#sastra-pembebasan# Derita Anak Korban 1965 Oleh: Utji Kowati

classic Classic list List threaded Threaded
2 messages Options
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

#sastra-pembebasan# Derita Anak Korban 1965 Oleh: Utji Kowati

Mira Wijaya Kusuma



Sumber: Perempuan Bergerak | Edisi IV | Oktober - Desember 2012, hal. 10 - 12
http://www.kalyanamitra.or.id/files/bulletin/2012_edisi4.pdf


"... saya teringat cerita rakyat dari Banyuwangi, yakni Menak Jinggo. Menurut orang Bayuwangi, Menak Jinggo adalah pahlawan, tetapi menurut
pemerintah Majapahit dia pemberontak. Saya tidak ingin kalau peristiwa
1965 menjadi cerita dan akhirnya menjadi legenda saja... rekonsiliasi, itu sebenarnya sudah terjadi, karena di dalam masyarakat
sudah tak seperti dulu. Tetapi mungkin rekonsiliasi antara korban dan
pelakunya, yang belum terjadi..."

Derita Anak Korban 1965

Oleh: Utji Kowati

Pengantar

Gerakan 30 September (G30S) atau sering disebut Peristiwa 65 kerap dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI dianggap sebagai pemberontak dan layak untuk dimusnahkan. Dalam peristiwa itu, diperkirakan 500.000 jiwa sampai 3.000.000 jiwa tak bersalah menjadi korban pembantaian. Walaupun hampir 50 tahun peristiwa tersebut berlalu, namun masih menyisahkan tanda tanya besar. Bagaimana sejarah peristiwa tersebut dan siapa yang ada dibalik semua itu? Berbagai kajian terus dilakukan untuk meluruskan sejarah yang terlanjur dibelokan oleh rezim Orde Baru demi kepentingan mereka.

Stigma negatif dilekatkan demikian kuat kepada korban baik oleh negara maupun masyarakat. Dengan itu korban dan keluarganya mengalami diskriminasi berlapis dalam berbagai bidang, misalnya pendidikan dan kesempatan berkarir. Sering mereka menggunakan nama samaran untuk dapat aktif di masyarakat. Hingga kini, korban terus berjuang menuntut keadilan. Namun, apa yang dilakukan negara? Negara seolah-olah menutup mata akan peritiwa tersebut. Angin segar sedikit dirasakan korban ketika Komnas HAM, setelah melakukan penyidikan selama kurang lebih 4 tahun, akhirnya mengolongkan peristiwa 1965 sebagai pelanggaran HAM berat masa lalu.

Komnas HAM mengeluarkan dua rekomendasi untuk menindaklanjuti penanganan peristiwa tersebut.
Pertama, sesuai dengan ketentuan pasal 1 angka 5 juncto Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Jaksa Agung diminta menindaklanjuti hasil penyelidikan itu dengan melakukan penyidikan. Kedua, sesuai dengan ketentuan pasal 47 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM,maka hasil penyelidikan tersebut dapat diselesaikan melalui mekanisme non yudisial demi terpenuhinya rasa keadilan bagi korban dan keluarganya.
Apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi, dan seperti apa korban mengalami diskriminasi, Ibu Utji Kowati, salah satu anak korban peristiwa 1965 menuturkan pengalamannya dalam diskusi lesehan yang diadakan di Kalyanamitra beberapa waktu yang lalu.

Hidup Dalam Keluarga yang Harmonis.
Sebelum tahun 1965, kami hidup dalam keluarga yang harmonis. Saya tak pernah melihat orang tua saya bertengkar dan sebagainya. Waktu itu, bapak saya sebagai Bupati/Kepala Daerah di Cilacap dan ibu saya adalah bidan. Sebelum menjadi Ibu Bupati, ibu saya aktif di Gerwani (Gerakan Wanita), sementara bapak menjadi guru yang sebelumnya juga militer. Sebagai bidan, ibu saya menolong siapa saja. Dalam menolong persalinan, ibu tak pernah memasang tarif. Jadi, kadang-kadang kalau yang ditolong itu petani, dia tidak membayar pakai uang, tetapi apa yang dia punya, misalnya pisang, jagung dan lain sebagainya. Itulah yang dilakukan oleh ibu saya, sepengetahuan saya.

