," ujar beberapa oknum kepala sekolah yang berhasil direkam.

Kebanyakan Kepsek tadi meminta fee diatas 25 persen bahkan mencapai 30 persen dari harga total buku. ''Kalau anda tidak berani memberikan jumlah segitu, kami tidak akan membeli produk anda karena rekanan yang berani memberi sampai 30 persen, bahkan lebih,'' ujar oknum Kepsek tadi.

Menurut salah seorang oknum guru yang minta namanya tidak disebutkan mengakui, fee yang diberikan kepada sekolah tidak hanya dinikmati oleh Kepsek tadi, ikut juga dinikmati oleh para guru juga dibagikan kepada oknum KCD dan pejabat dilingkungan Dinas Dikpora.

Temuan lainnya, diwilayah-wilayah tertentu, telah diproteksi oleh rekanan tertentu pula. Rekanan yang baru masuk, akan kesulitan mengajak sekolah untuk bekerjasama.

Mereka ini adalah rekanan yang pernah diajak kerjasama oleh sekolah tahun lalu. Bagi rekanan yang baru masuk, mereka tidak saja melakukan loby ke sekolah tetapi juga diarahkan ke forum komunikasi yang dibentuk para kepala sekolah.

Dari guru tadi diketahui, forum juga ikut andil menentukan rekanan mana akan dipakai sekolah. Tapi apakah forum menerima fee atau tidak, saya tidak tahu pasti,
ujarnya polos. Yang lebih tragis lagi, adanya rekanan yang turun kesekolah dengan membawa-bawa nama oknum pejabat Pemda dan anggota dewan.

Menariknya, ada rekanan yang tahun lalu tidak kebagian jatah dan berteriak lantang dengan melaporkan berbagai dugaan pelanggaran pengadaan buku ini, justru tahun ini terlibat pengadaan.

Sementara itu, sekertaris Dinas Dikpora Abdul Hamid, S.Pd. M.Pd mengakui pihaknya kekurangan data soal adanya praktek fee antara sekolah dan rekanan tadi. Menurutnya, dinas dengan tegas memberikan peringatan kepada Kepsek agar tidak menerima fee.

Dia berjanji akan mencopot setiap Kepsek yang ketahuan menerinma fee dari rekanan. Kepada wartawan Hamid mengatakan, pihaknya tidak pernah mengintervensi ataupun mengarahkan sekolah untuk membeli buku ke rekanan tertentu.

Kata dia, dari 19 rekanan yang terdaftar hanya 16 yang memiliki kelayakan untuk mendistribusikan buku tadi setelah dilakukan seleksi. "Sejak awal kita sudah ingatkan agar tidak menerima fee. Untuk itu kita akan cek apakah buku yang dibelu sudah sesuai spek," ujarnya.

Hamid meminta agar masyarakt ikut melakukan pengawasan terhadap proyek ini, bila ditemukan diminta untuk melaporkan ke dinas Dikpora. "Kami minta agar masyarakt proaktif mengawasi proyek tersebut," pintanya. (cep)

Berita Lainnya..

Senin, 22 September 2008 20:28 Ketua Pansus Dikpora Kecewa Maraknya Fee Proyek DAK Sumbawa Post
Senin, 22 September 2008 20:24 PAC PPP Alas Bagi Bingkisan Lebaran. Sumbawa Post
Senin, 22 September 2008 20:21 Pembangunan Taman kota Empang Rencana Prematur Sumbawa Post
Senin, 22 September 2008 20:19 Pernik Lebaran, Warga Mulai Lakukan Persiapan Lebaran. Sumbawa Post
Senin, 22 September 2008 20:17 Jasaraharja Serahkan Bantuan Sambil Sosialisasi. Sumbawa Post
Senin, 22 September 2008 19:47 Jembatan Rasanggaro Rusak, Kendaraan Terpaksa Cari Jalan Alternatif Sumbawa Post

[Non-text portions of this message have been removed]

 














     

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

_________________________
SASTRA-PEMBEBASAN, wacana sukasamasuka sastrakitakitaYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sastra-pembebasan/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[hidden email]
    mailto:[hidden email]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [hidden email]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Loading...