Ketika bapak saya menjadi bupati, ibu saya secara otomatis menjadi ketua Gabungan Organisasi Wanita. Di situ banyak sekali organisasi perempuaan yang setiap bulan berkumpul di kabupaten. Selain ada arisan,ada kegiatan-kegiatan sosial lainya. Saya sebagai anak tidak pernah melihat ada penyimpangan apa pun yang dilakukan oleh ibu dan teman-temannya dan juga organisasi perempuan lainnya. Begitu juga dengan ayah, dia tidak pernah mendidik anak-anaknya untuk menjadi jahat atau sesuatu yang berbeda dengan orang lain. Hal itu tidak terjadi. Kebetulan kami dari keluarga Kristen, setiap minggu kami pergi ke gereja.

Kedua orang tua mendidik kami dengan dasar-dasar kekristenan, dengan cinta kasih sesama manusia.
Ketika saya SD, ibu tidak pernah mengajarkan hal yang tidak baik. Ibu tidak pernah melakukan hal-hal jahat yang bertentangan dengan adat dan agama.
Yang dilakukannya, yakni bersama-sama dengan kaum perempuan di desa membuka kursus pemberantasan buta huruf. Kemudian mendidirikan TK Melati dan koperasi. Jadi, apa yang dilakukan PKK (sebutan saat ini) dan perempuan lainnya itulah yang dilakukan Gerwani saat itu.

Setelah Peristiwa Itu
Terjadi Peristiwa itu terjadi sekitar pertengahan Oktober 1965, di mana terjadi amuk massa. Kami waktu itu tinggal di Kabupaten yang dikelilingi oleh tembok tinggi, di sekitarnya telah dikepung oleh massa. Saya tidak tahu dari mana mereka, yang saya tahu mereka berpakaian hitam-hitam, dan di antara kerumunan massa itu ada yang berbaret merah.

Atas peristiwa itu, bapak dan ibu saya ditahan. Bapak saya pertama ditahan di Melaten, kemudian dipindahkan ke Jogjakarta, lalu dipindah-pindah antara Wirogunan, Ambarawa dan lainnya, hingga Cilacap. Ayah diajukan ke pengadilan dengan vonis 20 tahun penjara. Sementara ibu saya tidak pernah diadili. Dia ditahan selama 7 tahun di Lembaga Permasyarakat Wanita Bulu, Semarang.

Umur saya waktu itu 13 tahun. Ternyata peristiwa itu secara tanpa sadar membuat trauma hingga bertahun-tahun. Tiap ada kerumunan orang dengan pakaian semacam itu, saya akan takut. Hal tersebut saya rasakan selama bertahun-tahun lamanya. Saya punya keberanian untuk berbicara, pertama kali, di Galeri Nasional, tahun 2000. Puji Tuhan, waktu itu saya tidak menangis. Padahal, itu pertama kalinya saya berbicara di depan orang banyak. Saya bersyukur waktu itu bisa menata perasaan saya yang sebelumnya, kalau menceritakan tentang apa yang saya alami, rasanya saya tidak sanggup. Bukan hal mudah untuk saling bertemu, mengungkapkan persaan, karena perlu waktu dan kepercayaan.

Derita sebagai Anak Korban.

Soal penderitaan, hampir semua anak korban 1965,tahun-tahun itu mengalami hal relatif yang sama. Ketika sebagai anak-anak korban bisa bertemu dan bercerita, kami menceritakan derita itu sambil tertawa dan menangis. Kita mempunyai derita yang sama sebagai anak yang harusnya masih ada di tengah-tengah ayah dan ibunya, namun tiba-tiba dipisahkan. Kalau yang beruntung masih mempunyai nenek, diserahkan ke neneknya. Tapi kalau yang tidak beruntung,akan dibagi-bagi. Dan, itu terjadi pada keluarga kami.

Saya memiliki 4 saudara, kakak saya sudah menikah, maka kami bertiga ikut nenek. Itu hanya bisa kami lakukan sampai SMP. Ketika sudah selesai, selanjutnya bagaimana? Sementara itu, kami harus tetap bisa sekolah?

Ketika ayah dan ibu dalam tahanan, mereka berpesan, bahwa seburuk apa pun keadaan kamu, usahakan tetap bisa sekolah. Sehingga waktu lulus SMP, dengan kebingungan kami menawarkan diri kepada saudara. Yang penting, kami bisa sekolah. Kami akan membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Kalau pakai bahasa kasarnya, menjadi pembantu kami jalani asalkan bisa sekolah.

Lulus SMP menjadi masa yang berat. Selain mencari saudara yang bisa menampung, juga harus mencari sekolah yang tepat. Kami tidak bisa masuk SMA, karena tidak bisa langsung bekerja setelah lulus. Maka kami diarahkan masuk ke sekolah kejuruan supaya bisa langsung bekerja. Setelah bekerja, biasanya kami akan menabung untuk bisa kuliah. Itulah yang dialami oleh sebagian besar anak-anak korban.

Stigma Korban
Apa yang terberat bagi kami, anak-anak korban adalah stigma, karena tidak mungkin orang tuanya dihina, dicela dan dimasukkan penjara, anaknya di luar tenang-tenang saja. Kami juga mendapatkan stigma dari masyarakat. Misalnya sepupu saya, dia lahir tahun 1966 di penjara. Ketika berumur 5 tahun, tahu apa?
Tapi ketika dia disuruh ke warung, pulang sudah dianiaya teman-temannya sambil dikata-kata: “...anak PKI...anak PKI...” Sepupu saya sampai sekarang tidak menikah, karena kalau mau menikah dia bilang:
“Aku ini anak PKI!” lalu pacarnya tidak mau dan putus. Menurut saya, itu prinsipnya sebagai perempuan dan sekarang umurnya sudah hampir 50 tahun. Saya menghargai dia. Artinya, dia juga mengalami derita oleh peristiwa itu.

Cerita-cerita itu bukan hanya dialami saya dan keluarga, namun banyak. Bukan hanya ribuan, namun jutaan anak korban. Peristiwa ini mengakibatkan pembataian yang luar biasa. Peristiwa itu tanggal 30 September 1965 dan setelah 1 Oktober 1965, karena memang pembantaian, pengrusakan, pemerkosaan terjadi setelah Oktober 1965. Sebagai anak yang sudah remaja waktu itu, saya merasa ngeri kalau melihat penghancuran terhadap kaum perempuan. Di semua tempat, termasuk juga di Cilacap, cerita-cerita yang menyeramkan itu terjadi di sekeliling saya.

Harapan
Saya sepakat, bahwa harus ada pelurusan sejarah.Sudah terjadi peristiwa yang mengakibatkan sekian juta orang terbunuh, dan banyak kaum perempuan dan anak yang mengalami kehilangan masa-masa indah mereka. Saya meminta supaya ini bisa ditulis didalam buku sejarah supaya peristiwa 1965 tidak menjadi legenda, karena peristiwa itu benar-benar terjadi.

Kalau itu menjadi sebuah legenda, saya teringat cerita rakyat dari Banyuwangi, yakni Menak Jinggo. Menurut orang Bayuwangi, Menak Jinggo adalah pahlawan, tetapi menurut pemerintah Majapahit dia pemberontak. Saya tidak ingin kalau peristiwa 1965 menjadi cerita dan akhirnya menjadi legenda saja.

Harapan saya sebagai anak korban 1965, kalau soal kompensasi mungkin jauh. Kami tidak berpikir tentang itu. Saya sering dikritik oleh korban-korban lainnya, mengapa tidak setuju dengan kompensasi? Karena kadang-kadang, kalau saya berbicara soal kompensasi, seakan-akan saya menjual penderitaan.

Jadi, saya tidak mau berbicara mengenai kompensasi, melainkan yang saya harapkan ada rehabilitasi untuk korban peristiwa 1965. Kalau rekonsiliasi, itu sebenarnya sudah terjadi, karena di dalam masyarakat sudah tak seperti dulu. Tetapi mungkin rekonsiliasi antara korban dan pelakunya, yang belum terjadi. Itu yang akan menjadi tugas kita bersama. Artinya, korban juga harus bisa berkerja sama dengan LSM dan lainnya. *****

[Non-text portions of this message have been removed]

Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

#sastra-pembebasan# Re: Derita Anak Korban 1965 Oleh: Utji Kowati

heri latief-3
Sejarah yg terluka jangan dilupakan.

Salam, hl

Sent from my BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: MiRa <[hidden email]>
Sender: [hidden email]
Date: Tue, 18 Dec 2012 05:18:29
To: sastra pembebasan<[hidden email]>
Reply-To: [hidden email]
Subject: #sastra-pembebasan# Derita Anak Korban 1965   Oleh: Utji Kowati




Sumber: Perempuan Bergerak | Edisi IV | Oktober - Desember 2012, hal. 10 - 12
http://www.kalyanamitra.or.id/files/bulletin/2012_edisi4.pdf


"... saya teringat cerita rakyat dari Banyuwangi, yakni Menak Jinggo. Menurut orang Bayuwangi, Menak Jinggo adalah pahlawan, tetapi menurut
pemerintah Majapahit dia pemberontak. Saya tidak ingin kalau peristiwa
1965 menjadi cerita dan akhirnya menjadi legenda saja... rekonsiliasi, itu sebenarnya sudah terjadi, karena di dalam masyarakat
sudah tak seperti dulu. Tetapi mungkin rekonsiliasi antara korban dan
pelakunya, yang belum terjadi..."

Derita Anak Korban 1965

Oleh: Utji Kowati

Pengantar

Gerakan 30 September (G30S) atau sering disebut Peristiwa 65 kerap dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI dianggap sebagai pemberontak dan layak untuk dimusnahkan. Dalam peristiwa itu, diperkirakan 500.000 jiwa sampai 3.000.000 jiwa tak bersalah menjadi korban pembantaian. Walaupun hampir 50 tahun peristiwa tersebut berlalu, namun masih menyisahkan tanda tanya besar. Bagaimana sejarah peristiwa tersebut dan siapa yang ada dibalik semua itu? Berbagai kajian terus dilakukan untuk meluruskan sejarah yang terlanjur dibelokan oleh rezim Orde Baru demi kepentingan mereka.

Stigma negatif dilekatkan demikian kuat kepada korban baik oleh negara maupun masyarakat. Dengan itu korban dan keluarganya mengalami diskriminasi berlapis dalam berbagai bidang, misalnya pendidikan dan kesempatan berkarir. Sering mereka menggunakan nama samaran untuk dapat aktif di masyarakat. Hingga kini, korban terus berjuang menuntut keadilan. Namun, apa yang dilakukan negara? Negara seolah-olah menutup mata akan peritiwa tersebut. Angin segar sedikit dirasakan korban ketika Komnas HAM, setelah melakukan penyidikan selama kurang lebih 4 tahun, akhirnya mengolongkan peristiwa 1965 sebagai pelanggaran HAM berat masa lalu.

Komnas HAM mengeluarkan dua rekomendasi untuk menindaklanjuti penanganan peristiwa tersebut.
Pertama, sesuai dengan ketentuan pasal 1 angka 5 juncto Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Jaksa Agung diminta menindaklanjuti hasil penyelidikan itu dengan melakukan penyidikan. Kedua, sesuai dengan ketentuan pasal 47 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM,maka hasil penyelidikan tersebut dapat diselesaikan melalui mekanisme non yudisial demi terpenuhinya rasa keadilan bagi korban dan keluarganya.
Apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi, dan seperti apa korban mengalami diskriminasi, Ibu Utji Kowati, salah satu anak korban peristiwa 1965 menuturkan pengalamannya dalam diskusi lesehan yang diadakan di Kalyanamitra beberapa waktu yang lalu.

Hidup Dalam Keluarga yang Harmonis.
Sebelum tahun 1965, kami hidup dalam keluarga yang harmonis. Saya tak pernah melihat orang tua saya bertengkar dan sebagainya. Waktu itu, bapak saya sebagai Bupati/Kepala Daerah di Cilacap dan ibu saya adalah bidan. Sebelum menjadi Ibu Bupati, ibu saya aktif di Gerwani (Gerakan Wanita), sementara bapak menjadi guru yang sebelumnya juga militer. Sebagai bidan, ibu saya menolong siapa saja. Dalam menolong persalinan, ibu tak pernah memasang tarif. Jadi, kadang-kadang kalau yang ditolong itu petani, dia tidak membayar pakai uang, tetapi apa yang dia punya, misalnya pisang, jagung dan lain sebagainya. Itulah yang dilakukan oleh ibu saya, sepengetahuan saya.

Ketika bapak saya menjadi bupati, ibu saya secara otomatis menjadi ketua Gabungan Organisasi Wanita. Di situ banyak sekali organisasi perempuaan yang setiap bulan berkumpul di kabupaten. Selain ada arisan,ada kegiatan-kegiatan sosial lainya. Saya sebagai anak tidak pernah melihat ada penyimpangan apa pun yang dilakukan oleh ibu dan teman-temannya dan juga organisasi perempuan lainnya. Begitu juga dengan ayah, dia tidak pernah mendidik anak-anaknya untuk menjadi jahat atau sesuatu yang berbeda dengan orang lain. Hal itu tidak terjadi. Kebetulan kami dari keluarga Kristen, setiap minggu kami pergi ke gereja.

Kedua orang tua mendidik kami dengan dasar-dasar kekristenan, dengan cinta kasih sesama manusia.
Ketika saya SD, ibu tidak pernah mengajarkan hal yang tidak baik. Ibu tidak pernah melakukan hal-hal jahat yang bertentangan dengan adat dan agama.
Yang dilakukannya, yakni bersama-sama dengan kaum perempuan di desa membuka kursus pemberantasan buta huruf. Kemudian mendidirikan TK Melati dan koperasi. Jadi, apa yang dilakukan PKK (sebutan saat ini) dan perempuan lainnya itulah yang dilakukan Gerwani saat itu.

Setelah Peristiwa Itu
Terjadi Peristiwa itu terjadi sekitar pertengahan Oktober 1965, di mana terjadi amuk massa. Kami waktu itu tinggal di Kabupaten yang dikelilingi oleh tembok tinggi, di sekitarnya telah dikepung oleh massa. Saya tidak tahu dari mana mereka, yang saya tahu mereka berpakaian hitam-hitam, dan di antara kerumunan massa itu ada yang berbaret merah.

Atas peristiwa itu, bapak dan ibu saya ditahan. Bapak saya pertama ditahan di Melaten, kemudian dipindahkan ke Jogjakarta, lalu dipindah-pindah antara Wirogunan, Ambarawa dan lainnya, hingga Cilacap. Ayah diajukan ke pengadilan dengan vonis 20 tahun penjara. Sementara ibu saya tidak pernah diadili. Dia ditahan selama 7 tahun di Lembaga Permasyarakat Wanita Bulu, Semarang.

Umur saya waktu itu 13 tahun. Ternyata peristiwa itu secara tanpa sadar membuat trauma hingga bertahun-tahun. Tiap ada kerumunan orang dengan pakaian semacam itu, saya akan takut. Hal tersebut saya rasakan selama bertahun-tahun lamanya. Saya punya keberanian untuk berbicara, pertama kali, di Galeri Nasional, tahun 2000. Puji Tuhan, waktu itu saya tidak menangis. Padahal, itu pertama kalinya saya berbicara di depan orang banyak. Saya bersyukur waktu itu bisa menata perasaan saya yang sebelumnya, kalau menceritakan tentang apa yang saya alami, rasanya saya tidak sanggup. Bukan hal mudah untuk saling bertemu, mengungkapkan persaan, karena perlu waktu dan kepercayaan.

Derita sebagai Anak Korban.

Soal penderitaan, hampir semua anak korban 1965,tahun-tahun itu mengalami hal relatif yang sama. Ketika sebagai anak-anak korban bisa bertemu dan bercerita, kami menceritakan derita itu sambil tertawa dan menangis. Kita mempunyai derita yang sama sebagai anak yang harusnya masih ada di tengah-tengah ayah dan ibunya, namun tiba-tiba dipisahkan. Kalau yang beruntung masih mempunyai nenek, diserahkan ke neneknya. Tapi kalau yang tidak beruntung,akan dibagi-bagi. Dan, itu terjadi pada keluarga kami.

Saya memiliki 4 saudara, kakak saya sudah menikah, maka kami bertiga ikut nenek. Itu hanya bisa kami lakukan sampai SMP. Ketika sudah selesai, selanjutnya bagaimana? Sementara itu, kami harus tetap bisa sekolah?

Ketika ayah dan ibu dalam tahanan, mereka berpesan, bahwa seburuk apa pun keadaan kamu, usahakan tetap bisa sekolah. Sehingga waktu lulus SMP, dengan kebingungan kami menawarkan diri kepada saudara. Yang penting, kami bisa sekolah. Kami akan membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Kalau pakai bahasa kasarnya, menjadi pembantu kami jalani asalkan bisa sekolah.

Lulus SMP menjadi masa yang berat. Selain mencari saudara yang bisa menampung, juga harus mencari sekolah yang tepat. Kami tidak bisa masuk SMA, karena tidak bisa langsung bekerja setelah lulus. Maka kami diarahkan masuk ke sekolah kejuruan supaya bisa langsung bekerja. Setelah bekerja, biasanya kami akan menabung untuk bisa kuliah. Itulah yang dialami oleh sebagian besar anak-anak korban.

Stigma Korban
Apa yang terberat bagi kami, anak-anak korban adalah stigma, karena tidak mungkin orang tuanya dihina, dicela dan dimasukkan penjara, anaknya di luar tenang-tenang saja. Kami juga mendapatkan stigma dari masyarakat. Misalnya sepupu saya, dia lahir tahun 1966 di penjara. Ketika berumur 5 tahun, tahu apa?
Tapi ketika dia disuruh ke warung, pulang sudah dianiaya teman-temannya sambil dikata-kata: “...anak PKI...anak PKI...” Sepupu saya sampai sekarang tidak menikah, karena kalau mau menikah dia bilang:
“Aku ini anak PKI!” lalu pacarnya tidak mau dan putus. Menurut saya, itu prinsipnya sebagai perempuan dan sekarang umurnya sudah hampir 50 tahun. Saya menghargai dia. Artinya, dia juga mengalami derita oleh peristiwa itu.

Cerita-cerita itu bukan hanya dialami saya dan keluarga, namun banyak. Bukan hanya ribuan, namun jutaan anak korban. Peristiwa ini mengakibatkan pembataian yang luar biasa. Peristiwa itu tanggal 30 September 1965 dan setelah 1 Oktober 1965, karena memang pembantaian, pengrusakan, pemerkosaan terjadi setelah Oktober 1965. Sebagai anak yang sudah remaja waktu itu, saya merasa ngeri kalau melihat penghancuran terhadap kaum perempuan. Di semua tempat, termasuk juga di Cilacap, cerita-cerita yang menyeramkan itu terjadi di sekeliling saya.

Harapan
Saya sepakat, bahwa harus ada pelurusan sejarah.Sudah terjadi peristiwa yang mengakibatkan sekian juta orang terbunuh, dan banyak kaum perempuan dan anak yang mengalami kehilangan masa-masa indah mereka. Saya meminta supaya ini bisa ditulis didalam buku sejarah supaya peristiwa 1965 tidak menjadi legenda, karena peristiwa itu benar-benar terjadi.

Kalau itu menjadi sebuah legenda, saya teringat cerita rakyat dari Banyuwangi, yakni Menak Jinggo. Menurut orang Bayuwangi, Menak Jinggo adalah pahlawan, tetapi menurut pemerintah Majapahit dia pemberontak. Saya tidak ingin kalau peristiwa 1965 menjadi cerita dan akhirnya menjadi legenda saja.

Harapan saya sebagai anak korban 1965, kalau soal kompensasi mungkin jauh. Kami tidak berpikir tentang itu. Saya sering dikritik oleh korban-korban lainnya, mengapa tidak setuju dengan kompensasi? Karena kadang-kadang, kalau saya berbicara soal kompensasi, seakan-akan saya menjual penderitaan.

Jadi, saya tidak mau berbicara mengenai kompensasi, melainkan yang saya harapkan ada rehabilitasi untuk korban peristiwa 1965. Kalau rekonsiliasi, itu sebenarnya sudah terjadi, karena di dalam masyarakat sudah tak seperti dulu. Tetapi mungkin rekonsiliasi antara korban dan pelakunya, yang belum terjadi. Itu yang akan menjadi tugas kita bersama. Artinya, korban juga harus bisa berkerja sama dengan LSM dan lainnya. *****

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Loading...